Koperasi M3 Bangun Tambak Bersama BUMN

  • Whatsapp
Koperasi M3 Bangun Tambak Bersama BUMN

sulbarexpress.fajar.co.id, POLEWALI – Koperasi Mina Mitra Mandiri (M3) kini merintis usahanya di sektor perikanan daerah khususnya di bidang tambak udang vaname dan ikan bandeng. Koperasi yang didirikan putra pribumi kelahiran Polewali, Hamzah ini sebelumnya telah menggeluti usaha peternakan ayam potong, pengembangan komoditi jagung, transportasi, serta travel umrah.

Tahap pertama dalam mengelola usaha tambak, koperasi M3 bersinergi dengan dua BUMN yakni Perum Perikanan Indonesia (Perindo) dan PT. Bukit Asam selaku pemodal yang merupakan satu satunya BUMN di Indonesia yang bergerak di bidang tambang batu bara di Sumatera Selatan (Sumsel).

Dasriah Djamaluddin sekertaris koperasi M3 mengatakan pihaknya selama ini telah membangun pola kemitraan bersama pemilik tambak.

“Setelah bersosialisasi dengan petambak, kita kemudian bekerjasama dengan kedua BUMN ini, untuk mengembangkan usaha tambak udang vaname masyarakat seluas 800 hektare, di Desa Panyampa dan Buku Kecamatan Campalagian serta Barane, Majene,” tuturnya, Minggu 21 Mei.

Sementara itu, Agung perwakilan Perum Perindo saat ditemui usai bersosialisasi bersama pemilik tambak di Desa Panyampa menjelaskan Perindo sebagai perusahaan negara mempunyai visi bersama-sama membangun masyarakat perikanan baik nelayan maupun petambak.

“Tugas kami mempermudah dan membantu masyarakat perikanan memperlancar usahanya, dengan bermitra dengan koperasi M3 dan BUMN PT. Bukit Asam, modal usaha akan kita akan pinjami dengan bunga ringan dengan syarat yang tidak susah,” jelasnya.
Hendri, perwakilan PT. Bukit Asam mengungkapkan sesuai intruksi Presiden Jokowi agar selalu bersinergi antar sesama BUMN, selaku pemilik modal pihaknya siap membantu mensukseskan program Perum Perindo.

“Kami memberikan bantuan dana bergulir ke masyarakat nelayan, kalau soal syarat dan teknisnya, kita serahkan ke Perindo sebagai ahlinya,” ujarnya.

Muh Fakhruddin salah satu pemilik tambak bandeng dan udang vaname di Desa Panyampa menuturkan mayoritas dari 20 hektar lahan tambaknya ialah tambak ikan bandeng, sementara untuk budidaya udang vaname disisakan hanya dua setengah hektare karena udang vaname sangat sensitif dan mudah mati jika berlawanan alam.

“Karena vaname ini termasuk udang manja. kalau kondisi air berubah atau hujan gerimis, vaname banyak yang mati, kecuali kalau kita budidayanya sistem intensif menggunakan kincir hidrolik, inilah yang kita perlukan saat ini bantuan kincirnya,” tandasnya. (ali/sol)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *