Benahi Kawasan Pesisir, Pemkab Rancang Water Front City

  • Whatsapp
Benahi Kawasan Pesisir, Pemkab Rancang Water Front City
Jpeg

sulbarexpress.fajar.co.id, MAJENE – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Majene, mulai merancang untuk menata perkotaan Majene, khususnya di wilayah Pesisir yang masih berupa kawasan pemukiman tradisional dan tampak kumuh.

Pemkab Majene, akan membangun Water front city di pesisir yang secara fisik alamnya berada dekat dengan air yang mencakup pantai Kecamatan Banggae dan Banggae Timur, dengan pembangunan terbagi atas beberapa segmen.

Bacaan Lainnya

“Waterfront City ini merupakan pengembangan pembangunan wajah kota berorientasi ke perairan tipe konservasi dan pembangunan kembali,” tutur Yusuf Konsultan Mega Proyek dalam rapat di Kantor Bappeda Majene, Rabu 10 Mei.

Yusuf menuturkan, pembangunan segmen pertama terdiri dari pesisir pantai Lingkungan Pangaliali-Cilallang dengan luasan pengerjaan 6,5 hektar dan panjang 1,5 km. Untuk segmen kedua berada di Lingkungan Labuang-Parappe dengan luas 3,3 hektar dengan panjang 2,3 km.

Sementara segmen ketiga lanjutnya, berada di Lingkungan Lembang-Baurung hingga kawasan Dato dengan luas 4,7 hektar dan panjang 1,3 Km. Total pengerjaan sekira 14 hektare dengan panjang 8,8 km.

“Pada segmen pertama kita akan buat anjungan dengan pintu gerbang yang terletak disekitar taman kota, yang nantinya akan terdapat Masjid apung, taman bunga, taman bermain anak dan sebuah museum,” beber Yusuf.

Yusuf menjelasakan, akan dijadikan revitalisasi yang terdiri dari kawasan water city center (Plaza), mikrobisnis (kaki lima), kawasan pejalan kaki, kawasan nelayan terpadu dan kawasan pemukiman.

“Jadi taman kota akan ditambah panjangnya sekira 100 meter menjolok ke laut dan ada pelebaran jalan nantinya untuk memperlancar akses keluar masuk,” ujarnya.

Rancangan tersebut kata Yusuf, bertujuan agar penataan area taman kota dapat lebih fungsional. Sehingga, terwujud fungsi ruang publik yang rekreasional, kuliner dan budaya untuk segala umur.

Segmen kedua, akan dilakukan penataan kawasan lingkungan dan ruang publik di Labuang-Parappe dengan meliputi, penataan jalan, pendestrian, penataan perahu rakyat, penataan ruang publik (Taman Anjungan) dan penataan lokasi start Sandeq race.

“Penataan start sandeq race ini, akan dibuat lebih besar dan menarik dari bangunan sebelumnya. Sedangkan untuk tempat berlabu perahu rakyat akan dibuatkan dermaga rakyat agar lebih teratur dan bersih. Dermaga ini juga berfungsi sebagai ruang publik dan direncanakan membuat kawasan wisata,” jelasnya.

sementara segmen ketiga yang berada di Lingkungan Lembang-Baurung hingga kawasan wisata Dato, akan dijadikan kawasan pariwisata terpadu, diantaranya wisata pantai, kawasan peristirahatan dan rekreasi, cottage dan restoran, pusat acara kebudayaan, wisata selam, wisata edukasi trasplantasi karang dan resort hotel.

Lebih jauh Yusuf menjelaskan, bahwa perspektif pembangunan kawasan wisata Dato, meliputi sebuah Plaza di atas tebing dengan parkiran yang lebih tertata, sebuah dermaga yang dapat di akses dengan tangga yang menarik. Selain itu, terdapat juga spot untuk memandangi lautan lepas di sekitar Dato.

“Beberapa item pada segmen ini, direncanakan pembangunannya pada tahun ini. namun secara keseluruhan pengembangannya bisa menambah PAD (Pendapatan Asli Daerah) nantinya,” kata Yusuf.

Ia menyebut, rencana mega proyek telah bersinergi dengan beberapa pihak terkait, yakni RP2KPKP, RDTR kawasan, RTRW Kabupaten, RPJMD, RTRW Provinsi dan RZWP3K Provinsi.

“Untuk strategi pembiayaan direncanakan bersumber dari investor, masyarakat, APBD dan APBN lintas sektoral atau kementerian,” sebut Yusuf.

Menurut dia, rancangan tersebut, akan dapat dicapai dengan cara penetapan kebijakan daerah terhadap program pengembangan Majene water front city untuk memperoleh kepastian yang dapat menjamin keamanan investor, menginformasikan program prioritas water front city dalam setiap rapat anggaran lintas sektor dan menyebarluaskan program ke ruang publik melalui berbagai media.

Selain untuk menata kawasan pesisir, pembangunan Majene water front city juga memiliki manfaat karena pesisir Kota Majene berada di lokasi rawan bencana, seperti gelombang pasang, abrasi dan tsunami.

“Sebelum kita melakukan pembangunan kawasan Majene water front city ini, sebelumnya akan dilakukan pengkajian lebih jauh, agar nantinya diketahui masalah dan potensi yang dikemukakan masyarakat disekitar perencanaan pembangunan,” tandasnya.

Hadir dalam kesempatan ini, Bupati Majene Fahmi Massiara, para Muspida, para Lurah dan kepala lingkungan dan masyarakat nelayan.(hfd/smd)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *