70 Hektare Sawah Gagal Panen

  • Whatsapp
70 Hektare Sawah Gagal Panen

sulbarexpress.fajar.co.id, POLEWALI – Hama tikus menyerang persawahan warga di Desa Tonrolima Kecamatan Matakali. Akibatnya 70 hektare sawah gagal panen.

Titik yang menjadi pusat serangan hama tikus berada di Dusun Aka-aka, Bulung, dan Labasang. Sawah terpaksa harus dipanen awal (panen jerami) karena usia padi baru satu bulan disebabkan terserang hama tikus.

Bacaan Lainnya

Petani mengaku mengalami kerugian sampai ratusan juta rupiah. Bahkan disebutkan, petani tersebut sudah tiga kali gagal panen.

Ketua Kelompok Tani Cinta Damai I Desa Tonrolima, Thamrin menuturkan selain hama tikus, gagal panen juga disebabkan sarana irigasi yang belum memadai.

“Bagaimana mau turun sawah kalau tidak ada air, akhirnya petani pastilah gagal panen,” ungkapnya.

Ia mengaku air hanya mengalir beberapa hari lalu tersendat lagi karena irigasi sementara dalam tahap pengerjaan. “Umur padi baru satu bulan sudah kuning akibat serangan hama tikus, 70 puluh hektare sawah sudah dipastikan gagal panen akibat serangan hama dan terpaksa dipotong untuk dijadikan makanan ternak sapi,” tutur Thamrin.

Ia juga menolak disalahkan oleh Dinas Pertanian karena tidak mematuhi pola tanam yang diinstruksikan. Menurutnya, para petani dirundung dilema bila mengikuti pola tanam seragam.
“Kalau pola tanam seragam, sama kalau kita permainkan harga pedagang gabah saat panen, jadi Dinas Pertanian jangan seenaknya menyalahkan petani kalau tidak tahu gimana kondisi lapangan,” imbuh Thamrin.

Selain itu, kata dia, di Dusun Labasang aliran irigasi Sekka-sekka paling ujung dan melalui berapa desa dulu baru sampai di Kandang.

“Sudah jelas petani yang posisinya berada sebelah di atas pasti tahan air. Nanti mereka selesai tanam baru air dilepas, jadi bagaimana air mengalir ke area persawahan di Labasang dan pasti akan terlambat dan diserang hama,” terang Thamrin.

Kepala Seksi Penyuluh Dinas Pertanian Dinas Pertanian Polman Andi Baso mengaku telah melakukan penyuluhan keseluruh kelompok tani. Selain itu penyuluh telah berkunjung kepada kelompok tani secara rutin dan bergantian untuk memberikan bimbingan.

“Hal itu dilakukan untuk memberi pemahaman kepada petani tentang jadwal pola tanam yang baik dan teratur,” ujarnya.

Ia menegaskan, sebelum petani turun sawah, mereka sudah diberi petunjuk dengan rapat pendahuluan, namun beberapa kelompok tani masih melanggar. Didampingi koordinator penyuluh, ia menyebut kesalahan itu dari petani sendiri khususnya yang berada di daerah Tumpiling.

“Semestinya petani mematuhi pola tanam, jangan melanggar,” tandas Andi Baso. (ali/sol)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *