Marunnia Butuh Uluran Tangan

  • Whatsapp
Marunnia Butuh Uluran Tangan

sulbarexpress.fajar.co.id, POLEWALI – Seorang ibu paruh baya, Marunnia (50) meringis kesakitan menanti perhatian pemerintah. Janda satu anak ini tinggal di rumah warisan suaminya yang telah meninggal sejak enam tahun lalu, di lingkungan Barugae, Kelurahan Manding, Kecamatan Polewali.

Saat ditemui, Marunnia bertutur, sejak dua tahun terakhir dirinya tak mampu berbuat apa-apa selain menunggu hilir bergantinya hari. Ia hanya duduk didampingi anaknya yang juga menderita keterbelakangan mental.

Marunnia mengaku menderita penyakit diabetes akut sejak lima tahun lalu sehingga tidak mampu menggerakkan kaki sebelah kirinya. Parahnya lagi, kaki sebelah kanan yang menjadi tumpuannya, juga mengalami sakit sejak terjatuh dua tahun lalu.

“Tidak bisa banyak bergerak. Untuk ke WC saja saya harus dibopong oleh anak saya Kasman,” kata Marunnia, Senin 31 Juli.

Meski demikian, Ibu yang kesehariannya sebagai penjual pisang di pasar saat masih sehat itu merasa beruntung karena masih memiliki putra semata wayang yang membantunya. Mulai dari memasak hingga keperluan MCK, Kasman (26) putra satu-satunya Marunnia inilah yang membantu dirinya meski diketahui putranya itu mengidap penyakit ketebelakangan mental.

“Anak saya itu sudah menderita penyakit itu sejak lahir. Sehingga dia kesulitan untuk mencari nafkah. Sehingga saya hanya hidup dari belas kasihan tetangga untuk makanan sehari-hari. Hanya bantuan tetangga saja, mereka datang bergantian membantu,” ujar Marunnia.

Meski mendapat bantuan beras raskin dari pemerintah, namun beras itu juga ditebus oleh orang lain. Anaknya Kasman, kadang diajak oleh tetangga untuk membantu bila ada pekerjaan kemudian diupah seadanya sebagai belas kasih.

“Bagaimana mau kerja, itu anak Marunnia idiot kasian,” tutur Abdullah tetangga Marunnia.

Kata Abddullah, seharusnya pemerintah peka terhadap kondisi sosial masyarakatnya, apalagi ia tinggal tidak jauh dari kantor bupati. “Marunnia inikan tinggal dalam kota, hanya satu kilo meter saja jaraknya dari kantor bupati, masa tidak pernah pemerintah cek kondisi warganya,” tandas Abdullah.

Menurutnya, warga seperti Marunnia wajib mendapat perhatian serius dari pemerintah, sebab tidak ada lagi orang yang bisa mengurusi.

“Seperti itu banyak yang tanyakan BPJS-nya, mana bisa ada kartu begitunya, jalannya saja dia tidak sanggup, siapa yang mau urus. Disinilah perannya pemerintah harus tahu kondisi warganya, karena ini kota, bukan hutan rimba,” tutur Abdullah.

Sementara itu, tetangganya yang lain, More mengatakan bantuan bedah rumah juga pernah didapatkan. Namun tidak sesuai dengan harapan, sebab tidak menyelesaikan persoalan.

“Terlihat di rumah yang ditinggali Marunnia masih banyak yang patut dibenahi seperti tiang dan dinding hampir roboh. bahkan kalau hujan rumah Marunnia kebanjiran,” terangnya.

Dikonfirmasi terpisah, Lurah Manding Tanawali menjelaskan pihaknya selalu mengurusi kondisi kesehatan dan kesejahteraan Marunnia. Namun kendalanya lantaran tidak ada satupun kerabat atau keluarga Marunnia mau mendampinginya.

“Kami dari kelurahan rutin mengecek kondisi Marunnia, bahkan saya pernah buat sayembara siapa pun orang yang ingin mengurusi Marunnia dengan tinggal bersamanya saya kasih uang sebesar Rp10 juta per dua tahun,” kata Tanawali. (ali/sol)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *