Sekolah Terapkan Full Day School, Siswa Mengaku tak Terbebani

  • Whatsapp
Sekolah Terapkan Full Day School, Siswa Mengaku tak Terbebani

sulbarexpress.fajar.co.id, MAMUJU – Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) tentang sekolah 8 jam dalam 5 hari (full day school) mulai diterapkan di Mamuju. Sejumlah sekolah di ibukota Sulbar menerapkan kebijakan ini.

Dari hasil wawancara dengan beberapa siswa yang sekolahnya menerapkan full day school, sebagian besar mereka mengaku tak terbebani dengan sistem pendidikan yang baru diterapkan ini. Bahkan mereka terlihat rileks berada di sekolah sejak pagi hingga sore hari.

Bacaan Lainnya

Salah satunya Asriani (14), siswi kelas IX SMP Negeri 2 Mamuju ini mengungkapkan tidak merasa bosan dengan pelajaran yang disajikan. Ia juga tidak terbebani dengan mata pelajaran.

“Tidak bosan. Dari mata pelajaran setiap harinya ada tiga dan juga empat mata pelajaran, satu mata pelajaran durasinya tiga jam dan juga ada tambahan ekstra kulikuler setiap harinya usai pelajaran reguler,” aku Asriani.

Sekolah Terapkan Full Day School, Siswa Mengaku tak Terbebani
MATERI PMR. Siswa SMPN 2 Mamuju mengisi waktu istirahat dengan kegiatan palang merang remaja (PMR), Senin 31 Juli 2017.

Mengenai makan siang yang terpaksa harus dilakukan di sekolah, ia mengatakan bahwa telah diberikan instruksi khusus oleh para guru untuk membawa bekal dari rumah.

“Disuruh sama guru bawa bekal dari rumah karena sore baru bisa pulang. Bisa juga menghemat uang jajan karena sudah ada bekal,” ungkapnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh siswi kelas XI MIPA 2 SMA Negeri 1 Mamuju, Puty Welga Monara (16). Menurutnya kebosanan dalam mengikuti mata pelajaran tergantung dari guru yang menyajikan.

“Tergantung gurunya, bagaimana menyajikannya, terkadang juga dapat guru yang pembawaannya membosankan. Kalau untuk kami sesuai jadwal setiap harinya ada empat sampai lima mata pelajaran dengan durasi dua jam permata pelajaran,” ungkap Puty.

Ia juga mengungkapkan bahwa lebih nyaman dengan full day school, sebab sudah tidak ada lagi tugas yang harus diselesaikan di rumah. “Lebih enak sekarang, selain cuma lima hari sekolah, juga tidak ada PR yang diberikan, semuanya di selesaikan di sekolah. Ditambah libur juga lama, hingga dua hari,” ungkapnya.

Keluhan Pengusaha Kantin

Kebijakan full day school yang diterapkan sekolah berimbas secara langsung pada pendapatan pengusaha kantin sekolah. Awalnya kebijakan ini dianggap akan memberikan angin segar pada pengusaha kantin, sebab pelajar berada di sekolah sejak pagi hingga sore.

Namun hal tersebut bertolak belakang dengan harapan sebagian pengusaha kantin sekolah, sebab kebanyakan siswa memilih untuk membawa bekal dari rumah untuk disantap pada jam makan siang.

Seperti yang diungkapkan Dini (48), pengusaha kantin yang menjajakan nasi kuning di sekitar SMP Negri 2 Mamuju tersebut mengaku saat penerapan full day school omset penjualannya justru menurun.

“Kurang pak, kalau hari-hari kemarin banyak yang datang sekarang anak-anak pada bawa bekal dari rumahnya. Jarang yang datang untuk makan di sini. Itupun yang datang ke sini hanya makan cemilan,” ungkap Dini.

Hal berbeda diungkapkan Rasyidin (47), pengusaha kantin yang menjajakan makanan ringan dan kue-kue tersebut mengatakan ada peningkatan omset namun tidak terlalu besar.

“Alhamdulillah ada peningkatan namun tidak seberapa, karena anak-anak cenderung bawa bekal sehingga yang kemari hanya mencari minuman dingin dan cemilan,” ungkap Rasyidin.

Terpisah, Mega (35) pengusaha kantin di SMA Negeri 1 Mamuju mengungkapkan hari pertama full day school berdampak pada penghasilannya. Hari pertama penerapan sistem tersebut, kantin yang dikelolanya sepi pengunjung.

“Kurang hari ini anak-anak kemari pak. Katanya banyak yang bawa bekal, kalau hari-hari sebelumnya di sini biasanya ramai jika jam-jam istirahat,” ungkapnya.

Namun Mega tetap optimis dengan usaha yang dijalankannya tersebut akan meraup untung dikemudian hari. Alasanya menurut pengalaman, siswa-siswa sekarang cepat bosan dengan makanan rumahan.

“Mungkin tiga hari kedepan sudah jarang yang membawa bekal, sebab anak-anak itu biasanya bosan dengan makanan rumah. Jadi kalau sudah tidak bawa bekal, pasti pilihan tempat untuk makan siang ke kantin,” tandas Mega. (bal/sol)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *