Sudah Produksi Cokelat, SMKN Kakao jadi Harapan Sulbar

  • Whatsapp
Sudah Produksi Cokelat, SMKN Kakao jadi Harapan Sulbar
sulbarexpress.fajar.co.id, MAMUJU – SMKN Kakao Sulbar yang menjadi binaan Pempror terus menghasilkan produk sendiri, dimana tiap harinya bisa menghasilkan 4.000 batang cokelat.
Kepala SMKN Kakao Sulbar Sahril Tamsih mengatakan siswa-siswinya telah bisa memproduksi sendiri cokelat melalui mesin pengelola biji kakao yang bisa menghasilkan 40 kilogram sehari atau 4.000 batang cokelat.
“Kita berinama cokelat Malaqbi karena sekolah kakao ini merupakan binaan langsung Pemprov Sulbar. Kita memproduksi cokelat menjadi tiga produksi yaitu cokelat batang, cokelat permen, dan cokelat bubuk,” kata Sahril, Kamis 7 Desember.
Ia menambahkan proses pengolahan kakao didatangkan dari Jember dan Jawa Timur untuk mendampingi siswa dan untuk perizinannya Sahril mengaku pihak BPOM Mamuju sudah mendatangi sekolahnya beberapa hari yang lalu untuk meninjau langsung produksi cokelat.
“Izinnya sementara kita proses tinggal menunggu hasilnya, karena beberapa hari lalu sudah ditinjau langsung BPOM dan Dinas Kesehatan dan kita akan terus tingkatkan produksi kita kedepan,” tambahnya.
Gubernur Sulbar, Ali Baal Masdar menyampaikan akan terus memberikan dorongan dalam pengembangan produksi cokelat yang saat ini dilakukan SMKN Kakao Sulbar.
“Kita akan terus mendukung, apalagi SMKN Kakao Sulbar merupakan binaan langsung Pemprov Sulbar. Sekolah ini juga sudah memiliki mesin produksi cokelat,” ungkap Gubernur.
Deputi Menteri Bidang Pendanaan Pembangunan Kementerian PPN/Bappenas, Kennedy Simanjuntak menyatakan dirinya sangat mengapresiasi SMK Negeri Sulbar ini. Pasal ini merupakan sekolah pertama di Indonesia yang konsentrasi dengan cokelat.
“Saya semakin senang dengan banyak pengembang dan banyak kerjasama yang dilakukan sekolah ini. Bahkan jika ini bisa terus dikembangkan saya yakin akan bisa memproduksi cokelat yang sangat bagus,” terangnya.
Sementara, Senior Program Manager Sulawesi Swiss Contak Suharman Sumpala menuturkan pihak pemerintah harus melakukan intervensi kepada masyarakat petani kakao agar melakukan peremajaan tanaman kakaonya. Hal tersebut merupakan suatu kewajiban agar dapat meningkatkan produksi Kakao.
“Kini hampir 50 persen pohon kakao yang di Sulbar adalah tanaman dengan ukuran di atas 15 tahun, sehingga produksi sudah menurun. Ini yang menjadi tantangan kita, bagaimana cara mengubah pikiran petani untuk bisa tetap menjadi kualitas kakao mereka,” tandasnya. (hab/sol)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *