Penyediaan Bibit Kakao Dihambat Permentan

  • Whatsapp
Penyediaan Bibit Kakao Dihambat Permentan
sulbarexpress.fajar.co.id, MAMUJU – Sebanyak 350 ribu hektare lahan kakao sudah berusia tua, sehingga ini menjadi PR Pemprov Sulbar untuk membantu para petani melakukan peremajaan agar nama besar Sulbar sebagai penghasil buah kakao tetap terjaga.
Adapun yang menjadi kendala para petani adalah susahnya mendapat bibit kakao di Sulbar. Mereka harus membeli bibit di Sulsel yang telah tersertifikasi, itu juga membuat harga bibit ikut melambung.
Hal ini terungkap pada kunjungan kerja Sekretaris Wantimpres IGK Manila di Kelurahan Kalukku, Kecamatan Kalukku akhir pekan kemarin.
Salah seorang petani kakao Husain mengatakan produksi kebun kakaonya kini sangat berkurang. Empat tahun tarakhir ini dari satu hektare kebun kakao miliknya hanya bisa mengasilkan 1,5 ton setiap tahunnya. Jumlah tersebut sangat jauh jika dibandingkan pada tahun 2000 hingga 2010 lalu. Dimana kebunnya tersebut masih bisa menghasilkan sekitar 2,2 ton.
“Kami ingin melakukan peremajaan, tapi terkendala ketersediaan bibit. Dimana stok bibit yang sesuai dengan standar harus didatangkan dari Sulsel, sehingga jumlahnya terbatas,” kata Husain.
Ia menambahkan persoalan bibit bukan paling utama melainkan para petani juga mengeluh dengan serangan hama pada pertaniannya. Meski telah dilakukan penyemprotan hasilnya masih kecil.
“Penyebab utamanya karena usia dan cuaca yang kurang bersahabat,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian Sulbar Hamzah mengungkapkan penyebab kekurangan bibit tersebut karena adanya Permentan nomor 50 tahun 2015. Dalam aturan itu ada yang membatasi penyedia bahan bibit bawah yang hanya bisa dilakukan oleh beberapa produsen yang telah disertifikasi saja.
Tujuan agar bibit yang beredar di masyarakat semua berkualitas, karena telah dilakukan pengujian terhadap semua hama.
“Aturan itu sebetulnya sangat bagus, tetapi terlalu mengekang. Mungkin bisa sedikit dilonggarkan atau diperbanyak tempat penyedia bibit agar bisa menurunkan harga bibit karena akomodasi,” tuturnya.
Hamzah juga menyampaikan untuk tahun 2018 Pemprov Sulbar mendapatkan bantuan bibit kakao untuk 880 hektare. Khusus Kabupaten Mamuju juga mendapatkan tambahan 500 hektare untuk intensifikasi, guna peningkatan hasil produksi.
“Jumlah bantuan kali ini dari pemerintah pusat sedikit berkurang jika dibandingkan tahun lalu. Dimana pada tahun 2017 Sulbar mendapatkan bantuan bibit kakao sebanyak 950 hektare,” bebernya.
Sekretaris Wantimpres IGK Manila berjanji akan menyampaikan keluahan para petani kakao. Pihaknya juga akan memanggil kementerian terkait untuk mencarikan solusi terhadap aturan Permentan nomor 50 tahun 2015.
“Semuanya keluhan ini akan saya bawa ke pusat untuk mencari solusi. Pak Presiden kini sedang konsentrasi untuk melakukan peningkatan semua hasil pertanian dan perkebunan,” tandasnya. (hab/sol)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *