Tak Penuh Konsentrasi Berkendara, Bisa Disanksi

  • Whatsapp
Tak Penuh Konsentrasi Berkendara, Bisa Disanksi

sulbarexpress.fajar.co.id, MAMUJU — Adanya aturan dalam Pasal 283 juncto 106 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan angkutan jalan yang menegaskan setiap orang mengemudi kendaraan bermotor di jalan wajib mengemudikan kendaraannya dengan wajar dan penuh konsentrasi.

Aturan tersebut memberi sinyal kepada pengendara yang memiliki kebiasaan mendengarkan musik, menggunakan handphone satu tangan dan merokok saat berkendara untuk diberi sanksi, pidana kurungan tiga bulan atau denda Rp750 ribu.

Bacaan Lainnya

Kasatlantas Polres Mamuju, AKP Suhartono menjelaskan, maksud dari aturan mengenai kewajiban mengemudikan kendaraan dengan wajar dan penuh konsentrasi agar pengendara bisa lebih fokus.

“Penuh konsentrasi ini ditafsirkan untuk menghindari segala perilaku yang mengurangi konsetrasi saat berkendara. Seperti menelepon dan mendengar musik menggunakan headshet. Termasuk menempelkan handponenya ke dalam helm,” ujar AKP Suhartono, Sabtu 10 Maret.

Disebutkan, tujuan utama penegasan itu guna mengantisipasi terjadinya laka lantas dan cekcok sesama pengendara. Kadang pengendara tidak mendengan isyarat klakson dari pengendara lain, akibatnya laka lantas tak terhidarkan.

Ironisnya, sesama pengendara bisa berujung adu jotos. Atas alasan keselamatan, seluruh pengendara bermotor wajib mengikuti aturan tersebut.

“Bukan kami menekan pengendara. Tapi kami berusaha menjaga keselamatannya. Kan kalau terlibat laka lantas, mereka juga yang rugi. Lebih baik mengantisipasi,” jelasnya.

AKP Suhartono melanjutkan, tak hanya menggunakan headshet, pengendara roda empat juga dilarang memutar musik dengan suara lantang. Itu bisa mengganggu konstentrasi pengendara lain.

“Kalau dalam batas wajar, tidak masalah. Tapi kalau berpotensi menimbulkan gaduh, maka itu dilarang dan dapat dijerat UU itu,” sebut AKP Suhartono.

Bagi pengendara yang ketahuan melanggar ketentuan itu akan ditilang. Kecuali dalam keadaan urgen. Misalnya ibu yang terburu-buru karena anaknya di rawat di RSUD, atau sedang tertimpa musibah. Di luar ketentuan itu, polisi tidak memberikan toleransi.

Bahkan jika terjadi kecelakaan akibat pelanggaran itu, polisi akan memasukkan pelanggaran itu sebagai salah satu indikator penetapan tersangka kasus lakalantas.

“Jika terbukti terjadi laka lantas gara-gara melanggar, yah kita jadikan dasar penindakan hukum,” terangnya.

Salah satu pengendara yang ditemui di Jalan Pababari, Ilyas kurang setuju kentuan tersebut. Menurutnya, jika ia mendengar musik menggunakan headshet saat perjalan jauh, membuatnya lebih fokus. Termasuk lebih menikmati perjalanan jauh.

“Sebaliknya jadi lebih santai dan tidak terasa pegal kalau dengar musik. Jadi saya kurang setuju,” tandas Ilyas. (bal/sol)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *