Pemkab Fokus Teken Penderita Kusta dan Frambusia

  • Whatsapp
Pemkab Fokus Teken Penderita Kusta dan Frambusia

sulbarexpress.fajar.co.id, MAMUJU — Dengan tingkat penyakit kusta dan frambusia yang tingggi, menjadikan Mamuju masuk dalam 139 kabupaten yang memiliki tingkat prevalensi penderita di atas 1 per 10.000 penduduk. Hal tersebut mendasari Dinas Kesehatan (Dinkes) Mamuju bergerak cepat.

Melalui kegiatan advokasi, sosialisasi dan pelatihan singkat dalam rangka intensifikasi penemuan kusta dan frambusia yang dilaksanakan di Marannu Golden Hotel pada Sabtu 7 April, Dinkes Mamuju berharap dapat menurunkan angka Prevalensi penyakit tersebut.

Bacaan Lainnya

Kepala Dinkes Mamuju, dr. Hajrah As’ad mengungkapkan penyakit kusta dan frambusia merupakan penyakit menular yang dapat menyebabkan kecacatan apabila tidak ditangani. Olehnya itu, pelatihan yang dilakukan pihaknya bermaksud untuk lebih intens menemukan kasus tersebut agar dapat segera ditangani dan tidak sampai cacat.

“Hari ini adalah bagaimana kita menemukan dan mencegah, supaya dia tidak masuk ke tingkat cacat. Kalau diobati dengan tuntas dia tidak akan cacat. Kalau kita menemukan dia masih dalam bentuk bercak itu masih bisa di cegah,” ungkap Hajrah.

Dijelaskan pula angka kasus kusta baru di Indonesia pada tahun 2016, dilaporkan 16.826 kasus dengan angka prevalensi 0,71 per 10.000 penduduk. Angka tersebut menjadikan Indonesia berada diperingkat ke-3 di dunia setelah India dan Brazil.

Provinsi Sulawesi Barat termasuk sembilan provinsi yang memiliki prevalensi penyakit kusta di atas 1 per 10.000 penduduk dan ditargetkan untuk eliminasi pada tahun 2019.

Hadir membuka kegiatan, Wakil Bupati Mamuju Irwan SP Pababari yang turut memaparkan sejumlah data yang disampaikan Dinas Kesehatan Mamuju kepadanya. Data tersebut menyebutkan angka tertinggi penderita penyakit kusta tahun 2017 berada di Kecamatan Sampaga dengan prevalensi 3,8 per 10.000 penduduk.

“Pada tahun 2017 yang tertinggi dari semua kecamatan di Kabupaten Mamuju yaitu Kecamatan Sampaga dengan angka 3,8 lalu Papalang 2,9 kemudian Tapalang 1,4, Tommo dan Kalumpang 0,8 lalu Kalukku 0,7, Mamuju 0,6 dan Simboro 0,3, sementara Tapalang Barat, Balabalakang dan Bonehau berada di angka 0,0,” sebutnya.

Irwan Pababari menyebut, kemungkinan besar masih ada penderita kusta yang belum terdata, mengingat kebiasaan masyarakat di Mamuju yang masih malu jika mengidap suatu penyakit dan tidak ingin diketahui. Dari itu kepada semua pihak baik pemerintah desa/lurah bersama tenaga kesehatan untuk lebih intensif lagi melihat penderita yang ada di pelosok-pelosok.

“Jadi memang kebiasaannya masyarakat itu malu kalau punya penyakit begitu, jadi dibiarkan saja dalam rumah, nah ini yang mesti lebih gencar di deteksi apalagi di daerah-daerah pelosok. Jadi saya minta teman-teman pemerintah desa dan yang di puskesmas itu lebih intens lagi. Terlebih tiga kecamatan yang datanya tadi nol koma nol, itu saya belum yakin di sana benar-benar tidak ada penderita kusta, jadi tolong lebih gencar lagi,” kata Irwan.

Ia bahkan berharap kedepannya ada tim atau kelompok yang dibentuk dari unsur pemerintah desa juga tenaga kesehatan di desa yang berkolaborasi menyasar kesudut kampung untuk melihat ciri-ciri penyakit menular ini.

“Jangan sampai mereka sudah posisi cacat baru kita lakukan penanggulangan, pasti akan lebih sulit lagi,” tandasnya.

Untuk diketahui, kegiatan advokasi, sosialisasi dan pelatihan singkat tersebut diikuti sebanyak 60 peserta dari unsur Kementrian Kesehatan, Dinkes Provinsi, lintas sektor dan lintas program, kepala Puskesmas, juga Camat dan kepala desa/lurah. (hms/bal)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *