Program YES, Konjen AS Sebut Pelajar Sulbar Punya Potensi Besar

  • Whatsapp
Program YES, Konjen AS Sebut Pelajar Sulbar Punya Potensi Besar

sulbarexpress.fajar.co.id, MAMUJU – Konsulat Jenderal (Konjen) Amerika Serikat menyisir Sulbar untuk program Youth Exchange Study (YES) atau perturakaran pelajar. Guna kepentingan ini, tim Konjen AS tiga hari berada di ibu kota Sulbar.

Mereka yang datang ke Mamuju antara lain, Asistant Cultural Attache Emily G. Abraham dan Senior Information Specialist Indar Juniardi. Selain itu, hadir pula sejumlah wartawan senior dari Jakarta.

Bacaan Lainnya

Tujuan utama kedatangan Konjen AS di Sulbar adalah untuk menggali potensi pelajar SMA agar bisa megikuti program YES. Mengawali itu, Konjen menggelar pelatihan jurnalistik untuk SMA.

Pelatihan jurnalistik digelar selama dua hari, Sabtu hingga Minggu (28-29) April di lantai dua kantor Gubernur Sulbar. Hadir sebagai pemateri Direktur Utama Sulbar Express Naskah M Nabhan, Redaktur Republika Online Teguh Firmansyah, Redaktur Republika Yeyen Rostiani, dan jurnalis Kumparan Anton William.

“Kegiatan ini diikuti sebanyak 50 perserta. Sebelum ke Sulbar, kami juga menggelar di Makassar, pada Sabtu dan Minggu (10-11) Februari. Dan pekan depan Sabtu hingga Minggu (5-6) kami juga akan menggelar pelatihan jurnalistik di Palu,” kata Indar Juniardi.

Dari kegiatan ini, sambung Indar, para pelajar yang mengikuti diharapkan bisa tertarik untuk mengikuti program YES. Khusus di Sulbar pihaknya akan membuka peluang.

Sementara itu, menurut Emily, para pelajar di Sulbar memiliki potensi yang besar untuk mengikuti program YES. Hal ini terlihat selama pelaksanaan pelatihan jurnalistik di kantor Gubernur Sulbar.

“Saat kami pantau, banyak anak-anak Sulbar yang memiliki potensi untuk mengikuti program YES. Banyak anak-anak yang sudah aktif menggunakan bahasa Inggris, saya kira itu modal yang besar,” terang Emily.

Ia menjelaskan YES adalah program beasiswa penuh yang diberikan Pemerintah AS. Program ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat AS dengan negara-negara yang mayoritas muslim. Para pelajar dari berbagai daerah di tanah air mengikuti program ini selama 10 bulan.

“Mereka tinggal dengan host family di AS dan diperkenalkan dengan kebudayaan AS. Mereka juga mengikuti sekolah formal di AS,” imbuhnya. (hab/sol)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *