Pandemi Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi

  • Whatsapp
Pandemi Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi
Kepala BPS Provinsi Sulbar, Agus Gede Hendrayana Hermawan.

MAMUJU, SULBAR EXPRESS – Badan Pusat Statistik (BPS) Sulbar merilis pertumbuhan ekonomi triwulan tiga. Secara umum, pandemi Covid-19 memberikan pengaruh.

Pada triwulan tiga 2020 ekonomi Sulawesi Barat kontraksi sebesar 5,26 persen bila dibandingkan triwulan tiga 2019 (y-on-y). Kontraksi terjadi pada sebagian besar lapangan usaha dengan besaran yang bervariasi.

“Kontraksi tertinggi dicapai oleh konstruksi sebesar 16,66 persen, diikuti administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 12,25 persen, serta penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 10,31 persen,” kata Kepala BPS Provinsi Sulbar, Agus Gede Hendrayana Hermawan, Kamis 5 November.

Sementara itu, berdasarkan sumber pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat triwulan tiga 2020 (y-on-y), sumber pertumbuhan terendah yang paling besar menggerus perekonomian berasal dari lapangan usaha konstruksi sebesar -1,36 persen. Diikuti administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar -1,22 persen.

Selanjutnya pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar -1,00 persen serta industri pengolahan sebesar -0,70 persen. Sementara sumber pertumbuhan ekonomi Sulawesi Barat dari lapangan usaha lainnya sebesar -0,99 persen.

“Kontraksi ini terjadi karena pada triwulan tiga 2020, besaran PDRB Sulbar berdasarkan harga konstan untuk mengukur laju pertumbuhan ekonomi tercatat Rp8,01 triliun, angka ini menurun 5,26 persen dibanding besaran PDRB pada triwulan yang sama tahun 2019, dimana pada saat itu PDRB tercatat sebesar Rp8,45 triliun,” kata Agus.

Ia menjelaskan, untuk melihat kinerja perekonomian harus menggunakan PDRB berdasarkan perbandingan antar triwulan yang sama. Sehingga menghasilkan hasil yang sama. Namun karena pandemi sehingga perekonomian seluruhnya mengalami gangguan.

“Pada saat ini atau pada triwulan kedua perekonomian dunia mengalami gangguan akibat Covid-19, yang tidak pernah diprediksi oleh siapapun. Sehingga jika kita membandingkan pada kondisi sebelumnya, sebetulnya kita membandingkan kondisi yang tidak sama,” jelasnya.

Sehingga jika dihitung laju pertumbuhan PDRB dari tahun ke tahun, maka kondisinya masih relatif sama.

“Dimana pada triwulan pertama mengalami perlambatan dibandingkan triwulan IV. Kemudian mengalami percepatan pada triwulan II lalu mengalami kontraksi pada triwulan III semakin cepat,” bebernya.

Namun pada triwulan II Sulbar mampu bertahan dibandingkan rata-rata ekonomi nasional. Karena pada saat itu ekonomi nasional mengalami kontraksi sebesar 5 persen lebih.

“Ekonomi Sulbar sampai triwulan tiga kinerjanya mengalami kontraksi dan hanya tumbuh 1,14 persen secara q to q. Maka secara komulatif ekonomi Sulbar tercatat 0,56 persen sampai triwulan tiga,” jelasnya.

Ia menambahkan secara struktur PDRB menurut lapangan usaha pada triwulan III 2020, dimana pertanian masih menjadi lapangan usaha utama dengan sumbangan 42,03 persen.

“Sumbangan pertanian meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya dimana pada saat itu hanya mencapai 40,89 persen,” ucapnya.

Agus menjelaskan, secara nasional motor penggerak utama perekonomian digerakkan oleh industri pengolahan dan pertanian.

“Dimana industri pengolahan dan pertanian, mencatatkan kinerja lebih baik, dibandingkan sebelumnya dan Sulbar dengan pertanian mencatatkan pertumbuhan lebih baik,” tandasnya. (idr/sol)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *