Penanganan Masalah Sampah, Butuh Komitmen Bersama

  • Whatsapp
Penanganan Masalah Sampah, Butuh Komitmen Bersama
Direktur Utama Harian Sulbar Express menyampaikan materi dalam kegiatan Pandemic Underwater Festival, di Atrium Mall Matos Mamuju, Jumat 20 November 2020.

MAMUJU, SULBAREXPRESS.CO.ID – Sampah masih menjadi persoalan besar yang belum terselesaikan di Indonesia, khusunya di Mamuju Sulawesi Barat. Olehnya dibutuhkan kepedulian bersama untuk menyelesaikan persoalan sampah.

Hal itu lah yang mendorong sejumlah komunitas di Mamuju salah satunya Tangan Edukasi Indonesia, dengan menggelar Pandemi Underwater Festival. Sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat di Mamuju tentang sampah yang ada di darat dan di laut. Dengan tema Laut dan Pandemi Sampah.

Kegiatan yang dimulai pada hari Jumat 20 sampai 22 November 2020, dibuka dengan menghadirkan Deputi Kemenkomaritim RI, Safri Burhanuddin, Asisten I Pemkab Mamuju, Tonga, Direktur Utama Sulbar Express Naskah M Nabhan, Kepala l DLHK Mamuju, Kepala Dispora Polewali Mandar. Berlangsung di atrium Mall Matos Mamuju.

Pada kesempatan tersebut Deputi Kemenkomaritim RI, Safri Burhanuddin, mengatakan pihaknya sangat mengapresiasi kegiatan yang digagas oleh sekolompok pemuda yang peduli laut dan sampah di Mamuju.

Hal tersebut sangat dibutuhkan, apalagi mengingat Indonesia berada di posisi kedua dunia, terkait sampah.

“Ini adalah bagian dari rencana aksi pemerintah, yaitu perubahan mindset, untuk perubahan mindset maka dibutuhkan banyak orang yang terlibat, salah satunya anak muda sebagai agen perubahan,” kata Safri, Jumat 20 November.

Menurutnya, apabila keterlibatan banyak orang dalam gerakan ini, maka hal tersebut akan membantu serta mempermudah dalam mengurangi sampah plastik khususnya yang ada di laut.

Secara khusus menurutnya di Sulbar kesadaran masyarakat mengenai sampah masih rendah. Hal tersebut terlihat dengan masih banyaknya sampah berserakan di sejumlah titik dalam kota khusunya pantai.

“Kami melihat kesadaran masyarakat masih kurang, dengan banyaknya sampah yang ada termasuk di Karampuang,” jelasnya.

Sementara Asisten I Pemkab Mamuju, Tonga, mengatakan perlu keterlibatan seluruh pihak dalam menyelesaikan persoalan sampah yang ada, demi menjaga kelestarian ekosistem.

“Perlu kesadaran bersama sebagai upaya melakukan pelestarian laut, agar dimasa akan datang kita tidak mewariskan masalah besar kepada generasi yang akan datang,” ucapnya.

Menurutnya, sampah plastik menjadi momok menakutkan terhadap keberlangsungan ekosistem laut, yang tidak lain hal itu akan mengancam kehidupan di darat.

“Di Mamuju saat ini dampaknya, belum dirasa secara langsung. Namun tidak disadari suatu saat akan menjadi malapetaka apabila antisipasinya tidak dilakukan mulai dari sekarang,” ujarnya.

Sehingga menurutnya, perlu langkah nyata agar hal tersebut bisa di antisipasi sejak dini.

“Diperlukan langkah nyata untuk menekan angka tersebut dan itu dibutuhkan kerja sama semua pihak untuk mengantisipasi kondisi ini,” kata Tonga.

Ia menambahkan, kurangnya kesadaran masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya merupakan kendala terbesar dalam mengurangi sampah di Mamuju.

Meskipun pemerintah telah mencoba menyediakan tempat sampah pada banyak titik, masih banyak ditemukan sampah yang dibuang sembarangan.

Kemudian, titik-titik pembuangan sampah yang telah disediakan pemerintah juga belum sepenuhnya dimaksimalkan oleh masyarakat, banyak warga yang masih membuang sampahnya ke laut dan sungai. Sehingga sampah tersebut mencemari air dan menghambat laju air. Tanpa disadari hal tersebut memiliki potensi buruk, baik dalam hal kesehatan maupun kebersihan.

Ia berharap semoga gerakan dari Tangan Edukasi Indonesia memberikan satu langkah kecil yang akan menjadi motivasi seribu langkah kedepan.

Sementara Perwakilan Dinas DLHK Mamuju, Muhammad Marwan, menuturkan bahwa yang harus diubah saat ini adalah mindset mengenai sampah. Sebab meski pemerintah talah melakukan berbagai program tanpa kesadaran itu tidak menjadi nilai apa-apa.

Kegiatan tersebut dilanjutkan talk show dengan menghadirkan pembicara, Direktur Utama Sulbar Express, Naskah M Nabhan, dan Perwakilan DLHK Mamuju, Marwan Haruna bersama Fahruddin. Di hadapan peserta dari berbagai elemen seperti mahasiswa, siswa dan Saka Wira Kartika. Pada festival tersebut juga menampilkan karya dari sampah yang menyerupai ubur-ubur terbuat dari bambu di balut sampah berukuran raksasa. (idr/sol)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *