Hari AIDS Sedunia, Meluruskan Mitos yang Masih Beredar

  • Whatsapp
Hari AIDS Sedunia, Meluruskan Mitos yang Masih Beredar

Apa yang terbayang pertama kali dalam pikiran Anda saat membaca kata HIV atau AIDS? Memalukan? Mematikan? Menjijikan?

Kita memperingati hari AIDS sedunia ke-32 yang jatuh setiap tanggal 1 Desember. Seiring meningkatnya jumlah penderita HIV dan AIDS di dunia, masih banyak pengenalan yang kurang tepat mengenai penyakit ini. Malahan selalu ada stigma negatif saat Anda mendengar tentang HIV/AIDS.

Hal ini tidaklah mengherankan karena yang diketahui masyarakat awam kebanyakan adalah bahwa penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual. Orang yang membawa HIV/AIDS (ODHA) digambarkan sebagai orang yang nakal. Beban yang ditanggung orang dengan HIV/AIDS sangatlah besar, yaitu beban secara medis dan beban sosial.

Kali ini, kita akan membahas mengenai anggapan-anggapan masyarakat awam mengenai ODHA. Pernyataan pertama, “Saya bisa tertular HIV kalau dekat-dekat dengan orang yang HIV positif”. Pernyataan ini adalah MITOS. Faktanya, bukti-bukti menunjukkan bahwa HIV tidak menyebar melalui sentuhan, air mata, keringat atau ludah.

Kita tidak bisa terkena HIV apabila menghirup udara yang sama, memeluk, mencium, atau berjabat tangan dengan ODHA, menyentuh kursi toilet atau gagang pintu yang sama dengan ODHA, memakai peralatan makan yang sama dengan ODHA, dan memakai alat olahraga yang sama di pusat kebugaran.

HIV yang merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus adalah sebuah virus yang ditularkan melalui darah yang terinfeksi, cairan sperma atau vagina melalui hubungan seksual, atau air susu ibu (ASI). Orang yang terinfeksi virus HIV tidak semata-mata langsung sakit atau merasakan gejala. Ada waktu dimana seseorang bisa menularkan ke orang lain tetapi tidak bergejala sama sekali, kurang lebih selama 10 tahun.
Apabila seseorang sudah bergejala, maka penyakit penderita sudah masuk tahap AIDS (acquired immunodeficiency syndrome) maka penderita disebut ODHA (orang dengan HIV/AIDS). Dengan demikian, apakah seks oral tidak bisa menularkan virus HIV? Memang risiko penularan virus HIV melalui seks oral lebih kecil. Tetapi, risiko penularan akan meningkat apabilla ada luka atau sariawan pada mulut.

Pernyataan kedua, “Jika saya atau pasangan saya positif HIV, kami tidak bisa punya anak”. Pernyataan ini adalah MITOS. Wanita yang terinfeksi HIV dapat mempunyai keturunan. Apabila tidak diobati, terdapat kemungkinan 30% virus HIV dapat menular kepada bayi dalam rahim atau saat melahirkan dan menyusui.

Akan tetapi, jika ibu-ibu dan bayi menggunakan pengobatan yang tepat, wanita yang positif HIV dapat memiliki bayi yang negatif HIV. Saat ini, pemeriksaan HIV pada ibu hamil merupakan pemeriksaan wajib pada awal kehamilan. Semakin cepat diketahui, risiko penularan dari ibu ke bayi dapat semakin dicegah.

Pernyataan ketiga, “Jika saya dan suami atau istri saya sama-sama HIV positif, tidak perlu untuk menggunakan kondom saat berhubungan seksual”. Pernyataan ini adalah MITOS. Suami istri yang keduanya diketahui positif HIV, bisa saja memiliki jenis virus HIV yang berbeda. Bila keduanya melakukan seks yang tidak aman, tidak terproteksi, mereka dapat menginfeksi satu sama lain dengan virus jenis lain.

Hal ini dapat memperlemah sistem imun lebih jauh dan dapat menyebabkan perubahan pada pengobatan yang ada. Hal ini karena jenis HIV yang berbeda membutuhkan obat yang lain juga. Bahkan, ada juga jenis virus yang tidak mempan terhadap pengobatan.

Karena itu, penting untuk tidak berganti-ganti pasangan seks dan menggunakan kondom saat berhubungan seks walaupun keduanya positif HIV karena bisa saja tertular jenis HIV yang resisten terhadap obat.

Pernyataan keempat, “HIV adalah penyakit pada orang-orang homoseksual”. Pernyataan ini adalah MITOS. Walaupun laki-laki yang berhubungan dengan sesama laki-laki memiliki risiko transmisi virus HIV paling besar, penyebaran melalui hubungan berbeda jenis (heteroseksual) merupakan yang paling umum terjadi.

Hampir 80% penularan terjadi pada hubungan heteroseksual. Menurut penelitian, wanita lebih mudah tertular HIV karena cairan sperma yang masuk ke tubuh wanita tinggal di dalam rahim selama kurang lebih 3 hari. Akan tetapi, sebenarnya HIV lebih mudah menular melalui seks melalui anus (anal) karena anus rawan terhadap luka dan perdarahan yang meningkatkan risiko infeksi. Jadi sebenarnya, laki-laki yang berhubungan baik dengan sesama laki-laki ataupun perempuan melalui anus tanpa kondom khususnya yang paling rentan.

Itulah beberapa mitos yang masih sering beredar dan menimbulkan salah kaprah di masyarakat. Saat ini penelitian mengenai pengobatan dan vaksin HIV masih terus dilaksanakan. Bagian masyarakat adalah menjaga perilaku seksual, tidak berganti-ganti pasangan, menghindari seks pranikah dan menyebarkan informasi yang tepat. Tulisan ini diharapakan dapat memfasilitasi penghapusan stigma mengenai ODHA sehingga beban sosial yang ditimpakan kepada mereka dapat berkurang. Mari mendukung pengentasan AIDS tahun 2030 dengan menyebarkan informasi-informasi yang tepat. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *