Siapapun Pilihanmu, Itulah Dirimu

  • Whatsapp
Siapapun Pilihanmu, Itulah Dirimu

KLIMAKS kontestasi itu tinggal beberapa hari. Puncak dari segala tahapan Penyelenggaraan Pemilihan Serentak 2020 akan bermuara pada Rabu, 9 Desember. Energi penyelenggara, peserta juga pemilih yang saling memacu menuju bilik suara akhirnya akan tuntas.

Dalam beberapa hari ini, yang dikenal sebagai masa tenang, hiruk-pikuk kemeriahan tahapan berganti menjadi ekspektasi yang saling berbeda. Setiap pemilih tentu sedang mengasah kepekaannya dan terus menjaga titik fokus. Menentukan pilihan itu bukan hal main-main bagi pemilih yang memiliki setumpuk harapan pada calonnya. Sosok seperti ini kita yakini sebagai pemilih ideologis.

Memilih di Tempat Pemungutan Suara (TPS) pun akan memberinya tekanan batin luar biasa. Ini bukan hanya mengenai gampangnya mencoblos surat suara, namun selalu berkaitan pikiran amat panjang tentang nilai atau asas kepatutan. Itu akan berbeda bila seorang pemilih yang pragmatis, figur yang hanya mementingkan kepentingan sesaat atau urusan jangka pendeknya.

Kesempatan memilih merupakan hak mendasar. Istilah yang mendeskripsikan situasi di saat hak memilih tidak terhalang oleh ras, jenis kelamin, status sosial atau kepercayaan. Di sinilah daulat rakyat atau seseorang ditimbang secara jujur. Hendak memilih siapa di bilik suara. Itu sebabnya seringkali orang menyebut bahwa kesempatan untuk menyalurkan hak pilih di bilik suara sangat menentukan. Beberapa pemilih pemula bahkan menyebut tidak mampu menguraikannya dalam kalimat lebih tentang bagaimana pengalaman pertamanya memilih di TPS, juga mengenai tekanan psikologisnya saat memutuskan pilihan.

Hak pilih sering pula disebut hak suara. Suara yang tak berupa dengung atau bunyi, tapi suara yang dimaksud yakni nilai. Yang dituangkan sebagai angka-angka lalu dapat dikalkulasi mengubah seseorang atau siapapun yang terpilih sebagai pemimpin di komunitas atau sebuah bangsa.

Suara dalam pemilihan idealnya lahir dari proses nalar, yang tumbuh dari kekuatan naluri sebagai manusia. Sebab setiap orang sesungguhnya memiliki intuisi dasar siapa sesungguhnya yang lebih pantas atau layak dipilih. Di titik inilah setiap pengaruh dari luar tak akan pernah mampu dibujuk mengenai pilihannya, kecuali seseorang tidak lagi memiliki kepekaan dan kemandirian dalam menentukan pilihan.

Pemilih memiliki peran strategis dan fundamental dalam membentuk pemerintahan yang kapabel, kredibel dan berintegritas. Karena itu, pemilih dalam menunaikan hak konstitusionalnya harus berdasar pada rasionalitas dan kesukarelaannya. Pemilih harus benar-benar memiliki daulat atas pilihannya.

Pilihan tidak boleh terdistorsi dan dicederai oleh aspek yang artifisial seperti primordialisme, pragmatisme, dan politik transaksional. Bila pemilih dapat mendasarkan pada hal di atas, maka tagline Pemilih Berdaulat Negara Kuat telah terinternalisasi pada pemilih secara utuh.

Setiap suara dalam Pemilu atau pemilihan mewakili suara rakyat yang berdaulat, yang mengandung nilai, maka angka tersebut harus benar-benar mewakili aspirasi dan pilihan pemilih yang berdaulat. Pilihan itu adalah amanat yang harus dijaga kemurniannya, lagi-lagi sisi utama dari suara pemilih terlalu mahal untuk ditukar dengan apapun. Ini bukan hanya mengenai angka-angka, nilai tertentu, namun hakikat cara kita memberi kuasa pada siapapun yang kelak terpilih secara mayoritas.

Hak suara itu amat penting. Meski tak berupa bunyi, tapi sanggup mendengung, dan menggema dalam bentuk kumpulan matematis berupa keterpilihan, euforia, dan segala bentuk kebijakan pemerintahan setelah proses pemilihan usai. Suara yang berdaulat hanya dapat lahir dari palung terdalam mengenai eksistensi kemanusian: menyembul dari sukma; mengapung melewati pikiran; maujud dalam tindakan.

Memilihlah secara bebas, dan rahasia. Apa yang anda pilih itulah dirimu.

Tikke Raya, 6 Desember 2020

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *