Terima Kasih Bagi Pemilih

  • Whatsapp
Terima Kasih Bagi Pemilih

Apa yang menjadi kegamangan jelang 9 Desember lalu? Antara lain potensi rendahnya partisipasi pemilih pada Pemilihan Serentak 2020. Bila partisipasi rendah itu akan memberi pengaruh pada minimnya legitimasi rakyat atas pemimpin yang terpilih. Namun kekuatiran itu terjawab amat baik, khususnya di Sulawesi Barat, tingkat partisipasi melampaui target nasional 77,5 persen.

Dalam catatan sementara hasil rekapitulasi per Ahad, 13 Desember, saat kolom ini ditulis rata-rata tingkat partisipasi pada empat kabupaten berpilkada di atas 80 persen. Sebut saja Kabupaten Pasangkayu yang mencapai angka 86,06 persen. Kabupaten Mamuju Tengah mencapai 90,77 persen, dan Majene sebanyak 88,36 persen.

Bacaan Lainnya

Sedang Mamuju dalam laporan sementara sekitar 81 persen, angka pastinya belum kelar sebab masih ada kecamatan yang belum rampung hingga Ahad sore. Dan siang tadi juga masih digelar PSU di TPS 19, Karema Mamuju.

Tingkat partisipasi ini menggembirakan sebab sejak awal KPU Kabupaten di Sulawesi Barat memasang target pada angka 80 persen, sedang KPU Provinsi menetapkan target partisipasi secara umum satu digit di atas target nasional yakni 77,6 persen. Ini amat beralasan sebab saat yang sama tahapan pemilihan ini berlangsung di bawah suasana pagebluk Covid-19.

Desakan publik untuk menunda Pemilihan Serentak 2020 membayangi semua tahapan, khususnya pada rekrutmen adhoc mulai dari PPK, PPS hingga KPPS. Tidak sedikit calon anggota KPPS di beberapa daerah yang mundur karena mengetahui wajib menjalani rapid test. Tekanan publik agar penyelenggara mematuhi protokol kesehatan dilaksanakan dalam kepatuhan yang standar.

Apresiasi Satgas Covid nasional pada penerapan protokol kesehatan di 9 Desember membuktikan bahwa KPU telah mematuhi dan menjawab kegamangan publik. Jubir Satgas Covid-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito mengatakan, penerapan protokol kesehatan dalam tahapan Tungsura pada 9 Desember sudah berjalan cukup baik. Pernyataan itu dapat disimak pada akun Youtube Sekretariat Presiden pada Kamis 10 Desember 2020.

Ternyata pemilih yang berjumlah 100 juta lebih yang mendatangi TPS dalam syarat kedatangan itu mampu mematuhi protokol kesehatan. Walaupun data Sistem Monitoring Perubahan Perilaku Satgas Covid-19 disebutkan, terdapat 178.039 pemilih yang ditegur atau diingatkan tentang protokol 3M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, dan menjaga jarak).

Tentu tak mudah mengatur warga atau pemilih yang antusias ke TPS. Kata Wiku yang penulis nukil dari liputan6, tingkat kepatuhan pemilih memakai masker di TPS sebesar 95,96 persen, sedang kepatuhan menjaga jarak dan menghindari kerumunan 90,71 persen. Warga negara ini sesungguhnya masih sangat tergolong patuh, namun itu memerlukan upaya sosialisasi yang sangat masif jelang 9 Desember.

Kampanye TPS yang aman dan sehat memang dilakukan dalam beragam cara sosialisasi. Tidak hanya oleh penyelenggara tapi hampir semua pihak yang memiliki tautan pada kepentingan langsung atau tidak pada 9 Desember kemarin. Mendagri Tito Karnavian pada laman ditjenbinaadwil pun memuji pemilih dan upaya koordinasi semua pihak.

Kita patut menyampaikan terima kasih kepada pemilih di manapun. Rasa gamang kita pada ancaman kluster TPS 9 Desember dapat dilewati secara bersama, karena tingkat kepatuhan saat menuju, dan berada di TPS kemarin sangatlah menentukan. Pada catatan angka-angka partisipasi yang terbilang baik karena dirundung pandemi akan menempatkan Indonesia pada prestasi pelaksanaan pemilihan di masa yang amat rawan melebarnya kluster Covid.

Pilkada dalam Kondisi Bencana Nonalam ini telah dilewati cukup apik, meski rekapitulasi hasil tungsura masih berjalan di berbagai kecamatan. Pencapaian angka partisipasi yang dapat diraih tentu akan berbeda dalam dirkursus tentang kuantitas dan kualitas pilihan, ini dapat menjadi tema lain pada diskusi selanjutnya. Jika pemilih telah datang ke TPS dan menunaikan hak pilihnya itu sesuatu yang luar biasa.

Yang jelas rasa gamang tentang kluster Covid-19, dan bakal rendahnya tingkat partisipasi pemilih dijawab sangat baik oleh warga pemilih. Ketakutan itu menjadi optimisme bahwa dalam masa penerapan protokol kesehatan yang ketat kita dapat menyesuaikan diri pada kenormalam baru. Ini hal yang sangat baik, dan menjadi modal sosial bersama.

Bagi pemilih yang telah menggunakan hak pilihnya tanpa rasa takut di TPS kami haturkan rasa bangga. Ini telah menunjukkan sebuah keberanian dan kesedian mengambil risiko dalam komunitas politiknya, yang pada dasarnya manusia setara bahwa mereka masing-masing memiliki kapasitas mengenai pilihan dalam kebaikan memilih pemimpinnya. Lagi-lagi ini mengenai kebebasan dan pengakuan atas martabat diri.

Siapapun yang Anda pilih di bilik suara 9 Desember kemarin, kami berterima kasih… (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *