Festival Anak Sulbar, Kembalikan Senyum dan Kreativitas Pasca Gempa

  • Whatsapp
Festival Anak Sulbar, Kembalikan Senyum dan Kreativitas Pasca Gempa
Posko Botteng menampilkan musikalisasi puisi mengenai situasi ketika terjadi gempa, Kamis 18 Februari 2021.

MAMUJU, SULBAREXPRESS.CO.ID – Gempa yang mengguncang Sulbar dengan kekuatan 6,2 magnitudo membuat sebagian korban mengalami trauma khususnya anak-anak. Jika tak tertangani dengan baik hal itu berpengaruh pada psikologis mereka.

Olehnya Yayasan Karampuang menggelar Festival Anak Sulbar sebagai puncak dari seluruh proses dan pendampingan yang telah dilakukan dibeberapa titik di Sulbar khususnya kabupaten Mamuju. Upaya itu untuk mengembalikan semangat dan senyum anak-anak terdampak gempa.

Ketua Panitia Festival Anak Sulbar Abdul Razak, mengatakan Festival Anak Sulbar dengan tema mengukir senyum mengembangkan kreativitas menuju generasi berprestasi. Diyakini akan mampu membangun kembali semangat anak-anak seperti sebelum terjadi bencana.

“Bahwa dua hari pasca gempa, Yayasan Karampuang melakukan pendampingan 10 titik posko pengungsian kemudian melakukan pendampingan khususnya di lima titik.
Itu dilakukan untuk mengembalikan senyum anak-anak di pengungsian,” kata Razak, Kamis 18 Februari.

Senada dengan itu Direktur Yayasan Karampuang, Ija Syahruni mengatakan, Yayasan Karampuang telah melakukan layanan pendampingan di 10 titik di awal dan lima titik layanan psikososial seperti di Posko Sumare, Posko Rangas, Posko Danga, Posko Botteng Utara dan Posko Botteng.

Ia menjelaskan, pasca gempa terjadi anak-anak yang berada di pengungsian mengalami trauma berat akan terjadinya gempa susulan. Namun dengan kehadiran Yayasan Karampuang memberikan layanan psikososial di beberapa titik bisa mengembalikan senyum anak di lokasi pengungsian.

“Dengan kegiatan ini diharapkan bisa mengembalikan senyum dan keceriaan anak serta bisa kembali berbaur di lingkungan serta teman-temanya,” ujar Ija.

Hal tersebut menjadi penting mengingat anak-anak itulah nanti yang akan kenjadi generasi pelanjut kedepan.

“Kita berharap mental anak tidak boleh jatuh, harapanya tidak boleh putus. Kita harus sama-sama bangkitkan salah satunya dengan dukungan psikososial,” jelasnya.

Ia pun, menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak akan berhenti sampai di sini saja. Namun akan berlanjut di titik-titik yang lebih banyak lagi.

“Jadi teman-teman dibangkitkan dulu percaya dirinya, diberikan pengetahuan tentang kebencanaan, diberikan pengetahuan tentang bagaiman protokol covid, kemudian isu-isu anak remaja, bagaimana pencegahan perkawinan anak, bagaiman kesehatan reproduksi dan lain-lain. Ini bukan hanya disituasi bencana tetapi juga dalam kondisi tidak bencana,” jelasnya.

Sementara Plh Bupati Mamuju yang juga Sekretaris Kabupaten Mamuju, Suaib Kamba
mengapresiasi kegiatan yang digagas oleh Yayasan Karampuang. Hal tersebut menurutnya, menjadi moment strategis dalam mengembalikan semangat, senyum dan keceriaan anak-anak pasca gempa.

Ia juga menuturkan, kontribusi Yayasan Karampuang selama ini sangat membantu Kabupaten Mamuju, khususnya dalam melakukan pendampingan terhadap perempuan dan anak.

“Melalui kegiatan ini, merupakan upaya untuk memfasilitasi potensi-potensi yang ada pada tiap anak di Sulawesi Barat khususnya Mamuju. Sehingga dapat tumbuh dan berkembang sesuai potensi yang dimiliki,” terangnya.

Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Karampuang dan relawan yang telah melakukan misi kemanusiaan di Mamuju selama pasca gempa dan masa transisi darurat ke pemulihan.

Sementara Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Jamilah Haruna, menjelaskan perempuan dan anak yang berada di pengungsian saat ini mencapai 96 ribu.

“Dari data pengungsian yang saya terima, 96 ribu pengungsi, hampir 60 persen penyintas itu perempuan dan anak. Sehingga pendampingan penting dilakukan untuk mengembalikan senyum dan semangat para penyintas,” kata Jamilah.

Sehingga menurutnya, para peyintas khususnya perempuan dan anak, harus dikembalikan kepercayaan dirinya. Ia juga sementara menyusun Pergub pembentukan Sub Klaster Perlindungan Perempuan dan anak dalam mengatasi kekerasan ibu dan anak.

“Bagaiman keberpihakan terhadap perempuan dan anak itu lebih banyak terjadi pada perempuan dan anak. Sehingga kedepan kita akan bersinergi kembali untuk mendukung perempuan dan anak,” bebernya.

Pada kesempatan itu juga salah satu anak dari posko Kelurahan Rangas Rifka menjelaskan trauma yang dialami dirinya ketika terjadi gempa dan berada di pengungsian.

“Saat terjadi gempa saya (Rifka, red) berada di rumah, lalu merasakan goyangan kemudian pada itu saya merasa pusing dan mau muntah sampai akhirnya pergi mengungsi, karena takut gempa dan tsunami terjadi,” kata Rifka.

Kemudian ia bertemu dengan Lingkaran Remaja dan Yayasan Karampuang dan memberikan kembali tawa.

“Saat Lingkaran Remaja sudah datang saya sudah bisa kembali merasakan bahagia, tertawa bersama dan tidak lagi memikirkan tsunami dan gempa,” ujarnya.

Ia mengaku, bahwa selama berada di pengungsian dirinya bersama anak-anak yang lain diajak untuk belajar mencintai lingkungan dengan membuang sampah pada tempatnya.

Hadir pada kegiatan tersebut, Kepala BKKBN Provinsi Nuryamin, Kepala Dinas Pelindungan Perempuan dan Anak Kabupaten Mamuju, Sahari Bulan, serta kepala desa dan lurah di Kabupaten Mamuju. (idr/sol)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *