Kembangkan Udang Vaname, DKP Manfaatkan Lahan Tambak Tidur

  • Whatsapp
Kembangkan Udang Vaname, DKP Manfaatkan Lahan Tambak Tidur
Salah satu lokasi tambak tradisional untuk pengembangan undang vaname.

MAMUJU, SULBAREXPRESS.CO.ID – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sulawesi Barat siap mengembangkan produksi udang vaname. Lahan tambak tidur akan diubah menjadi semi intensif hingga intensif.

Hal tersebut disampikan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Sulawesi Barat, Prof Fadli Syamsudin. Menurutnya potensi tambak di Sulbar sangat besar, sehingga ia akan mempersiapkan lahan untuk dijadikam plot pengembangan udang vaname di Sulbar.

“Sulbar masih banyak lahan potensi tambak tidur, mencapai 60 hingga 70 persen. Nah, kami di DKP berpikir untuk mengembangkan lahan tidur itu. Tetapi untuk mengembangkan satu hektar saja itu kita butuh dana sekitar Rp283 juta, itu untuk pakan, kincir dan lain sebagainya,” kata Kepala DKP Sulbar Prof Fadli Syamsudin.

Ia menjelaskan, sementara ini programnya disiapkan. Sudah siap dari segi anggaran. Selain dari APBD, juga sementara mengajukan dana di kementerian.

“Yang kami lakukan secara program dari APBD membuat percontohan di Kecamatan Papalang. Ada lahan dua hektar semi intensif vaname sehingga petani tambak di sekitarnya yang masih tradisional bisa mencotoh itu,” katanya.

Ia menjelaskan untuk pengembangan udang vaname pendekatannya ada dua, dari tambak tradisional menjadi semi intensif dan silvofishery.

“Kita juga punya lahan di daerah Poniang, Kecamatan Sendana, dikelola UPT. Di belakangnya bagian pesisir ada mangrove. Konsepnya satu hektar mangrove seperempatnya kita jadikan tambak. Jadi dia bersimbiose. Udang akan cari makanan di mangrove,” jelasnya.

Program ini dikembangkan, kata Fadli, karena terkakit juga dengan potensi tsunami di Sulbar. Mangrove bisa jadi sabuk pengaman. “Itu tahun ini kita giatkan,” katanya.

Di samping itu, lanjutnya, Pemprov untuk ketahanan pangan akan mengajukan ke pusat sejumlah permintaan anggaran. Sementara DKP, kata dia, mengajukan enam ribu hektar untuk tambak tradisional dijadikan semi intensif.

“Kalau sudah ada dananya, rencana dua ribu hektar dulu tahun ini. Selama tiga tahun. Saya kira dananya miliaran,” jelasnya.

“Yang diajukan ke pusat dua ribu hektare. Di Papalang juga, lahannya siap sisa dipoles,” sambung Fadli.

Ia menjelaskan udang vaname sebenarnya di Sulbar bukan hal baru. Di Pasangkayu petani tambak bahkan sudah intensif. Dengan lahan kecil hasil besar. Sudah memanfaatkan pakan dan tekhnologi kincir yang banyak.

Sementara itu, Kepala Bappeda Sulbar, Khaeruddin Anas membenarkan pihaknya sudah berkordinasi dengan DKP untuk mengajukan anggaran pengembangan udang vaname. Setiap hektar setidaknya membutuhkan anggaran Rp200 juta lebih.

Saat ini juga, kata dia, beberapa perusahaan juga tengah menjajaki untuk investasi pengembangan udang vaname ini.

“Ini semua rencana kita dalam waktu sebulan kedepan di tengah keterpurukan ekonomi ini agar bisa meningkat kembali,” jelasnya. (idr/sol)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *