Kementerian Relokasi Pengungsi Ulumanda

  • Whatsapp
Kementerian Relokasi Pengungsi Ulumanda
Kondisi pengungsi di Mekatta, Kabupaten Majene, gambar direkam Rabu 24 Februari 2021.

MAMUJU, SULBAREXPRESS.CO.ID – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) siap merelokasi warga Kecamatan Malunda dan Ulumanda yang kampungnya tertimbun longsor. Pemerintah saat ini diminta menyiapkan lokasi.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Sulbar Muhammad Aksan mengatakan pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan dirjen kementerian PUPR. Lahan yang disiapkan yakni tidak rawan bencana.

“Misalnya Desa Kabiraan yang banyak rusak hancur karena menjadi jalur gempa dan pada puluhan tahun yang lalu hal itu pernah terjadi di sana. Sehingga kita merencanakan untuk merekolasi daerah tersebut. Sudah ada lokasi dekat kantor Camat Ulumanda,” kata Ahsan, Rabu 24 Februari.

Bantuan hunian tetap berjumlah 50 unit dari Pemprov Sulsel juga akan dibangun di lokasi tersebut. Sementara untuk fasilitas jalan, drainase, jembatan dan dukungan air bersih akan disiapkan oleh Kementerian PUPR.

Sekaligus pemukiman baru ini disiapkan menjadi model desa tangguh bencana, untuk percontohan seluruh Indonesia.

“Kementerian mengatakan kita liat dulu lokasinya dan kita akan survei lokasi geologinya semoga bukan daerah bencana jangan sampai kita pindah ternyata daerah bencana juga. Jadi kementerian akan melakukan peninjauan di sana,” ujarnya.

Aksan menyebut, Pemkab Majene menyodorkan sejumlah dusun di enam desa di Kecamatan Malunda dan Ulumanda. “Alhamdulillah telah bertemu dan mendapat dukungan penuh dari Dirjen sehingga akan mengirim kembali beberapa stafnya untuk mengawal pembangunan di Sulbar,” jelasnya.

Sebelumnya, Pemkab Majene telah mendata kampung warga yang tidak layak lagi dihuni setelah tertimbun longsor akibat gempa. Tercatat sebanyak 15 dusun yang minta direlokasi di Kecamatan Ulumanda dan Malunda, Majene.

Di Kecamatan Ulumanda yakni di Desa Kabiraan yang terdiri dari Dusun Kabiraan 74 kepala keluarga (KK), Dusun Babbasondong 48 KK, Dusun Tammerimbi 45 KK, Dusun Tammerimbi Barat 44 KK, serta Dusun Tammerimbi Utara 37.

Sementara di Desa Tandeallo, ada Dusun Lombe 38 KK, Dusun Paku 33 KK, Dusun Bette Betteng 32 KK, Dusun Pangngadaang 37 KK dan Desa Popenga serta Dusun Pullao 33 KK.

Sedangkan di Kecamatan Malunda, masing-masing di Desa Bambangan yang terdiri dari Dusun Bambangan 60 KK, Dusun Batususun 85 KK. Di Desa Mekkatta yakni Dusun Aholeang 57 KK, Dusun Rui 35 KK, selanjutnya di Desa Salutahonang yakni Dusun Salurindu 30 KK.

Warga Dusun Aholeang, Jumaluddin mengatakan alasan warga enggan kembali ke kampungnya, kata dia, gunung-gunung sudah retak dan sewaktu-waktu bisa longsor.

“Sudah tidak ada lagi harapan untuk ditempati kembali membangun rumah. Saya tadi dari atas (Dusun Aholeang), pemukiman hancur, tergulung di sana pak. Puluhan rumah tertimbun. Yang lain rusak berat, tidak bisa lagi ditempati,” katanya.

Guru SD Aholeang ini berharap pemerintah segera menyiapkan lahan dan hunian tetap untuk mereka. Agar tidak terus menerus tinggal di pengungsian. Sekitar 60 lebih KK warga Aholeang, kata Jamaluddin, saat ini masih mengungsi di belakang kantor Desa Mekatta.

“Kalau bisa secepatnya direlokasi. Pemerintah sebisa mungkin memahami kesedihan kami. Seandainya hanya rumah saja yang hancur masih ada niat untuk kembali ke kampung. Tetapi kalau kita lihat posisi-posisi di atas (gunung akan longsor) tidak layak lagi, menakutkan betul. Termasuk kebun tertimbun semua, lebih satu kilometer longsoran dari atas gunung,” jelasnya. (idr/sol)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *