Pengungsi Mulai Diserang Penyakit

  • Whatsapp
Pengungsi Mulai Diserang Penyakit
Sejumlah anak-anak tampak bermain di lokasi pengungsian, gambar direkam beberapa waktu lalu. (FOTO: IDRUS IPENK)

MAMUJU, SULBAREXPRESS.CO.ID – Para korban gempa mulai diserang sejumlah penyakit di tempat pengungsian. Untuk sementara infeksi saluran pernapasan akut (Ispa) mendominasi keluhan mereka.

Hal itu diketahui berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Barat, dimana menyebutkan hingga Rabu 10 Februari 2021, ada sebanyak 4.048 warga terkena penyakit. Di Kabupaten Mamuju sebanyak 2.669 orang dan 1.379 orang di Kabupaten Majene.

Pengelola Data Bidang Data dan Informasi Pos Komando Transisi Darurat, Gaffar, menjelaskan dari jumlah itu, Ispa menduduki peringkat tertinggi, mencapai 1.110 penderita. Terdiri dari, 720 orang di Kabupaten Mamuju dan 390 orang di Kabupaten Majene.

“Ispa memang penyakit yang paling banyak, di Mamuju Ispa tertinggi, begitu juga di Majene. Lima hari terakhir di Mamuju meningkat 115 orang dan majene meningkat 29 orang” kata Gaffar, di Posko Induk Kamis 11 Februari 2021.

Menurutnya, selain Ispa, penyakit dominan yang menyerang pengungsi yakni hipertensi, penyakit kulit, diare, demam tulang, influenza, maag, nyeri otot, gangguan pencernaan, sakit kepala, demam, penyakit kulit dan batuk.

Sementara Kabid Kesehatan masyarakat Dinkes Sulbar, dr. Ihwan memaparkan, Ispa memang selalu menjadi penyakit dengan jumlah tertinggi, meskipun dalam keadaan biasa atau normal.

“Jumlahnya meningkat di pengungsian itu karena faktor kecapeaan, apalagi dalam musim panca roba seperti sekarang. Dalam arti hujan lalu panas kemudian hujan lagi,” ucap Ikhwan.

Banyaknya warga terserang di pengungsian, lanjut Ikhwan, sangat berpotensi meningkatkan penyebaran Covid-19.

Apalagi, semenjak setelah gempa, disiplin warga di pengungsian semakin berkurang. Interaksi juga semakin dekat dan bahkan makin sering berkerumun.

Menurutnya, ketika terkena penyakit, daya tahan tubuhnya rendah. Jadi rawan, mau Ispa, diare semua berpotensi kena covid. Covid itu bagian Ispa, karena menyerang saluran napas.

“Jadi tidak usah kaget dengan banyaknya kasus Ispa, karena tanpa gempa pun kalau musim hujan tiba pasti banyak kena Ispa. Di puskesmas setiap hari, orang batuk, panas, beringus,” jelasnya.

Ia menambahkan, untuk penyakit diare, pihaknya mewanti-wanti apabila terjadi yang lebih fatal.

“Diare itu harus kita jaga-jaga. Lebih fatal, kalau banyak diare siap-siap UGD. Banyak masuk orang dehidrasi harus diinpus segera,” ujarnya.

Namun pihaknya sampai saat ini belum ada informasi keadaan luar biasa (KLB) terkait diare.

“Yang kita takuti kalau pengelolaan sanitasi tidak terkelola dengan baik sanitasinya. Itu kita takuti kalau terjadi KLB diare,” bebernya.

Menurutnya, jika Ispa menyerang hal tersebut tidak perlu terlalu khawatir. Cukup diberikan amoxilin dan parasetamol.

“Tapi kalau diare, jaga-jaga, berarti sudah mulai sanitasi dan air bersih tidak bagus. Ada kontaminasi makanan dan air,” ucapnya.

“Strateginya tetap kita melakukan survei penyakit oleh surveillance. Memantu perkembangan penyakit-penyakit lingkungan. Yang kita takuti gelombang atau fase kedua setelah gempa, masa yang kita takuti sekarang penyakit berbasis lingkungan. Seperti diare, Ispa, malaria, demam berdarah dan penyakit menyebar lainnya,” tandasnya. (idr/sol)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *