Penyebab Angka Kemiskinan di Sulbar

  • Whatsapp
Penyebab Angka Kemiskinan di Sulbar

Aktivitas masyarakat di Pasar Regional Mamuju. (FOTO: IDRUS IPENK)

 

MAMUJU, SULBAR EXPRESS – Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Barat merilis data perkembangan penduduk miskin pada bulan September 2020, Senin 15 Februari 2021.

Kepala BPS Sulbar Agus Gede Hendrayana Hermawan mengatakan persentase penduduk miskin dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan di Sulbar mengalami peningkatan. Penambahan angka kemiskinan ini, didominasi terjadi di pedesaan.

“Pada bulan September 2020 penduduk miskin di Sulbar sebesar 11,50 persen atau meningkat 0,63 persen poin dibandingkan Maret 2020 dan meningkat 0,55 persen poin dibandingkan September 2019,” kata Agus Gede, Senin 15 Februari.

Lebih jauh Agus Gede menjelaskan beberapa penyebab angka kemiskiman di Sulbar meningkat. Antara lain, ekonomi Sulawesi Barat triwulan III-2020 terhadap triwulan III-2019 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 5,26 persen (y-on-y). Angka ini jauh menurun dibanding capaian triwulan III-2019 yang tumbuh sebesar 5,18 persen (y-on-y).

Kemudian pengeluaran konsumsi rumah tangga pada triwulan III 2020 terkontraksi sebesar 0,46 persen (y-on-y), menurun dibandingkan periode yang sama tahun 2019 yang tumbuh 5,37 persen.

Pada periode Maret 2020 – September 2020, secara umum di Sulawesi Barat harga eceran beberapa komoditas pokok mengalami kenaikan antara lain beras, daging sapi, telur ayam ras, susu kental manis, minyak goreng, ikan cakalang, dan ikan layang.

Pada Agustus 2020, dari total penduduk usia kerja sebanyak 991,72 ribu orang, sebanyak 120,52 ribu penduduk usia kerja (12,15 persen) terdampak Covid-19 pada Agustus 2020, dengan rincian: 4,52 ribu penduduk menjadi Pengangguran, 3,15 ribu penduduk menjadi Bukan Angkatan Kerja, 7,02 ribu penduduk Sementara Tidak Bekerja, dan 105,83 ribu penduduk Bekerja dengan Pengurangan Jam Kerja (Shorter Hours).

Nilai Tukar Petani September 2020 sebesar 109,78, turun 0,58 persen dibandingkan Maret 2020, yaitu sebesar 110,42. Hal ini mengindikasikan bahwa kesejahteraan petani pada umumnya menurun. (idr/sol)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *