Disbun Rancang Program Bersama, Kejar Target Pemulihan Ekonomi

  • Whatsapp
Disbun Rancang Program Bersama, Kejar Target Pemulihan Ekonomi
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Sulawesi Barat, Abdul Waris Bestari memaparkan target kerja, Sabtu 6 Maret 2021.

MAMUJU, SULBAREXPRESS.CO.ID – Dinas Perkebunan (Disbun) Sulawesi Barat menggelar forum OPD bersama seluruh jajaran Disbun kabupaten. Hal ini sebagai upaya sinkronisasi program untuk pemulihan ekonomi di tahun 2021-2022.

“Forum ini adalah ajang untuk menyusun program kegiatan 2022 mendatang,” kata Kadis Perkebunan Sulbar, Abdul Waris Bestari di aula hotel Pantai Indah, Mamuju, Sabtu 6 Maret 2021.

Ia mengungkapkan bahwa pihaknya ingin program kerja Dinas Perkebunan di setiap kabupaten se Sulbar dapat disinkronkan dengan program kerja Dinas Perkebunan Provinsi Sulbar.

Sehingga, jika pihaknya melakukan kegiatan di kabupaten, pihak kabupaten langsung mengetahui kegiatan apa yang akan pihaknya laksanakan.

“Termasuk usulan-usulan dari setiap kabupaten akan kami tindak lanjuti ke pusat,” ucapnya.

Ia berharap dengan adanya forum OPD bisa menghasilkan beberapa program yang telah disinkronkan bisa meningkatkan produktivitas perkebunan di Sulbar.

“Kita harap produksi petani meningkat dan berkembang. Sehingga kesejahteraan masyarakat bisa dirasakan di semua kabupaten,” tuturnya.

Waris menambahkan saat ini ia juga fokus mendorong petani untuk mengembangkan komoditi nilam.

Menurutnya, nilam di Sulbar menjadi salah satu komoditas perkebunan yang mulai digeluti petani. Selain harganya yang cukup menjanjikan, pemerintah juga turut membantu dari segi pengembangannya untuk para petani.

“Saat ini nilam mulai dilirik dengan adanya bantuan dan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari Bank Sulselbar ditambah lagi sangat potensi karena harga nilam semakin tinggi,” ujarnya.

Ia menambahkan tahun ini ada bantuan dari APBN untuk pengelolaan nilam di Kabupaten Mamuju.

Kepala Bank Sulselbar Cabang Mamuju Syarifuddin Haruna mengungkapkan bahwa penyaluran bantuan KUR diberikan perorangan dan ada juga perkelompok yang dikerjasamakan dengan perusahaan.

“Jadi ada empat kelompok yang sudah kita tandatangani dengan dikerjasamakan oleh perusahaan. Jadi perusahan PT. Givaudan ini betul-betul membantu para petani dengan melibatkan 2 orang anggotanya untuk mendampingi para petani. Sehingga kelompok merekalah yang mengajukan ke kami dari hasil rekomendasi perusahaan,” beber Syarifuddin.

Selain itu, Syarifuddin juga menyampaikan ini baru awal yang dilakukan perusahaan, dimana nanti akan dikembangkan ke semua kabupaten.

“Perusahaan ini betul-betul membantu petani dengan mendampingi mulai dari cara memproduksi minyak nilam sampai pengembangannya. Apalagi ini perusahaan dari Jakarta yang semua produksi nilam di Indonesia masuk semua di perusahaan ini,” jelasnya.

Syarifuddin membeberkan bahwa untuk bantuan dana KUR per hektare Rp25 juta. Tapi tergantung dari permintaan perusahaan.

“Karena mereka mempunyai tenaga ahli di lapangan, makanya kita tidak ragu membantu karena ada pendampingan di lapangan dari pihak perusahaan. Jadi kita berharap ke depan para petani nilam di Sulbar bisa sejahtera, apalagi perusahaan sudah mencatat perbulan sudah menghasilkan 15 ton yang diperkirakan Rp7 sampai Rp10 miliar uang sudah beredar di masyarakat perbulannya,” jelasnya.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan, Provinsi Sulawesi Barat, Junda Maulana mengatakan, Forum OPD ini adalah forum awal dalam melaksanakan tahapan perencanaan sebelum menjadi program kerja kedepan.

“Kenapa demikian karena kita tidak menginginkan Dinas Perkebunan Provinsi dan kabupaten ada sinergi sehingga forum ini dibentuk. Yang kedua adalah forum ini nanti outputnya adalah penyusunan anggaran tahun 2022 nanti,” ujarnya.

Ia menjelaskan hasil program ini akan didorong ke Bappeda untuk menjadi program usulan selanjutnya.

Sementara menurut Kepala Bidang Program Dinas Perkebunan Sulbar Syamsul, kegiatan yang digelar mulai 5 sampai 6 Maret itu, menghasilkan beberapa rekomendasi sinkronisasi program kerja Dinas Perkebunan kabupaten dengan provinsi.

“Adapun hasil rancangan ini akan kita dorong lebih awal untuk program tahun 2022 di sektor Dinas Perkebunan melalui pengusulan ke Bappeda,” kata Syamsul.

Ia mengungkapkan ada tiga komoditas unggulan yang dimiliki Sulbar diantaranya kakao, kelapa dan kopi. Sedangkan untuk Sawit sendiri tidak masuk karena sudah menjadi prioritas utama yang sudah berjalan.

“Tinggal tiga komoditas unggulan ini akan menjadi fokus utama dari setiap kabupaten. Kalau Mamasa dan Polman kita prioritaskan kopi, sementara kakao kita prioritaskan Polman, Mamuju dan Mateng. Sedangkan kelapa itu prioritas Polman sama Majene,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan tiga komoditas unggulan ini akan diusulkan ke pusat untuk menyinkronkan program yang ada di pusat.

“Karena kalau kakao dan sawit di Mamuju, Mateng dan Pasangkayu. Produktivitas kita ini kan mulai menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya makanya selain kita lakukan peremajaan kita juga intensifikasi pemulihan kebun agar bisa kembali produksinya sesuai standar,” tandasnya. (idr/sol)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *