Inflasi Mamuju Tertinggi Nasional

  • Whatsapp
Inflasi Mamuju Tertinggi Nasional
Kepala BPS Sulawesi Barat Agus Gede Hendrayana Hermawan saat merilis berita statistik, Senin 1 Maret 2021.

MAMUJU, SULBAREXPRESS.CO.ID – Harga kebutuhan masyarakat pada periode Februari 2021 mengalami kenaikan. Kondisi ini membuat Mamuju inflasi sebesar 1,12 persen.

Bukan hanya itu, dari hasil survei konsumen yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Barat, inflasi Mamuju periode Februari tahun 2021 tertinggi secara nasional. Sementara terendah di Tasikmalaya dan Sumenep masing-masing sebesar 0,02
persen.

“Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Gunungsitoli sebesar 1,55 persen dan terendah di Malang dan Tarakan masing-masing sebesar 0,01 persen,” kata kepala BPS Sulbar Agus Gede Hendrayana Hermawan dalam keterangan resminya, Senin 1 Maret.

Ia menjelaskan, tingkat perubahan indeks tahun kalender pada Februari 2021 di Mamuju mencatatkan terjadinya inflasi 2,57 persen dan tingkat perubahan indeks tahun ke tahun (Februari 2021 terhadap Februari 2020) menunjukkan adanya inflasi 3,58
persen.

Kata dia capaian inflasi tahun 2021 merupakan capaian yang cukup tinggi. Hal itu merupakan angka inflasi tertinggi secara nasional selama dua tahun berturut-turut.

“Artinya sudah dua kali Mamuju merupakan kota dengan angka inflasi tertinggi di Indonesia,” ucapnya.

“Hal itu karena musibah yang terjadi di Mamuju, Sulawesi Barat khusunya di Mamuju, telah mendorong kenaikan harga-harga secara umum khususnya di harga makanan dan minuman,” imbuhnya.

Menurutnya, cerminan musibah tersebut juga tampak pada pergerakan harga, dimana selama dua bulan terakhir Mamuju mengalami kenaikan harga relatif tinggi. Salah satu penyebabnya permintaan barang yang belum bisa tersedia secara normal.

Meski sebelumnya, sempat mengalami deflasi namun itu tidak berjalan lama dan saat ini mengalami inflasi relatif tinggi.

Ia menjelaskan, kelompok yang mendorong terjadinya inflasi cukup tinggi yaitu kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 2,32 persen dan kelompok ini menyumbang 0,91 persen terhadap terjadinya inflasi secara umum.

Kemudian kelompok kedua yaitu transportasi, kelompok ini mengalami inflasi sebesar 2,15 persen dengan sumbangan 0,23 persen. Sementara untuk Nilai Tukar Petani (NTP) pada Februari 2021 turun 0,21 persen menjadi 116, 67 dibandingkan pada Januari 116,92.

“Penurunan ini adalah merupakan penurunan yang terjadi pertama kali sejak tujuh bulan terakhir dimana penurunan terkahir di Juni 2020,” jelasnya.

Meski demikian menurutnya, walaupun terjadi penurunan jika dilihat dari besarnya nilai NTP di bulan Februari masih menunjukkan di atas 100 menandakan daya beli petani masih cukup baik.

“Karena hasil dari pertanian masih cukup untuk memenuhi kebutuhan dan memenuhi produksi pertanian,” ujarnya.

Penurunan NTP ini dipengaruhi tiga sub sektor dari lima sub sektor, seperti Tanaman Pangan (NTPP) penurunan menjadi 2,5 persen Holtikultura (NTPH) 0,09 persen dan Peternakan (NTPT) 0,66 persen.

Penurunan yang terjadi pada sub sektor tanaman pangan karena turunnya indeks harga yang diterima oleh petani.

Untuk sektor holtikultura yang menyebabkan penurunan adalah komoditas tanaman obat yaitu jeruk nipis dan jahe, penurunan ini terjadi karena peningkatan indeks harga yang diterima petani tidak sebesar yang harus dibayarkan petani.

Di peternakan penurunan terjadi karena turunnya indeks harga yang diterima petani dan sebaliknya harga yang harus dibayarkan petani sangat tinggi.

Sementara untuk perkembangan pariwisata di Sulbar pada Januari 2021, tercatat berdasarkan tingkat hunian kamar di Sulawesi Barat, 17,23 persen jauh lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.

Hotel klasifikasi bintang di Sulbar turun Turun 32,31 poin persen dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya mengalami penurunan sebesar 25,36 poin. (idr/sol)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *