Urgensi Dakwah Pasca Bencana

  • Whatsapp

Salahsatu tugas kita sebagai manusia adalah berusaha untuk memberi kemanfaatan kepada lingkungan sekitar. Karena pada prinsipnya hidup manusia haruslah dapat memberi yang terbaik dan dapat menyebarkan kebaikan sebanyak dan sebaik mungkin.

Oleh: Furqan Mawardi

(Koordinator Da’i Bencana Muhammadiyah Sulawesi Barat)

 

Masyarakat Sulawesi Barat terkhusus di daerah Mamuju dan Majene  pasca bencana gempa bumi yang berkekuatan 6,2 skala richter hingga kini masih dalam kondisi belum stabil. Rasa khawatir dan takut masih menjadi penyakit masyarakat sebagai dampak trauma.

Goyangan gempa yang terasa hampir di daratan Sulawesi hingga kini masih menjadi hal yang menakutkan bagi setiap warga. Sehingga masih bayak masyarakat yang belum berani tinggal di rumah. Sebagian masih bertahan di daerah pengungsian atau membuat tenda di sekitar tempat tinggal mereka.

Dampak psikologis yang terjadi dimasyarakat akibat gempa ditemukan bervariasi. Tidak sedikit warga yang mengalami depresi hingga putus asa. Hal tersebut akibat diantara mereka ada yang kehilangan harta, rumah atau ditinggal mati oleh keluarga tercinta. Rasa kehilangan yang mendalam serta rasa ketakutan yang terus menghantui tentu akan menjadi masalah besar apabila tidak segera tertangani dengan baik.

Salahsatu model penanganan korban gempa dapat ditangani dengan pendekatan trauma spiritual healing. Yakni sebuah metode pendekatan yang mengajak para korban bencana untuk dapat lebih dekat kepada sang penciptanya. Supaya mereka tetap kuat dalam menghadapi cobaan yang sedang menimpa.

Pendekatan spiritual ini dapat di lakukan dengan mendatangkan ahli agama (Muballigh/dai) ke lokasi bencana untuk melaksanakan tugas dakwah. Kehadiran para dai di lokasi pasca bencana bisa dengan inisatif sendiri atau dapat dikordinir oleh suatu lembaga. Tentu apabila dapat terkoordinasi dengan suatu lembaga atau organisasi, maka tentu akan dapat bekerja secara maksimal dan efesien serta mampu menghasilkan hasil yang sesuai harapan.

Urgensi Dakwah

Dakwah secara sederhana memeliki makna yaitu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kapada hal yang mungkar. Hal ini menandakan bahwa kerja dakwah adalah sebuah kegiatan kebaikan. Sekaligus merupakan suatu bentuk usaha yang menjadikan orang mulia disisi Allah, dan juga  mendapatkan predikat sebagai umat  terbaik. Sebagaimana firman-Nya di surah ali Imran ayat 110  “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”

Dalam Tafsir Al Misbah, Prof Quraish Shihab menjelaskan, kata //minkum// (di antara kamu) dalam ayat di atas dipahami para ulama dengan arti sebagian. Dengan demikian, perintah berdakwah dalam ayat ini tidak tertuju kepada setiap orang. Karena itu, bagi mereka yang menafsirkan dengan makna tersebut, ayat ini mengandung dua macam perintah. Pertama, segenap kaum Muslimin untuk membentuk dan menyiapkan satu kelompok khusus yang bertugas melaksanakan dakwah.

Perintah kedua, kelompok khusus itu seyogianya bisa melaksanakan dakwah menyeru kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran. Meski demikian, Quraish menjelaskan, ada juga ulama yang memfungsikan kata minkum dalam arti penjelasan. Karena itu, ayat ini merupakan perintah kepada setiap Muslim untuk melaksanakan tugas dakwah masing-masing sesuai kemampuannya.

Strategi Dakwah

Setiap usaha untuk dapat mencapai  tujuannya  membutuhkan cara dan strategi supaya tujuan tersebut dapat tercapai sesuai yang diharapkan. Termasuk dalam dunia dakwah. Meskipun memiliki tujuan mulia, namun tetap harus memiliki strategi dan cara yang tepat. Pada surah An Nahl ayat ke-125 Allah SwT talah memberikan beberapa kaidah dalam menjalankan dakwah, yaitu. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Bila dipahami pesan ayat tersebut, maka akan ditemukan tiga strategi tahapan dalam menjalankan tugas dakwah, yaitu :

Pertama, Dakwah bil hikmah memiliki makna bahwa di dalam menyampaikan sebuah kebaikan terlebih dulu mengetahui tujuannya dan mengenal secara benar  yang akan di jadikan obyek dakwah. Mamahami masalah dan  apa yang menjadi kebutuhan. Sehingga yang akan disampaikan betul-betul bermanfaat dan tepat sasaran.

Kedua, Dakwah bilmau’izah hasanah, adalah sebuah usaha untuk memberi kepuasan kepada jiwa seseorang atau komunitas yang menjadi sasaran dakwah. Penyampaiannya dengan metode yang menarik dan menyenangkan. Seperti memberi nasehat dengan kata-kata yang menyejukkan. Mampu membangkitkan semangat bagi yang sedang putus asa. Serta memberi harapan yang sudah hilang asa.

Ketiga, Dakwah mujadalah billati hiya ahsan adalah dakwah yang dilakukan dengan cara bertukar pikiran (berdiskusi), sesuai kondisi masyarakat setempat tanpa melukai perasaan yang diajak berdialog.

 Dakwah Pasca Bencana

Masa tanggap darurat untuk gempa bumi di Mamuju dan Majene telah selesai. Pada masa tanggap darurat yang menjadi sasaran prioritas  utama adalah bagaimana masyarakat dapat selamat dari bencana serta  kebutuhan sandang dan pangan bagi mereka terpenuhi. Asupan makanan dan minuman serta tempat yang aman harus menjadi prioritas sehingga mereka selamat dari bahaya yang mengancam jiwa.

Pada saat ini telah memasuki masa transisi, sehingga skala prioritas pun sudah berubah. Selain kebutuhan yang sifatnya fisik, hal terpenting juga bagi mereka saat ini adalah kebutuhan rohani. Para korban bencana  gempa bumi sangat memerlukan  sentuhan-sentuhan spiritual yang dapat menenangkan jiwa dan dapat membangkitkan kembali semangat hidup mereka. Bimbingan agama berupa nasehat yang baik serta menyejukkan menjadi hal yang dirindu. Sehingga kehadiran sang juru dakwah untuk memenuhi kebutuhan tersebut menjadi mutlak adanya.

Muhammadiyah Sulawesi Barat berusaha untuk tampil berperan di dalam memenuhi kebutuhan mereka para korban bencana. Hal tersebut dengan dibentuknya tim da’i khusus bencana. Dengan program utama membangunkan rumah ibadah di berbagai titik lokasi yang tepat sasaran dengan berbasis kebutuhan. Sekaligus menempatkan para dai di daerah tersebut untuk berdakwah dan membimbing masyarakat. Sehingga mereka para korban bencana tetap berada di jalur fitrahnya sebagai hamba yang mampu beribadah secara baik di depan Sang penciptanya.

Kerja dakwah di daerah bencana merupakan sebuah usaha untuk membangun sebuah harapan, membangkitkan jiwa dan menggelorakan semangat. Apabila seorang dai dapat menyuntikkan spirit tersebut kepada para korban gempa, sehingga mereka mampu untuk bangkit dari keterpurukan, maka hal tersebut sudah menjadi kesuksesan sekaligus menjadi modal besar untuk menatap Sulawesi Barat yang lebih maju. Semoga!

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *