Autisme Bukanlah Akhir Masa Depan Anak

  • Whatsapp
Autisme Bukanlah Akhir Masa Depan Anak

Mungkin belum banyak masyarakat yang benar-benar memahami mengenai autisme. Saat saya masih duduk di bangku SD atau SMP, kata-kata “autis” malah lebih sering dipakai sebagai bahan olokan dan ejekan. Setelah masuk ke pendidikan kedokteran dan melihat anak-anak berkebutuhan khusus, ejekan ini benar-benar tidak relevan dan tidak sensitif.

Autisme atau yang dalam dunia kedokteran disebut sebagai gangguan spektrum autisme (autism spectrum disorder/ASD) adalah disabilitas dalam perkembangan saraf yang dapat menyebabkan kesulitan dalam kemampuan sosial, emosional, komunikasi dan perilaku anak.  Kata “spektrum” menjelaskan bahwa tidak terdapat suatu karakteristik khusus, tetapi terdapat variasi gejala pada tiap penyandangnya.

Secara fisik, tidak terdapat perbedaan yang mencolok antara penyandang autisme dengan anak normal lainnya. Namun, cara mereka belajar, berpikir, dan menyelesaikan masalah agak berbeda dari orang biasanya. Kemampuan penyandang autisme dapat sangat bertalenta hingga sangat terbatas. Beberapa orang dengan autisme membutuhkan pertolongan dalam menjalani kehidupan sehari-hari mereka, sedangkan lainnya mungkin tidak terlalu membutuhkan bantuan.

Pertanyaan yang sering terbersit dalam benak kita, apa sebenarnya penyebab autisme? Berdasarkan penelitian paling mutakhir, tidak ada satu penyebab khususnya. Beberapa faktor yang disinyalir diantaranya genetik, lingkungan, gangguan sistem imun, dan inflamasi atau peradangan pada otak.

Dari penelitian, terdapat ratusan gen yang terlibat dalam terjadinya autisme. Adanya mutasi pada gen dapat memunculkan autisme. Faktor lingkungan memainkan peran terutama pada masa kehamilan, yaitu nutrisi ibu yang kurang baik, polusi udara, dan akumulasi merkuri dari konsumsi ikan laut. Yang terakhir ditemukan adalah peradangan lama/kronis pada sistem saraf di otak sehingga menganggu keseimbangan saraf.

Diagnosis autisme tidaklah mudah karena tidak terdapat suatu tes tertentu, seperti misalnya tes darah. Peranan orang tua sangatlah besar untuk mengamati kondisi dan perilaku anak. Hal ini karena tanda-tanda awal autisme muncul pada usia yang cukup bervariasi.

Pada usia 6 bulan, orang tua harus curiga bila anak jarang atau bahkan tidak tersenyum lebar, jarang menunjukkan ekspresi bahagia, serta kontak mata yang terbatas bahkan tidak ada. Pada usia satu tahun, orang tua perlu curiga bila anak kurang atau bahkan tidak mengoceh (babbling), tidak merespon bila namanya dipanggil, dan tidak ada gestur tubuh seperti menunjuk, menggapai, atau melambai. Pada usia yang lebih besar yaitu diatas 16 bulan, orang tua dapat curiga bila anak jarang atau sedikit mengucapkan kata-kata yang bermakna.

Setelah muncul kecurigaan, orang tua harus mengantar anaknya untuk skrining dan evaluasi dari tenaga medis profesional. Dokter kemudian akan mengamati perilaku dan menanyakan riwayat perkembangan anak. Inilah juga mengapa penting bagi orang tua untuk mengetahui milestone pertumbuhan dan perkembangan anak. Milestone adalah serangkaian tahapan yang harus dicapai anak pada masa tumbuh kembang sejak dari kandungan hingga kira-kira berumur lima tahun.

Beberapa contoh milestone penting contohnya usia satu bulan, kepala anak dapat menoleh ke samping, bereaksi terhadap bunyi lonceng, tangan dan kaki bergerak aktif, dan dapat menatap wajah ibu atau pengasuh. Anak usia enam bulan diharapkan bisa duduk tanpa berpegangan dan memasukkan benda ke mulut. Sementara itu, anak berusia satu tahun seharusnya mampu berdiri tanpa berpegangan dan bermain dengan orang lain. Milestone lengkap dapat dicari atau ditanyakan ke tenaga medis profesional.

Pada usia dua tahun, diagnosis yang ditegakkan oleh dokter dapat dipercaya. Jangan menunggu diagnosis ditegakkan sampai dewasa karena itu berarti anak penyandang autisme mendapat pertolongan lebih lambat. Lebih cepat akan lebih baik karena itu berarti anak akan mendapatkan layanan rehabilitasi dan dukungan yang ia butuhkan.

Namun, banyak pula yang terdiagnosis autisme saat telah menginjak usia dewasa. Seiring dengan anak autis bertumbuh menjadi remaja dan dewasa muda tanpa mendapat pertolongan, mereka mungkin memiliki kesulitan dalam mengembangkan dan mempertahankan pertemanan, kesulitan dalam komunikasi dengan teman sebaya dan orang dewasa, dan sulit berempati serta mengerti perilaku seperti apa yang diinginkan di sekolah atau pekerjaan. Kadang juga terjadi pola perilaku berulang dalam kegiatan yang dilakukan serta terlalu bergantung dengan rutinitas.

Dewasa penyandang autisme mungkin juga pada akhirnya datang mencari pertolongan ke medis karena memiliki kondisi penyerta yang mengganggu, seperti gangguan hiperaktivitas atau pemusatan perhatian, gangguan obsesif kompulsif, kecemasan atau depresi.

Anak autisme bukan berarti harus kehilangan hidup atau masa depannya. Anak autisme juga tidak berarti mereka bodoh atau kecerdasannya berkurang. Buktinya banyak orang terkenal di dunia yang ternyata memiliki ciri-ciri spektrum autistik. Salah satunya Bill Gates yang ternyata sering menghindari kontak mata dan melakukan kegiatan repetitif atau berulang. Jadi, diagnosis autisme bukanlah akhir dari masa depan anak.

Diagnosis autisme tidak hanya mengubah hidup penyandangnya, tetapi juga mengubah kehidupan orang di sekitarnya. Tidak jarang, dunia orang tua seperti berantakan dan terbolak-balik. Perjalanan seseorang dan keluarganya dalam menghadapi autisme diibaratkan dengan lari maraton, panjang dan penuh perjuangan.

Sebuah penelitian oleh Chodidjah dan Kusumasari menyebutkan bahwa ibu yang merawat anak usia sekolah dengan autisme seringkali mengalami stres emosional. Penyebabnya adalah khawatir akan masa depan anak dan hubungan anak dengan saudaranya, menghadapi masalah keuangan, dan kesulitan dalam mengupayakan pendidikan inklusi.

Seorang anak seperti kertas putih yang mampu menyerap energi dari orang tuanya. Ia bisa merasakan bila sang ayah atau bunda sedang merasa marah, sedih, stres, atau depresi. Hal ini juga akan mempengaruhi perkembangan emosi anak. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memiliki support group/kelompok pendukung dan bergabung dalam komunitas autisme.

“Anda tidak sendirian”, “Masih ada harapan”,  inilah pesan penting yang akan didapatkan dari komunitas autisme. Terdapat beberapa komunitas autisme di Indonesia yang aktif menyediakan layanan kelompok dukungan, contohnya Yayasan Autisma Indonesia (YAI), Teman Autis, Yayasan Cinta Harapan Indonesia, Komunitas Teman ADHD (KITA), dll.

Autisme bukanlah suatu penyakit melainkan sebuah kondisi khusus. Ia tidak dapat disembuhkan 100% namun kondisi ini dapat diatasi. Anak penyandang autisme tidak dapat menularkan kondisinya. Tidak ada obat tertentu untuk menyelesaikan autisme. Terapi oleh medis professional sesuai dengan tingkat autisme dapat menolong penyandang memiliki kualitas hidup yang baik. (***)

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *