Doni Tinjau Pembangunan RS Covid-19, Sulbar Sebagai Daerah Penanganan Covid Terbaik

  • Whatsapp
FOTO: IDRUS IPENK
MENINJAU. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo meninjau persiapan pembangunan RS Covid-19, di Mamuju, Rabu 31 Maret 2021.

MAMUJU, SULBAR EXPRESS – Rencana pemerintah Provinsi Sulawesi Barat memiliki RS Covid-19 segera terealisasikan.

Hal itu diketahui usai, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Doni Monardo menggelar rapat evaluasi penangan covid dan meninjau persiapan RS Covid-19 di Mamuju, Rabu 31 Maret 2021.

Bacaan Lainnya

Doni sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 menjelaskan, RS Covid-19 yang dipersiapakan Pemprov adalah gedung RS Regional lama yang saat ini mulai dilakukan rehab.

“Jadi tidak membangun ulang, sisa direhab sedikit,” kata Doni kepada wartawan di Mamuju, Rabu 31 Maret 2021.

Menurutnya, saat ini telah dipersiapkan RS sementara untuk pasien Covid-19, sembari menunggu seluruh proses pengerjaan bangunan RS Regional lama.

“RS sementara ini sudah selesai semuanya, tinggal beberapa material yang menunggu kedatangan dari Jakarta. Sehingga seluruh logisitik yang berkaitan penanganan covid akan berada di sini,” ujarnya.

Ia menjelaskan, mengenai anggaran, akan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah pusat melalui Dana Siap Pakai (DSP) BNPB, pihaknya masih menunggu usulan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengenai besaran anggaran yang akan disiapkan.

“Jumlahnya belum kita ketahui nanti tim PUPR yang akan melakukan usulan dan seluruh perencanaan akan didampingi BPKP,” jelasnya.

Doni menuturkan, bahwa pemerintah pusat memberikan dukungan penuh utamanya penanganan Covid-19. Sehingga masyarakat yang terpapar bisa mendapatkan perawatan sebagaiman masyarakat yang lain.

Sementara Deputi Penanganan Darurat BNPB Dody Ruswandi mengatakan, RS Covid-19 di Sulbar merupakan RS keenam yang dibangun di Indonesia. Melihat progres di daerah lain yang sudah direalisaikan itu hanya membutuhkan empat minggu waktu yang diperlukan untuk membangun.

“Manado, Bangka Belitung, Aceh, bisa seleai empat minggu, jadi diharapkan Sulbar dapat lebih cepat,” ucapnya.

Mengenai angka kasus positif di Sulbar, Jubir Covid-19 Sulbar Safaruddin Sanusi membeberkan, data per 31 Maret 2021, kasus pasien sembuh 5.119 dari 5.365 kasus terkomfirmasi positif Covid-19, dan meninggal 113 kasus.

Peningkatan kasus terjadi pada Januari lalu, dimana masyarakat Sulbar diperhadapkan bencana gempa sehingga terjadi kerumunan masyarakat di pengungsian. Namun seiring berjalannya pemulihan bencana, protokol kesehatan mulai terbangun dan maasyarakat kembali tertib memperhatikan protokol kesehatan.

“Sepekan terakhir tinggal sedikit peningkatan kasus,” tuturnya

Ketua Satgas Covid-19 Doni Monardo pun ,mengapresiasi upaya Pemda di Sulbar menekan angka Covid-19. “Tren kasus cukup bagus, sudah tidak terjadi peningkatan siginifikan,” imbuhnya.

Dia membenarkan kasus memuncak di Sulbar saat Januari lalu, pada saat situasi darurat bencana gempa bumi. Bahkan ia sendiri yang berkunjung di Sulbar pun terpapar. Atas dasar itu juga, pada kunjungan kemarin, Doni tak berkenan makan siang bersama pejabat Pemprov Sulbar melalui acara kunker itu.

Kata dia, meskipun saat ini berjalan vaksinasi, namun soal protokol kesehatan tidak diabaikan.

“Protokol harus tetap diperhatikan. Kita tidak boleh lalai satu hari, satu menit pun tak boleh. Makanya tadi kita nahan lapar daripada kita menimbulkan masalah baru,” katanya.

Sementara Epidemiolog Gugus Tugas Nasional dr Dewi Nur Aisyah menjelaskan melihat angka kasus yang ada di Sulawesi Barat, mulai melandai.

“Kasus aktif yang ada di wilayah Sulawesi Barat ini sudah turun jauh dari apa yang ada di bulan Januari, Februari saat ini berada di angka 2,54 persen sedangkan kesembuhan yang sudah mencapai 95 persen,” kata Dewi.

Menurutnya, kesembuhan yang ada di Sulbar berada di atas rata rata-rata nasional dan juga di atas rata-rata keseluruhan dunia. Angka kasus aktif juga menunjukkan angka yang jauh lebih kecil dibandingkan rata-rata nasional.

“Angka kematian juga berada di bawah rata-rata standar dunia, maupun diangka rata-rata level nasional,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pekan terakhir berkurang 90,2 persen. Ini merupakan provinsi ketiga dengan jumlah kasus positif terendah di Sulbar, sementara untuk kesembuhannya Sulbar adalah provinsi keempat dengan angka kesembuhan tertinggi di Indonesia.

“Ini adalah capaian cukup baik, untuk Sulawesi Barat,” tandasnya. (idr/sol)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *