Orangtua Siswa Dibekali Pengurangan Resiko Bencana

  • Whatsapp
Orangtua Siswa Dibekali Pengurangan Resiko Bencana
SPAB. Nursalam saat menjadi narasumber pada Workshop Penyusunan Dokumen SPAB di Aula SMPN 6 Sendana.

MAJENE, SULBAREXPRESS.CO.ID – Sekolah yang berada di kawasan rawan bencana kini diajak membenahi fasilitas keamanan sekolah sebagai bagian dari mitigasi bencana dan pembentukan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).

Ajakan ini, dituturkan Nursalam saat menjadi narasumber pada Workshop Penyusunan Dokumen SPAB di Aula SMPN 6 Sendana dan SDN 15 Belalang sejak 29 Maret sampai 1 April 2021, diikuti para perwakilan orangtua, siswa dan guru kelas.

Dalam materinya, melakukan simulasi penyelamatan diri pada kedua lokasi sekolah yang memiliki dampak gempa di Majene. “Kedua sekolah ini berisiko menjadi bencana gempa karena banyak rumah, sekolah dan lainnya yang bisa mengancam nyawa, sehingga dilatih untuk pengurangan risiko jalur bencana di sekolah,” terangnya.

Dikatakan, sekolah salah satu lokasi yang paling berisiko karena banyak siswa dan guru dalam satu area sedang belajar mengajar. “Upaya penyelamatan diri dan pengurangan risiko yang bisa dilakukan adalah simulasi dan melatih bagaimana cara penyelamatan yang aman,” urai Kepala SMPN 5 Tande itu.

Ada sejumlah hal yang harus dipertimbangkan, diantaranya akses masuk dan keluar yang aman termasuk untuk tempat pengungsian sementara bagi masyarakat saat bencana. “Terutama fasilitas sanitasi dan air bersih yang memadai, pemantauan, pendanaan dan pengawasan terus menerus untuk perawatan fasilitas dan keselamatan, serta rambu keselamatan memadai,” ungkapnya.

Melalui workshop Penyusunan Dokumen SPAB untuk melindungi anak dan warga sekolah dengan menyediakan suasana dan lingkungan yang mendukung proses pembelajaran, kesehatan, keselamatan dan keamanan setiap saat.

“Ada beberapa pilar yang dilakukan, antara lain pilar fasilitas aman, memiliki lokasi sekolah yang aman dengan desain dan konstruksi yang mampu bertahan ketika terjadi bencana, perbaikan gedung sekolah atau memindahkan sekolah bila perbaikan
tidak mengurangi kerentanan sekolah, penataan fasilitas sekolah dari ancaman struktural dan non-struktural yang dapat menjadi risiko termasuk mendesign ruang kelas sehingga tidak ada furniture yang bersudut runcing atau tajam untuk mempermudah proses evakuasi,” ujarnya.

Tidak hanya itu, memastikan akses dan aspek keamanan untuk anak yang berkebutuhan khusus tersedia, seperti akses jalan yang landai, petunjuk yang jelas, suara yang terdengar jelas. “Pastikan akses siswa ke sekolah cukup aman, seperti jalan setapak ketika menyeberangi sungai, fasilitas air dan sanitasi yang memadai,” bebernya.

Mantan Kepala SMPN 7 Majene ini juga menguraikan, upaya adaptasi perubahan iklim diupayakan, seperti penampungan air hujan, sumber listrik matahari, kebun sekolah, pemeliharaan gedung sekolah secara berkala sehingga perlu dipastikan anggaran tersedia, termasuk manajemen pengurangan risiko bencana.

“Perlu dipahami kebijakan dan panduan pada tingkat sekolah atas kajian rencana untuk pengurangan risiko dan kesiapsiagaan tanggap bencana
dalam manajemen sekolah,” urainya.

Untuk membentuk, melatih tim siaga bencana sekolah terdiri dari guru, siswa, orang tua dan masyarakat. “Memahami prosedur dalam situasi darurat. Selain itu mengembangkan rencana kontijensi, melakukan simulasi secara rutin yang melibatkan guru, siswa, orang tua dan masyarakat,” tuturnya.

Dijelaskan, untuk mengidentifikasi lokasi sekolah alternatif bila terjadi bencana tentunya dilakukan pemeliharaan gedung sekolah secara berkala sehingga perlu dipastikan anggaran tersedia guna pemahaman pengurangan resiko bencana dengan membuat kesepakatan murid, orangtua dan masyarakat, seperti tempat yang aman bagi siswa untuk berlindung ketika bencana terjadi sebelum dijemput orangtua.

“Apa peran orangtua dan masyarakat saat terjadi bencana, sehingga dilakukan uji coba kesepakatan dengan cara simulasi yang melibatkan murid, guru, orangtua dan masyarakat, menyiapkan bahan ajar bagi guru agar dapat dipergunakan sebagai
bahan ajar di kelas,” sebutnya.

“Untuk mensosialisasikan konsep sekolah siaga bencana khususnya terkait bahaya gempa tentu meningkatkan kemampuan masyarakat dalam kesiapsiagaan dan respon terhadap bencana gempa
(Kerentanan),” terangnya.

Ia mengatakan, bencana di Indonesia dan khususnya di Provinsi Sulbar telah menjadi catatan buruk yang menimbulkan korban, baik jiwa dan infrastruktur yang sangat banyak. “Gempa pernah terjadi pada 1969 yang lalu dan kembali terjadi lagi pada tahun 2021, ini menjadi catatan sejarah yang selalu dikenang masyarakat Indonesia khususnya Provinsi Sulbar,” ungkapnya.

Nursalam menguraikan, terdapat komponen pendidikan siaga bencana beberapa pilar, diantaranya fasilitas sekolah aman meliputi desain dan pembangunan sekolah yang sesuai dengan aturan dan standar keamanan bangunan, kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi bangunan sekolah serta fasilitas pasca bencana untuk melakukan perawatan sarana dan prasarana pendidikan,” pungkasnya.

Selain itu, melakukan penataan ruang kelas agar aman di saat ancaman bencana terjadi, pengadaan fasilitas pendukung seperti adanya perlengkapan tanggap darurat di setiap ruangan seperti alat pemadam kebakaran, tanda evakuasi, dan lainnya. Termasuk pengawasan secara berkala mengenai keamanan gedung sekolah.

“Indonesia merupakan daerah rawan gempa bumi karena dilalui jalur pertemuan 3 lempeng tektonik, yaitu lempeng Indonesia, Australia, lempeng Eurasia, dan lempeng Pasifik. Indonesia juga memiliki gunung api aktif terbanyak di dunia, sebanyak 127 buah, beberapa diantaranya merupakan letusan gunung api terkuat yang pernah ada,” katanya.

Melalui pelatihan dan simulasi, Nursalam menambahkan, siswa dan guru
mendemonstrasikan cara-cara penyelamatan diri yang aman jika terjadi bencana. “Selain itu, ratusan siswa dan guru dilatih orangtua siswa mengenal berita bohong (Hoaks) agar tidak mudah panik dan menyebar informasi salah. Para siswa juga diajak bercerita dan menuliskan pengalaman ketika harus mengungsi sebagai salah satu cara berbagi dan melepas trauma,” pungkasnya.(hfd/smd)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *