Sebuah Tawaran Meningkatkan Kekebalan

  • Whatsapp
Sebuah Tawaran Meningkatkan Kekebalan

(PENGANTAR DARI PENULIS)

Pandemi Covid-19 sungguh mengubah banyak hal. Pelajaran-pelajaran berharga bertebaran dan mengubah kesadaran. Orang diingatkan kembali tentang interaksi sosial yang sehat dan aman dari infeksi virus berbahaya itu.

Di tengah suasana mencekam dan penuh kehati-hatian menunggu ditemukannya vaksin, epidemiolog menekankan pentingnya imunitas agar tubuh kita tidak rentan dari infeksi virus. Saya senang sekali dan menggali bacaan lebih lanjut ketika banyak ahli kesehatan mengaitkan rasa bahagia dan pengaruhnya dengan imunitas, kekebalan seseorang.

Bukan apa-apa, saya salah satu orang yang meyakini pentingnya rasa bahagia. Saya juga yakin bahwa memang kebahagiaanlah yang dicari banyak orang. Bila sudah dicapai, seseorang akan merasa tentram, tenang dan damai.

Di sisi lain, potensi yang dapat menggerogoti kebahagiaan kita juga sangat besar. Ini terkait dengan dilema fitrah kita sebagai makhluk sosial: setiap individu punya keunikan, namun pada saat yang sama kita juga harus bergaul dan berinteraksi dengan orang lain. Baik interaksi dengan pimpinan di tempat kerja, dengan bawahan, sesama rekan bisnis, di lingkungan tempat tinggal, bahkan di dalam rumah tangga selaku ayah, ibu, maupun dengan keluarga besar.

Di tengah keniscayaan itu –bahwa tiap pribadi punya keunikan namun harus tetap berinteraksi dengan orang lain yang keunikannya mungkin bertentangan dengan pribadi-pribadi lainnya– sungguh tidak mudah menggapai kebahagiaan. Perselisihan, kecewa, marah, sedih seringkali terjadi. Sebagian besar, malah banyak orang yang frustasi lalu memilih jalan pintas ketika merasakan penderitaan yang tiada akhir.

Nah, saya pribadi merupakan salah seorang yang mengklaim diri saya sebagai pribadi yang mudah merasa bahagia. Alhamdulillah. Saya memang sungguh-sungguh berbahagia. Sejujurnya, “yang penting happy” juga menjadi prinsip dasar saya, dan setiap orang mestinya pun demikian. Kita harus bisa berbahagia saat berada di manapun, sebagai warga negara, tetangga di tempat tinggal, pimpinan perusahaan, karyawan, maupun di dalam rumah tangga. Dengan perasaan bahagia itulah kita menjalani hidup dengan penuh kenikmatan.

Yang sangat menarik, di usia saya yang sudah menjelang 50 tahun dan umur pernikahan yang menginjak tahun ke-20 di tahun 2021 ini, saya makin yakin dengan rumus yang menegaskan bahwa keluarga ibarat jantung. Sebagaimana jantung yang memompa darah dan mengalirkannnya ke seluruh tubuh melalui saluran-saluran pembuluh darah, jika keluarga bahagia, anggota-anggotanya merasakan bahagia, selanjutnya bukan hal sulit untuk mereguk kebahagiaan-kebahagiaan di tempat lain. Perlakukanlah mereka dengan sikap dan laku terbaik. Karena keluarga adalah kunci.

Alhamdulillah, niat untuk menuangkan isi pikiran tersebut ke dalam bentuk buku akhirnya terwujud. Saya sungguh bersyukur kepada Allah SWT atas kelancaran ini.

Tulisan-tulisan dalam buku ini berisi pandangan yang saya petik dari pengalaman sehari-hari. Paparannya seputar ide dan cara-cara sederhana yang saya lakukan dalam menafsirkan semua kejadian yang saya alami, maupun refleksi atas situasi yang berlangsung di sekitar saya. Disadari atau tidak, penafsiran tersebut ternyata sangat berperan dalam mengembangkan hati hingga saya merasakan bahagia. Tidak hanya gembira bersama anak-anak dan istri di rumah, kebahagiaan itu menular kala saya berinteraksi di lingkungan tetangga, keluarga besar, pun hingga ke urusan pekerjaan sebagai profesional di kantor.

Setelah vaksin ditemukan dan pemerintah melakukan program vaksinasi agar masyarakat kebal sehingga pandemi ini dapat teratasi, vaksin ini juga perlu kita suntikkan ke dalam diri kita.

Saya sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bang Sandiaga S. Uno, pengusaha sukses, penuh ilmu dan semangat berbagi, yang di tengah kesibukannya sehari-hari, menyempatkan diri untuk mendukung dan memberikan kata pengantar buku ini. Begitu juga dengan Dr. Atnike Nova Sigiro, dengan idealisme dalam menyebarkan gagasan terhadap kesetaraan gender, Direktur Eksekutif Yayasan Jurnal Perempuan ini pun bersedia menuliskan kata pengantarnya di sini.

Terima kasih yang tak terhingga juga saya sampaikan kepada keluarga saya, istri dan anak-anak yang bukan hanya mendukung, tetapi dengan ikhlas mendoakan saya menyelesaikan penulisan berisi kebahagiaan yang saya dapatkan bersama mereka.

Hanya satu keinginan saya membagi pengalaman dan perspektif tersebut: saya berharap teman-teman saya, saudara, siapapun yang berkesempatan membaca buku ini juga turut merasakan kebahagiaan. Tanggung jawab terhadap keluarga dapat kita tunaikan dengan baik, dan rejeki lancar serta hidup kita penuh berkah.

Semoga.
Mochamad Husni

Dengan semangat berbagi, buku ini dapat di-download dan dibaca secara gratis. Yang berminat dapat mengirimkan email ke insuh2013@gmail.com.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *