Sulbar Rawan, Mitigasi Bencana Perlu Dioptimalkan, Gubernur Sebut Kendala SDM dan Dana

  • Whatsapp
FOTO: IDRUS IPENK
MENERIMA, Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar saat menerim dokumen dari Badan Geologi Kementrian ESDM di Kantor BAPPEDA Provinsi Sulbar, Rabu 14 April 2021.
MAMUJU, SULBAR EXPRESS.CO.ID – Provinsi Sulbar harus memantapkan penataan ruang serta menguatkan edukasi mengenai mitigasi bencana.
Demikian rekomendasi dari Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral usai pihak kementerian menyerahkan hasil kajian kebencanaan pasca gempa di Sulbar.
Koordinator Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami, Supartoyo mengatakan pasca gempa terjadi di Mamuju dan Majene, pihaknya mengirim dua tim: tanggap darurat dan pemetaan geologi lingkungan.
Menurutnya, hasil pengkajian menerangkan soal dampak gempa berupa kerusakan bangunan kemudian bahaya-bahaya ikutan gempa bumi seperti gerakan tanah, likuifaksi, retakan tanah.
“Itu datanya ada dan kami sudah serahkan ke Gubernur,” ucap Supartoyo, saat menjadi narasumber pada sosialisasi kajian geologi terpadu penataan ruang Mamuju dan Sulawesi Barat, di kantor BAPPEDA, Provinsi Sulawesi Barat, Rabu 14 April.
Data itu, lanjutnya bertujuan memberikan gambaran mengenai kondisi kebencanaan di daerah Sulbar. Sekaligus diproyeksikan akan menjadi rekomendasi upaya melakukan mitigasi, adaptasi dan kesiapsiagaan dimasa mendatang.
“Kita harapkan data itu sebagai upaya mitigasi, penataan ruang dan peningkatan kapasitas masyarakat gempa itu selalu berulang dan apabila terjadi sudah lebih siap,” ucapnya.
Ia menjelaskan dari hasil pemetaan yang dilakukan. Mamuju menjadi daerah paling rawan, kemudian Majene.
“Likuifaksi itu ada di daerah Rimuku, dan Tapalang dimana displesmenya horisontal maupun vertikal cukup lumayan horisontalnya lebih dari 30 cm vertikal lebih dari 10 cm, Sehingga harus hati-hati lebih baik rumah panggung kalau mau membangun disana,” urai Supartoyo.
Ia memaparkan, Likuifaksi dipicu guncangan gempa bumi kuat, kemudian tanahnya tanah pasir. “Muka air tanahnya itu dangkal, dimana dangkal itu kurang dari 10 meter tetapi harus ada pemicunya. Pemicunya itu gempa,” bebernya.
Menurutnya, yang perlu diwaspadai adalah potensi tsunami, dan itu potensinya bisa terjadi di Sulbar, sumbernya dari patahan naik selat Makassar dan patahan naik Majene, Mamuju.
Ia berharap data itu bisa menjadi pemicu pelaksanaan mitigasi, penataan ruang dan peningkatan kapasitas masyarakat, khusus bagi pemerintah dalam melakukan pembangunan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.
Sementara Gubernur Sulbar, Ali Baal Masdar mengatakan dari hasil pemaparan yang dilakukan Badan Geologi pasca gempa, beberapa hal menjadi catatan khusus yang akan dilakukan Pemprov, utamanya mengenai pembangunan kawasan yang aman dari bencana.
“Karena dari hasil kajiannya didapat daerah yang ada patahan, hanya yang terdesak ini seperti rumah yang mau dibangun harus diperhatikan,” ujarnya.
Ali Baal juga merespon dengan mewacanakan persiapan desain tata ruang dan wilayah yang  mendukung, sehingga mitigasinya bisa lebih jelas. Sebab menurutnya tidak ada yang mengetahui kapan bencana itu datang.
Namun sayang, Gubernur Ali masih sebatas berencana. Realisasi terkait optimalisasi mitigasi dan kesiapsiagaan akan bencana sepertinya belum dapat digulirkan dalam waktu dekat.
Pihak Pemprov masih beralasan karena keterbatasan SDM dan anggaran, sehingga itu belum berjalan maksimal. “Yang jelas kita sudah tau disini kita harus berhati-hati,” ucapnya.
Ia bersyukur karena Sulbar banyak mendapat bantuan dengan kehadiran para ahli, karena banyak memberi ilmu dan pengetahuan utamanya mengenai kebencanaan. (idr/)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *