Merespon Bencana di Tengah Pandemi Covid-19
, JMK-Oxfam Tanamkan Budaya Protokol Kesehatan

  • Whatsapp
FOTO: IDRUS IPENK
CUCI TANGAN. Relawan JMK-Oxfam saat melakukan pelatihan PHBS kepada anak-anak penyintas gempa di lokasi terdampak Gempa di Kecamatan Malunda Kabupaten Majene, Rabu 26 Mei 2021.

SEJUMLAH relawan telah merespon bencana gempa yang melanda Provinsi Sulbar, Januari lalu. Salah satunya dari JMK-Oxfam. Penanganan dampak bencana dilakukan sambil mengedukasi korban gempa terkait protokol kesehatan covid-19.

Laporan: Idrus Ipenk, Majene

Bacaan Lainnya

Gempa bumi yang melanda Sulbar utamanya di Kabupaten Mamuju, Majene dan Mamasa menghadirkan tantangan tersendiri bagi para penyintas dan relawan. Sebab terjadi di tengah bencana nonalam, pandemi korona.

Setidaknya begitu dirasakan para Relawan Jejaring Mitra Kemanusiaan (JMK) Oxfam bersama Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Sulawesi Tengah yang sampai pekan ini masih melakukan serangkaian agenda penanganan bencana.
Mereka fokus melakukan respon bencana di Kecamatan Malunda kabupaten Majene. Hampir empat bulan para relawan JMK-Oxfam melakukan pendampingan.
Pemulihan dilakukan di sejumlah titik pengungsian yang terdampak gempa, apalagi saat pandemi Covid-19 masih berlangsung seperti saat ini, tentu menjadi sebuah tantangan agar tidak muncul kemungkinan terjadinya penularan virus Corona.

Sehingga JMK-OXFAM, dalam melaksanakan program harus memperhatikan betul penerapan protokol kesehatan (Prokes) termasuk membuat program promosi kesehatan dalam rangka pencegahan covid-19.
Technical Assistant program WASH JMK Oxfam, Andi Iskandar Harun, menyampaikan dalam rapid assessment, tim juga berupaya tetap melaksanakan Prokes covid-19 dengan melakukan pembagian masker kepada pengungsi yang tidak menggunakan masker.

“Tim yang kami turunkan juga dipastikan sehat dan tidak terkontaminasi dengan virus dengan melakukan rapid antigen serta menerapkan protokol kesehatan,” papar Iskandar, belum lama ini.

Untuk bidang program air bersih atau WASH, JMK-Oxfam juga sementara dalam proses pembangunan penyediaan air bersih untuk kebutuhan masyarakat.
Program ini bekerjasama dengan masyarakat untuk mempersiapkan proyek pembangunan pipa saluran air bersih di dua kecamatan yaitu Ulumanda dan Majene. Ditarget selesai pada waktu dua pekan kedepan.

“JMK bekerja untuk tiga isu utama yaitu Wash direspon awal menyediakan emerjensi laprim tempat untuk aktivitas mandi dan air bersi dengan model bisa diakses semua orang seperti disabilitas,” kata Technical Assistant program WASH JMK-Oxfam, Andi Iskandar Harun.

Pihaknua memilih Desa Kayu Angin sebagai lokasi program lantaran masyarakat sangat kekurangan air bersih, terutama air minum. “meski PDAM ada, tetapi tidak bisa digunakan,” beber Iskandar.

Pihaknya memproyeksikan fasilitas air bersih itu nantinya akan dimanfaatkan sekira 100 KK. Kedepan akan diserahkan ke warga untuk dilakukan pengelolaan secara mandiri.
Kepala Dusun Kayu Angin Utara, Malunda, Mashudin mengapresiasi program tersebut. Sejak gempa kata dia, sumber air untuk MCK kurang layak, karena menggunakan air bendungan sungai.
“Kalau musim hujan, pasti keruh. Sejak gempa, malah makin parah. Makanya, kami siap mehibahkan lahan untuk Intake dan Tugu Air di beberapa titik,” ucap Mashudin.
Selain itu, juga digarap proyek Latrine (jamban umum) dan fasilitas CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun) di sejumlah titik pada empat desa di Kecamatan Malunda yang merupakan daerah pusat gempa Januari lalu. Fasilitas umum itu disebut ramah perempuan dan kelompok rentan lainnya.
“Kami juga mendistribusikan 900 paket kesehatan kepada kelompok rentan, 36 fasilitas cuci tangan, pembangunan 12 latrine ramah perempuan dan sarana air bersih,” bebernya.

Tidak sampai disitu pihaknya juga melaksanakan pelatihan Program Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai bagian dari upaya pencegahan akan penularan berbagai penyakit, utamanya covid-19 yang saat ini masih mengancam.
Dari program ini diharapkan menunjang keberhasilan sektor WASH, termasuk upayanya mendorong kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga dan melakukan pemeliharaan lingkungan untuk keberlanjutan sumber daya air.
JMK merupakan jejaring organisasi yang memiliki kepedulian pada upaya respon kebencanaan yang beranggotakan 23 lembaga yang berbasis lokasi dari barat sampai timur Indonesia.

Setiap organisasi mitra secara independen dan terus menerus meningkatkan kapasitas teknis dan manajemennya dalam memberikan bantuan teknis, pendampingan dan advokasi untuk pengelolaan bencana dalam arti yang luas secara lebih bertanggung jawab, lebih inklusif dan lebih responsif gender.
Termasuk terkait edukasi dan sosialisasi akan pentingnya upaya bersama dalam menekan penularan covid-19. Seperti dilakukan di lokasi terdampak gempa di Majane, Sulbar.

Sambil memberi contoh, para relawan JMK-Oxfam rutin berkampanye, menanamkan budaya protokol kesehatan: pakai masker, rutin cuci tangan pakai sabun, menjaga jarak dan menghindari kerumunan kepada para penyintas gempa, khsusnya bagi anak-anak.
Harapannya, menjadi kebiasaan bersama di tengah upaya penanganan dampak bencana alam gempa bumi. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *