Hipmi Mamuju Kampanyekan Tiga Program, Memacu UMKM di Masa Pandemi

  • Whatsapp
FOTO: IDRUS IPENK
PRODUK LOKAL. Salah satu karyawan UMKM UD Nabila Africa sedang mengemas abon ikan sebagai produk andalan mereka. Kelurahan Karema, Mamuju, Rabu 2 Juni 2021.

MAMUJU, SULBAREXPRESS.CO.ID – Upaya pemulihan ekonomi perlu terus digenjot dengan memaksimalkan peran UMKM. Olehnya, Hipmi Mamuju mendorong tiga program penguatan.

Laju pertumbuhan ekonomi tersendat pandemi covid-19. Menyikapinya, pemerintah pusat maupun daerah telah mengulirkan beragam program pemulihan.

Bacaan Lainnya

Salah satunya menyasar para pengusaha Mikro, Kecil, dan Menengah atau UMKM agar mereka bisa tetap bertahan di tengah pandemi covid-19.

Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Mamuju mendorong agar stimulan kepada para pelaku UMKM di daerah ini bisa dimaksimalkan lagi.

“Usaha mikro kecil dan menengah merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Mereka adalah ujung tombak perputaran ekonomi di setiap daerah, karena itu perlu untuk terus mendapat perhatian dari pemerintah,” ujar Ketua Hipmi Mamuju, Andi Aso Darul Aksan, kemarin.

Dijelaskan, pandemi memberikan dampak luar biasa khususnya di sektor kewirausahaan, sebab telah mendorong lahirnya sejumlah kebijakan pembatasan; physical distancing (jaga jarak) dan menjauhi kerumunan.

“Membuat beberapa sektor usaha mengalami ketimpangan. Akibatnya banyak perusahaan yang merumahkan sebagian besar karyawanannya, karena tidak mampu untuk membiayai operasional yang membengkak akibat pandemi. Produksi mengalami penurunan, sementara biaya sangat besar,” terangnya.

Tantangan ekonomi pun semakin berat. Berdasarkan data dari BPS kata dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia minus 0,74 persen pada kuartal pertama di tahun 2021.

Olehnya, gerakan bersama untuk pemulihan ekonomi nasional yang terus digalakkan, diharap bisa membangkitkan kembali geliat ekonomi di daerah-daerah, terutama Sulbar.

Menurutnya, usaha yang paling merasakan dampak pandemi sampai saat ini adalah sektor akomodasi, makan dan minum sebesar 92,47 persen, transportasi (90,34 persen), sektor jasa lainnya (90,9 persen).

Sedangkan yang paling rendah terdampak adalah sektor air dan pengolahan sampah sebesar 68 persen, sektor listrik (67,8 persen) dan sektor perumahan, property (59 persen).

“Untuk di Sulbar kondisinya agak timpang, ditambah adanya gempa bumi. Hipmi dalam hal ini mengambil peran untuk melakukan pendampingan terhadap pengusaha yang mengalami ketimpangan akibat pandemi,” sambung Andi Aso.

Pihaknya mencatat 200 pelaku usaha di Mamuju. Dari jumlah itu ia menuturkan berdasarkan presentase yang terdampak akibat pandemi, hampir sama dengan perekonomian nasional, yakni 0,7 persen.

Hipmi Mamuju pun berupaya mendorong percepatan pemulihan usaha melalui program bersama UMKM selamatkan ekonomi daerah.

“Dengan melakukan pemberdayaan dan pendampingan. Jadi kita ada program yang kami suarakan ada tiga, pertama belanja di warung tetangga sebagai upaya menghidupkan pertumbuhan ekonomi dari rantai distribusi paling bawah, kemudian membeli produk lokal serta membeli produk UMKM daerah,” urai Andi Aso.

Pihaknya berharap dukungan yang maksimal terhadap eksistensi UMKM di daerah ini bisa diwujudkan secara gotong royong dan berkesinambungan.

Karena itu, Hipmi Mamuju bekerja sama pemerintah daerah melalui Aparatur Sipil Negara (ASN) agar mendukung pertumbuhan ekonomi bagi pelaku UMKM, dengan membeli produk UMKM lokal yang ada.

“Itu dilakukan sebagai upaya menumbuhkan sektor UMKM di Mamuju, karena UMKM bisa memberikan dampak besar terhadap pertumbuhan ekonomi di Sulbar, khususnya di Mamuju,” tandasnya. (idr/cm)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *