KELUARGA CEGAH STUNTING, PASTI BISA !

  • Whatsapp
KELUARGA CEGAH STUNTING, PASTI BISA !

 

(Refleksi Hari Keluarga Nasional XXVIII, 29 Juni 2021)

 

Oleh :

NASRULLAH, SKM, M.Si

Penata Kependudukan dan KB Ahli Muda

BKKBN SULBAR

 

Keputusan Presiden RI nomor 39 tahun 2014 menetapkan tanggal 29 Juni sebagai Hari Keluarga Nasional (Harganas) dan bukan merupakan hari libur. Kali ini yang ke-28 sejak tahun 1993. Mengusung tema “Keluarga Keren Cegah Stunting”.

Meski diperingati dalam suasana keprihatinan pandemi Covid-19 yang belum berakhir, Harganas senantiasa membawa misi mulia. Keluarga Indonesia diharapkan menjadi pilar utama dan pertama dalam menyelesaikan berbagai persoalan bangsa. Salah satu yang cukup serius dan menjadi perhatian kita saat ini, yaitu kasus stunting yang masih cukup tinggi, sebesar 27,7% (Kemenkes, 2019).

STUNTING DI INDONESIA

Stunting atau sering disebut kerdil atau pendek adalah kondisi gagal tumbuh pada balita (anak berusia di bawah lima tahun) akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang terutama pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari janin hingga anak berusia 23 bulan. Anak tergolong stunting apabila panjang atau tinggi badannya berada di bawah minus dua standar deviasi panjang atau tinggi anak seumurnya. Stunting pasti pendek, tapi tidak semua yang pendek adalah stunting.

Global Nutrition Report (2016) mencatat bahwa prevalensi stunting di Indonesia berada pada peringkat 108 dari 132 negara. Dalam laporan sebelumnya, menyebut Indonesia sebagai salah satu dari 17 negara yang mengalami beban ganda gizi, kelebihan dan kekurangan gizi. Di kawasan Asia Tenggara, prevalensi stunting di Indonesia merupakan tertinggi kedua, setelah Kamboja.

Meski demikian, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas, 2018) menunjukkan adanya penurunan prevalensi stunting balita secara nasional sebesar 6,4% selama 5 tahun, yaitu dari 37,2% pada 2013 menjadi 30,8% pada 2018.

Baik balita atau baduta (anak berusia di bawah dua tahun) yang mengalami stunting akan memiliki tingkat kecerdasan yang tidak maksimal, menjadikan anak lebih rentan terhadap penyakit dan di masa depan berisiko menurunnya tingkat produktivitas. Pada akhirnya, stunting akan menghambat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kemiskinan dan memperlebar ketimpangan.

Pengalaman dan bukti Internasional menunjukkan bahwa stunting menghambat pertumbuhan ekonomi dan menurunkan produktivitas pasar kerja, sehingga mengakibatkan hilangnya 11% GDP (Gross Domestic Products) serta mengurangi pendapatan pekerja dewasa hingga 20%. Stunting juga berkontribusi melebarkan kesenjangan, sehingga mengurangi 10% dari total pendapatan seumur hidup dan juga menyebabkan kemiskinan antar generasi.

Oleh karena itu, pemerintah menargetkan penurunan kasus stunting dari 27,7% pada 2019 menjadi 14% pada 2024. Berbagai kebijakan dan strategi nasional pun disusun, termasuk kolaborasi 23 kementerian dan lembaga dalam percepatan penurunan stunting.

KELUARGA CEGAH STUNTING

Pencegahan stunting sejatinya fokus pada penyebab masalah gizi yang langsung maupun tidak langsung. Penyebab langsung, seperti kurangnya asupan gizi dan penyakit infeksi. Sementara penyebab tidak langsung, seperti ketahanan pangan (akses pangan bergizi); lingkungan sosial (pemberian makanan bayi dan anak, kebersihan, pendidikan, dan tempat kerja); lingkungan kesehatan (akses pelayanan preventif dan kuratif); dan lingkungan pemukiman (akses air bersih, air minum, dan sarana sanitasi).

Keempat faktor penyebab tidak langsung ini mempengaruhi asupan gizi dan status kesehatan ibu dan anak. Intervensi terhadap keempat faktor tersebut diharapkan dapat mencegah masalah gizi.

Penyebab langsung dan tidak langsung tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti pendapatan dan kesenjangan ekonomi, perdagangan, urbanisasi, globalisasi, sistem pangan, jaminan sosial, sistem kesehatan, pembangunan pertanian, dan pemberdayaan perempuan.

Di samping itu, mengatasi penyebab stunting memerlukan prasyarat pendukung, diantaranya: komitmen politik dan kebijakan, peran aktif pemerintah dan swasta, dan kapasitas pelaksana.

Pencegahan stunting memerlukan pendekatan menyeluruh dan konvergen. Dalam konteks yang lebih sederhana, keluarga sebagai unit terkecil masyarakat adalah komponen utama yang sangat berperan dalam pencegahan maupun penanggulangannya.

Ruang lingkup keluarga sangat erat kaitannya dengan masalah gizi. Keluarga menentukan baik tidaknya pola pengasuhan anak, termasuk kurangnya pengetahuan ibu mengenai kesehatan dan gizi, baik sebelum, selama kehamilan, ataupun setelah melahirkan serta masih terbatasnya akses rumah tangga atau keluarga dalam mengonsumsi makanan bergizi.

Karenanya, potensi ancaman stunting dalam mewujudkan generasi berkualitas, mengingatkan kita bahwa saat ini adalah momentum yang tepat bagi keluarga untuk bangkit dan berbenah, memperbaiki dan menyatukan semangat mengembalikan hakikat keluarga. Keluarga adalah lingkungan terkecil, terdekat, dan tak ternilai. Keluarga cegah stunting, pasti bisa !

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *