Mamuju Sumbang Inflasi

  • Whatsapp
Mamuju Sumbang Inflasi
TANGKAPAN LAYAR MENJELASKAN. Kepala BPS Sulawesi Barat, Agus Gede Hendrayana Hermawan saat merilis hasil IHK tahun 2021, Senin 1 Maret 2021

MAMUJU, SULBAREXPRESS.CO.ID – Mei 2021, Indeks Harga Konsumen (IHK) di Mamuju menanjak 108,33 persen. Ibu Kota Sulbar menyumbang inflasi sebesar 1,36 persen.

Peningkatan IHK yang merupakan ukuran biaya keseluruhan barang dan jasa yang dibeli oleh konsumen, dilansir Badan Pusat Statistik Provinsi Sulawesi Barat, kemarin.

Bacaan Lainnya

Koordinator Fungsi Statistik Distribusi, BPS Provinsi Sulawesi Barat, Fredy Takaya mengatakan hasil tersebut berdasarkan pemantauan harga eceran berbagai komoditas barang dan jasa di Mamuju pada Mei tahun ini.

“Inflasi terjadi berdasarkan indeks harga konsumen mengalami kenaikan pada Mei 2021 di Mamuju terhadap Desember 2020 sebesar 4,11 persen dan inflasi dari tahun ke tahun Mei 2021 terhadap Mei 2020 sebesar 4,16 persen,” urai Fredy dalam pertemuan virtual, Rabu 2 Juni.

Fredy meneruskan dari 11 kelompok pengeluaran, ada enam yang memberikan andil terhadap inflasi, satu diantaranya menyumbang deflasi, sisanya tidak memberikan andil pada Kota Mamuju.

“Kelompok pengeluaran yang memberikan andil inflasi yaitu, kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,18 persen pakaian alas kaki 0,06 persen, perumahan air dan listrik sebesar 0,01 persen kesehatan 0,02 persen, tranportasi 0,07 persen, kelompok penyediaan makanan dan restoran 0,03 persen,” urainya.

Sementara kelompok yang memberikan andil sumbangan deflasi yaitu, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan, 0,01 persen.

Adapun kelompok pengeluaran yang tidak memberikan andil sumbangan yaitu kelompok perlengkapan dan peralatan, rekreasi kelompok pendidikan.

Fredy juga mengurai perkembangan inflasi di 13 kota di Pulau Sulawesi, dimana 12 diantaranya mengalami inflasi dan satu kota mengalami deflasi.

“Inflasi tertinggi terjadi di Mamuju 1,36 persen dan terendah di Makassar 0,26 persen. Sementara deflasi terjadi di Manado sebesar 0,30 persen,” sebutnya.

Khusus Nilai Tukar Petani (NTP) di Sulbar, lanjut Fredy, pada Mei 2021 sebesar 120,07 atau naik 1,02 persen dibanding NTP April 2021 (118,86 persen).

“Kenaikan ini disebabkan peningkatan Indeks yang diterima dibandingkan dengan indeks yang dibayarkan petani, dimana indeks yang diterima petani sebesar 1,38 persen sementara indeks yang dibayar sebesar 0,36 persen,” terangnya.

Ia menjelaskan, kenaikan tersebut juga disebabkan empat dari lima subsektor yang mengalami perubahan, sementara sub sektor holtikultura mengalami penurunan sebesar 0,99 persen.

Adapun perbandingan NTP antar provinsi Pulau Sulawesi pada Mei 2021, lima dari enam daerah mengalami perubahan positif; Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan,

Sulawesi Tenggara, Gorontalo dan Sulawesi Barat. Sementara provinsi dengan perubahan negatif adalah, Sulawesi Tengah.

“Untuk NTP Sulbar merupakan tertinggi di Sulawesi dan lebih tinggi dari NTP Nasional 103,39,” tegas Fredy.

Kondisi tersebut berbeda dengan sektor kepariwisataan di Sulbar pada April 2021.

Dijelaskan, berdasarkan tingkat hunian kamar pada April 2021 menyentuh 24,11 persen atau mengalami penurunan sebesar 7,27 poin jika dibanding Maret (31,38 persen).

Secara nasional kata dia, 78 dari 90 kota mengalami inflasi. Hanya 12 kota yang menyumbang deflasi pada Mei 2021.

Inflasi tertinggi terjadi di Manokwari sebesar 1,82 persen dan terendah di Tembilahan (0,01 persen). Sedangkan, deflasi tertinggi terjadi di Timika sebesar 0,83 persen dan terendah di Palembang (0,02 persen).

Ditambahkan, inflasi Januari 2021 sampai Mei 2021 di Mamuju jauh berbeda pada bulan sama tahun 2020. (idr/cm)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *