Dua Formasi Teknis untuk Disabilitas, GEMA Difabel Soroti Syarat Penerimaan

  • Whatsapp
IST
TES CAT. Para peserta seleksi CPNS Mamuju tahun lalu, saat bersiap menghadapi rentetan pertanyaan. Tahun ini pemerintah juga membuka kuota bagi penyandang disabilitas.

MAMUJU, SULBAREXPRESS.CO.ID – Pemda mendapat kesempatan merekrut penyandang disabilitas dalam penerimaan Calon Aparatur Sipil Negara (CASN) 2021.

Ada dua formasi yang disediakan bagi penyandang disabilitas. Yakni tenaga teknis analisis pendapatan daerah dan penyusun program anggaran dan pelaporan.

Kepala Bidang Pengadaan Pemberhentian dan Informasi Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Mamuju, Muhammad Ibrahim mengatakan, pemerintah menetapkan kebutuhan PNS menjadi dua, yaitu formasi umum dan formasi khusus.

Formasi khusus bagi penyandang disabilitas. “Alhamdulillah tahun ini kita sediakan dua kuota.

Formasinya teknis. Kalau tak ada yang mendaftar bisa diisi bagi calon peserta umum,” kata Ibrahim, saat dikonfirmasi, Rabu 7 Juli.

Ibrahim berharap, kuota tersebut diisi penyandang disabilitas yang memang memiliki kualifikasi, kompetensi dan sesuai dengan persyaratan jabatan.

“Baik dia cacat bawaan atau cacat karena kecelakaan, itu bisa daftar. Asalkan sesuai dengan jurusan dan status pendidikan terakhirnya,” ungkap Ibrahim.

Pemerintah pusat dan daerah wajib mengalokasikan paling sedikit dua persen untuk kebutuhan khusus penyandang disabilitas dari total alokasi kebutuhan PNS.

Pemilihan formasi jabatan dan unit kerja penempatan ditentukan oleh masing-masing instansi sesuai dengan kebutuhan organisasi, persyaratan jabatan, jenis dan derajat kedisabilitasannya.

“Sementara di seleksi PPPK, penyandang disabilitas tidak disediakan formasi khusus. Namun, calon pelamar yang merupakan penyandang disabilitas tetap bisa mendaftar pada seluruh formasi yang tersedia,” jelasnya.

Ketua GEMA Difabel Mamuju, Safar Malolo menyebutkan, seharusnya syarat penerimaan CASN bagi kalangan disabilitas tidak mesti harus strata satu (S1). Sebab, banyak kalangan disabilitas di Mamuju tidak melanjutkan pendidikannya ke tingkat perguruan tinggi.

“Yang diterima hanya S1, tidak ada penerimaan ijazah SMA. Beda yang formasi umum, banyak yang SMA. Padahal tingkat pendidikan teman-teman disabilitas di Mamuju, masih rendah. Kendalanya karena akses disabilitas itu sendiri,” jelasnya.

Menurutnya, kampus perguruan tinggi di daerah tidak begitu ramah pada kalangan disabilitas.

Sehingga, banyak yang mengurungkan niatnya untuk melanjutkan pendidikan.

Sisi lain, lanjut Safar, seharusnya pemerintah benar-benar mencukupi kuota bagi kalangan disabilitas. Sesuai regulasi itu dua persen dari total kuota. (idr/chm)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *