Jangan Biarkan Anak Anda menjadi Robot!

  • Whatsapp
Jangan Biarkan Anak Anda menjadi Robot!

 “Bagaimana hari ini? Perutnya masih sakit?” tanya saya kepada seorang pasien anak usia 5 tahun yang terbaring di ranjang perawatan. Ini adalah hari keduanya dirawat karena diare, keadaannya sudah jauh membaik. Tidak ada jawaban yang keluar, ia masih asyik menatap telepon genggamnya. Saya mengulangi kembali pertanyaan, namun tindak-tanduknya tidak berubah. Si Anak tampak terhipnotis dengan layar gadgetnya.

Oleh: dr. Valensa Yosephi

Bacaan Lainnya

Fenomena tersebut bukan yang pertama saya ditemui dan mungkin begitu juga dengan Anda. Orang tua selalu membutukan pengalih perhatian anak agar tidak rewel. Jika zaman dahulu kala orang tua mengandalkan baby sitter atau mainan, sekarang perannya berubah kepada gadget.

Orang tua mungkin merasa terbantu dengan kehadiran gadget. Mereka dapat berargumen bahwa banyak konten mendidik di media dan orang tua dapat mencegah terjadinya kecanduan/adiksi pada anak. Namun, apakah Anda yakin tidak ada pengaruh buruknya pada anak Anda?

Berdasarkan penelitian dari Centre for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika, rata-rata anak zaman sekarang menghabiskan delapan jam sehari di depan layar eletronik atau disebut juga screen time. Screen time mencakup waktu yang dihabiskan seseorang di televisi, komputer, tablet, atau telepon genggam untuk tujuan apa pun, apakah itu bermain game, menonton, melihat media sosial ataupun chatting. Hingga saat ini, Indonesia belum memiliki data berapa screen time anak rata-rata.

Otak berkembang paling pesat saat anak berumur 2-5 tahun. Sistem saraf mereka sangatlah sensitif. Layar media elektronik yang menstimulasi dengan cara yang tidak natural dalam waktu yang panjang akan menyebabkan otak anak mengalami stimulasi berlebihan (overstimulasi). Inilah yang disebut dengan Electronic Screen Syndrome (ESS). Belum banyak masyarakat Indonesia yang pernah mendengar istilah ini, padahal pakar-pakar dari luar negeri sudah membahasnya sejak sepuluh tahun yang lalu.

Mekanisme yang terjadi sebenarnya adalah setiap anak menonton atau berinteraksi dengan layar elektronik, sistem saraf menjadi siaga dan stres. Yang perlu dicatat adalah reaksi stres ini terjadi tanpa memandang konten yang ditonton. Konten edukasi pun akan membuat anak overstimulasi. Bagian otak anak yang terdampak adalah lobus frontal, berfungsi mengatur emosi, ingatan/memori, berpikir fleksibel, kontrol dan pengendalian diri, empati, dan kreativitas.

ESS tidak sama dengan kecanduan internet, tetapi bisa menjadi tanda-tanda awal pada beberapa anak. Menurut Dunckley, seorang pakar psikologi dalam buku “Internet Addiction in Children and Adolescents”, ESS sebenernya adalah gangguan akibat disregulasi. Artinya, anak menjadi tidak mampu untuk mengatur mood, atensi, dan kesadarannya dalam tingkat yang normal. Bila anak Anda tidak bisa fokus dan tidak bisa diatur, mudah marah atau tantrum, mudah merasa kelelahan, teman-teman lain tidak mau bermain dengannya lagi, atau nilai-nilainya turun tanpa sebab yang jelas. Mungkin saja Anak Anda terkena ESS.

Bila anak terus dibiarkan bertumbuh dalam dunia digital yang berlebihan, efek jangka panjangnya jelas, kecanduan internet bahkan diakui memiliki efek yang sama pada otak seperti kecanduan narkoba dan alkohol. Terjadi pula penurunan kesehatan secara umum, seperti kurang gerak dan aktivitas fisik, kualitas diet yang kurang sehat sehingga meningkatkan risiko obesitas lebih tinggi. Penelitian lain oleh Hoare menyimpulkan bahwa dengan semakin meningkatnya screen time, semakin tinggi pula gejala-gejala depresi dan kecemasan. Belum lagi risiko mengalami masalah pada penglihatannya, karena saat menatap gadget kita lebih jarang berkedip yaitu kurang dari 5 kali berkedip dalam satu menit. Padahal, normalnya seseorang berkedip 15 kali dalam semenit.

Bila anak dicurigai mengalami ESS, lakukanlah puasa alat elektronik selama minimal 3 minggu. Tujuannya adalah menghilangkan semua screen time interaktif, termasuk video game, internet, chatting, media sosial dan aplikasi permainan edukasi. Batasi screen time pasif misalnya menonton TV maksimal 5 jam per hari. Pada awalnya, reaksi tantrum anak akan sangat keras namun orang tua sebaiknya sabar dan teguh. Bila perlu, carilah bantuan psikolog atau konselor.

Selanjutnya, rekomendasi penggunaan media elektronik dari American Academy of Pediatrician untuk anak saat ini adalah sebagai berikut; Anak berusia dibawah 2 tahun tidak dianjurkan menggunakan media elektronik, kecuali dalam waktu terbatas dengan perantaraan orang tua misal untuk video chat. Hal ini karena mereka belajar dan bertumbuh lebih banyak saat mengeksplorasi dunia sekitarnya secara langsung.

Bila orang tua ingin mulai memperkenalkan media digital, usia 18-24 bulan adalah waktu yang tepat. Pilihlah program berkualitas tinggi dan dampingi anak. Jangan biarkan anak menggunakannya sendirian.    Untuk anak berusia dua hingga 5 tahun, batas screen time tidak lebih dari 1 jam per hari. Pilihlah media yang tidak mengandung kekerasan dan edukasional. Temani pula saat mereka menggunakan gadget. Pada anak dan remaja usia 5-17 tahun, direkomendasikan screen time tidak lebih dari 2 jam per hari.

Orang tua terlebih lagi harus memberi contoh pada anak dengan tidak menggunakan gadget di depan anak, lebih banyak mengajak anak bermain di luar ruangan untuk eksplorasi. Jangan menjadikan gadget sebagai jalan keluar untuk mendiamkan anak saat menangis, saat anak tidak mau makan. Anak-anak tidak tahu apa yang baik untuknya sehingga tanggung jawab memang merupakan kewajiban orang tua untuk membesarkan dan mendidik anak.

Orang tua dapat membangun kebiasaan baik dengan mengajarkan anaknya terlibat dalam kegiatan yang menenangkan seperti membaca dan mewarnai saat malam hari. Waktu sehari-hari lebih banyak dihabiskan dengan bertemu tatap muka dengan teman, bermain secara fisik, mengamati lingkungan bahkan berimajinasi mengenai cita-cita atau bermain peran seperti dokter-dokteran. (***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *