Mogok Kerja Nakes RS Mamuju Berlanjut, Ruang Perawatan Terpaksa Digabung

  • Whatsapp
FOTO: IDRUS IPENK
RUMAH SAKIT. Sejumlah pegawai RS Mamuju tampak berjaga di pos pelayanan, belum lama ini. Hingga kemarin, polemik mogok kerja ratusan Nakes non ASN di fasilitas kesehatan ini belum juga tuntas.

SULBAREXPRESS.CO.ID, MAMUJU – Ratusan tenaga kesehatan non ASN RSUD Mamuju masih mogok kerja. SDM yang tersisa harus kerja ekstra.

Kondisi ini tentu berimbas pada terganggunya pelayanan kesehatan di rumah sakit. Ruang perawatan bahkan ada yang harus digabung.

Bacaan Lainnya

Petugas Instalasi Rawat Inap di RSUD Mamuju, Hermawati menyebutkan, aksi mogok tersebut sangat berdampak pada pelayanan.

Pihak RS, lanjutnya, harus memutar otak untuk memaksimalkan layanan di tengah keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) Nakes.

Menyiasati kekurangan tersebut, pihak RS terpaksa menggabungkan beberapa ruang perawatan pasien.

“Yang tadinya jumlah Nakes banyak, menjadi sedikit. Biar tidak ditanyakan otomatis pasti akan terganggu pelayanan. Makanya ada tiga ruangan kita gabung jadi satu. Seperti ruangan perawatan Melati, Cempaka Anak dan Interna. Itu dijadikan satu,” tandasnya.

Aksi mogok kerja 223 tenaga medis sukarela sudah berjalan sejak 12 Juli lalu. Namun sampai hari ini, belum ada kejelasan akan nasib mereka dari pihak manajemen RSUD Mamuju.

Direksi RSUD Mamuju dan Pemkab Mamuju juga belum merumuskan solusi menuntaskan seluruh tuntutan para Nakes.

Salah satu Nakes, Mardiana mengatakan, ia dan rekan-rekannya masih menunggu alternatif jalan keluar dari direksi RSUD ataupun Pemkab Mamuju.

Ia kembali menyebut, awalnya sudah menyampaikan keluhan para Nakes itu kepada Direktur RSUD Mamuju. Hanya saja, tak ada jawaban meyakinkan.

Makanya Mardiana dan beberapa rekannya berinisiatif menemui Bupati Mamuju, St. Sutinah Suhardi, sebelum peringatan Hari Jadi Mamuju pertengahan Juli ini.

“Kalau dari ibu bupati merespon dan salah satu tuntutan kami tentang jaminan kesehatan sudah disetujui. Tuntutan lain kita masih menunggu,” Jelasnya, Rabu kemarin.

Tuntutan dimaksud utamanya terkait pembayaran gaji. Mardiana mengaku belum terbayarkan sejak April lalu, atau sudah empat bulan. Mandek.

Alasan pihak RSUD Mamuju kata dia, tidak ada Surat Keputusan (SK). Menurutnya, persoalan tersebut seharusnya bisa diselesaikan pihak RS sebelum terjadi aksi mogok kerja.

“Setidaknya bisa dievaluasi kinerja direktur. Kita masih menunggu solusi, kalau tidak ada tentu kita kembali mengingatkan,” tandasnya.

Wakil Bupati Mamuju, Ado Mas’ud mengaku terus konsen menyikapi polemik ini. Bahkan sudah melihat langsung pelayanan di RSUD Mamuju setelah ratusan Nakes memutuskan mogok kerja.

Sejauh ini, Ado menilai belum ada upaya serius atau inisiatif dari pihak manajemen rumah sakit untuk melakukan pembenahan.

Karena itu, menurut dia, Inspektorat bakal diturunkan guna mengaudit alokasi anggaran di RS Mamuju.

“Sistem penyalurannya dan sebagainya. Menurut analisa kami, penggajian Nakes seharusnya bisa diatur secara internal di sana,” ucapnya.

“Saya paham kalau semua harus ada SK. Karena SK Bupati kita bekukan dulu semua tenaga kontrak di Mamuju. Mestinya ada inisiatif SK yang dikeluarkan rumah sakit sendiri dalam rangka jaminan,” imbuh Ado.

Wakil Bupati menekankan permasalahan Nakes ini adalah masalah kemanusiaan dan membutuhkan perhatian yang serius dari para pihak terkait.

“Walaupun pendapatan rumah sakit ikut terdampak gempa, tapi sebenarnya ini tentang inisiatif dan political will direktur saja. Keseriusannya kita mau lihat,” sebut Ado.

Wabup menambahkan, RSUD Mamuju saat ini sudah berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), sehingga Pemkab Mamuju tidak lagi berkewajiban memberikan suplai anggaran.

Sementara Direktur RSUD Mamuju, dr Titin tak berkomentar banyak mengenai persoalan ini. Menurutnya, sejauh ini belum ada solusi yang bisa ditawarkan.

“(Kondisinya, red) masih seperti itu. Belum ada kejelasan terkait pembayaran gaji Nakes,” singkat dr Titin. (Idr/chm)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *