Ekonomi Sulbar Mulai Membaik

  • Whatsapp
FOTO: IDRUS IPENK
VIRTUAL. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulbar, Agus Gede Hendrayana saat merilis hasil perhitungan BPS terkait pertumbuhan ekonomi Sulbar. Mamuju, Kamis 5 Agustus 2021.

MAMUJU, SULBAREXPRESS.CO.ID – Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sulawesi Barat mulai membaik.

Pada triwulan II 2021, ekonomi sulbar mengalami pertumbuhan sebesar 5,44 persen dibanding periode sama tahun lalu (yoy).

Bacaan Lainnya

Rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulbar menunjukkan bahwa besaran Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB) mencapai Rp 8,35 triliun. Meningkat dari tahun sebelumnya (Rp 7,92 T).

Menurut Kepala BPS Sulbar, Agus Gede Hendrayana, pertumbuhan ekonomi Sulbar juga terjadi pada triwulan pertama 2021. Tercatat sebesar 5,20 persen.

“Ini menjadi kabar gembira dimana ekonomi sulbar mengalami perbaikan dengan mencatat pertumbuhan tinggi,” ujarnya saat merilis hasil perhitungan BPS terkait pertumbuhan ekonomi Sulbar, Kamis 5 Agustus.

Sulbar sempat mengalami kontraksi, namun ternyata mampu tertutupi dengan nilai tambah di bulan kedua, sehingga ekonomi daerah mencatatkan hal positif di tengah pandemi.

“Ekonomi Sulbar tumbuh 5,20 persen secara q-on-q, didominasi penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh 16,36 persen, kemudian sektor lapangan usaha kontruksi tumbuh 9,74 persen, industri dan pengolahan 7,36 persen,” papar Agus.

“Dibandingkan dengan provinsi di Sulampua (Sulawesi, Maluku, dan Papua), maka Sulbar menunjukkan pertumbuhan baik karena masih lebih baik dibandingkan beberapa provinsi tetangga,” tambah dia.

Namun jika disandingkan dengan Sulawesi Tengah, Papua dan Maluku Utara, provinsi ke-33 ini disebut masih perlu mengejar ketertinggalan.

“Ini disebabkan struktur ekonomi yang relatif berbeda dan pandemi membuat kinerja berbeda dari setiap daerah,” sebut Agus.

Dia melanjutkan, secara umum di wilayah Sulampua, pertumbuhan ekonomi Sulbar berada di posisi keenam. Posisi teratas ditempati Maluku Utara sebesar 16,89 persen, Sulteng 15,39 persen dan Papua 13.14 persen.

BELUM MENYENTUH
LEVEL NORMAL
Kemarin, Kepala BPS, Margo Yuwono juga melakukan konferensi pers terkait kondisi ekonomi bangsa di tengah pandemi.

Dia menerangkan bahwa Indonesia sudah keluar dari resesi ekonomi seiring realisasi pertumbuhan pada triwulan II-2021 mampu menyentuh level positif hingga 7,07 persen (yoy).

“Secara teknis Indonesia sudah mengakhiri resesi karena resesi itu didefinisikan dengan kondisi pertumbuhan ekonomi yang mengalami kontraksi minimal dua triwulan berturut-turut,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis.

Margo menjelaskan dilihat secara teknis maka sebuah negara dikatakan masuk ke dalam situasi resesi apabila pertumbuhan ekonominya mengalami kontraksi minimal dua triwulan berturut-turut.

Indonesia telah masuk ke jurang resesi sejak triwulan III-2020 karena mengalami pertumbuhan negatif mulai triwulan II-2020 sampai triwulan I-2021 yaitu masing-masing sebesar minus 5,34 persen, minus 3,49 persen, minus 2,19 persen dan minus 0,74 persen.

Kontraksi ini terjadi sebagai akibat dari berbagai kebijakan pemerintah dalam rangka menekan eskalasi kasus COVID-19 baik melalui Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) maupun Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Kebijakan tersebut pada akhirnya menekan secara ketat mobilitas masyarakat sehingga menurunkan berbagai indikator penunjang pertumbuhan ekonomi termasuk konsumsi rumah tangga yang menyumbang 57,6 persen Produk Domestik Bruto (PDB).

Di sisi lain, terdapat tren pembalikan pada berbagai indikator ekonomi Indonesia karena kinerja ekonomi terus memperlihatkan adanya kenaikan hingga akhirnya triwulan II-2021 tumbuh 7,07 persen (yoy) dan 3,31 persen (qtq).

“Ketika kuartal II-2021 mengalami pertumbuhan positif baik quartal to quartal (qtq) maupun year on year (yoy) maka Indonesia sudah keluar dari resesi,” ujarnya.

Meski demikian, Margo menegaskan realisasi pertumbuhan ekonomi kuartal II-2021 yang sudah membaik dan kembali ke level positif ini belum menyentuh level normal seperti sebelum pandemi korona.

“Pertumbuhan ekonomi ini masih belum menyentuh level normal,” tegasnya. (idr/chm)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *