BI Dorong Digitalisasi Sistem Pembayaran, Solusi Efektif Saat Masa Pandemi

  • Whatsapp
foto: MUH SHOLIHIN
Salah satu pengelola kafe di Mamuju tempak sedang melayani pelanggan, gambar direkam Minggu 22 Agustus 2021.

Ekosistem digital menjadi salah satu harapan baru dalam menghadapi pandemi Covid-19. Olehnya semua sektor saat ini didorong mengambil potensi besar tersebut, termasuk sektor perekonomian.

——–

Bacaan Lainnya

Dalam konsentrasi pengembangan ekosistem digital, Bank Indonesia sudah mengambil peran dengan mendorong digitalisasi sistem pembayaran melalui QR Code (QRIS). Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Sulawesi Barat, Hermanto, program ini menjadi salah satu program strategis.

“Hal ini dilakukan untuk mewujudkan sistem pembayaran yang aman, efisien, lancar dan andal. Sangat tepat untuk terus didorong sebab juga menjadi salah satu solusi dalam menghadapi pandemi,” kata Hermanto di Mamuju, Jumat 20 Agustus 2021.

Hermanto menjelaskan tantangan program ini terletak pada kebiasaan masyarakat yang menggunakan transaksi tunai. Meski demikian ia optimis kedepan sistem digitalisasi pembayaran bisa berjalan maksimal.

“Tapi itu saat awalnya saja. Sekarang masyarakat sudah terbiasa, apalagi generasi milenial,” imbuhnya.

Kondisi ini menurut Hermanto, membuat target digitalisasi sistem pembayaran menunjukkan hal positif di Sulbar. Itu bisa dilihat dari peningkatan merchant QRIS dari 2.638 pada akhir tahun 2019 menjadi 19.217 merchant per tanggal 16 April 2021. Meningkat signifikan sebesar 628,47 persen.

“Bahkan pertumbuhan merchant QRIS di Sulbar di atas pertumbuhan nasional dan juga tertinggi jika dibandingkan dengan wilayah lainya,” imbuh Hermanto.

Selain itu, jika dilihat data merchant, peluang pengembangan digitalisasi pembayaran di Provinsi Sulawesi Barat masih sangat besar. Itu mengacu dari perbandingan jumlah potensi dan pemanfaatan merchant.

Jika dilihat berdasarkan wilayah, diketahui Kabupaten Mamuju sebagai daerah dengan jumlah merchant terbanyak yang mencapai 11.634 merchant. Disusul Kabupaten Polewali Mandar dan Majene masing-masing sebesar 5.328 serta 1.039 merchant.

“Peluang pengembanganya sangat besar, seperti di Kabupaten Poewali Mandar misalnya, masih bisa bertambah, dan memang saat ini pertumbuhan penggunaan QRIS sangat bagus. Ditambah lagi masyarakat sangat berminat transaksi dengan sistem ini, ya memang sudah sesuai dengan kondisi ya, masa pandemi juga, memang ini yang menjadi sisi peluangnya,” urai Hermanto.

Tak lupa, Hermanto mengingatkan kepada para pelaku usaha dan masyarakat agar tidak mengabaikan protokol kesehatan. Ia juga mengingatkan masyarakat agar mengikuti program vaksinasi.

Di tempat terpisah, pengelola Kafe di Kabupaten Mamuju, Andi Rahmat Syam, mengaku sangat mendukung program digitalisasi pembayaran. Menurut dia program ini sangat bermanfaat dan aman.

“Sejak awal launching QRIS kami sudah memberikan dukungan. Kami menerapkan pembayaran dengan QRIS, dan minat costumer kami sangat besar,” aku Rahmat Syam.

Bukan hanya itu, Rahmat Syam mengaku pihaknya juga sangat terbantu dalam hal pengelolaan keuangan. Sebab pemanfaatan pembayaran digital membuat transaksi berjalan sehat dan aman.

“Ya karena kami menggunakan sistem kemitraan, maka model pembayaran digital ini sangat memudahkan dalam aspek kontrol arus keuangan,” tandas Rahmat Syam. (sol)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *