Gogos Kambu, Tangguh Dimasa Pandemi

  • Whatsapp
Gogos Kambu, Tangguh Dimasa Pandemi
FOTO: M Danial BERTAHAN DI TENGAH PANDEMI. Karyawan lapak gogos milik Mu'mina tengah menyiapkan pesanan pembeli. Kecamatan Tinambung, Polman, Ahad 29 Agustus 2021.

GOGOS kambu, salah satu kuliner Mandar yang cukup populer.

Catatan: M Danial

Bacaan Lainnya

Digemari karena rasa gurih yang khas. Berisi daging ikan olahan atau kelapa parut. Yang membuat rasanya berbeda dengan gogos kebanyakan. Terlebih jika dinikmati dengan bumbu pedas.

Penjual gogos banyak terdapat di jalan Trans Sulawesi, Kabupaten Polewali Mandar. Seperti di Katitting, Desa Tandung, Kecamatan Tinambung.

Lapak penjualan gogos berjejer di depan rumah warga di pinggir jalan, sebelum perbatasan Kabupaten Majene. Awalnya, hanya satu-dua penjual gogos di wilayah tersebut.

Seiring waktu, makin banyak warga menggantungkan hidup sebagai penjual gogos. Kini, jumlahnya sudah puluhan orang. Berjualan sejak pagi sampai sore. Kerap sampai malam. Menjual gogos kambu maupun gogos biasa. Tanpa di-kambu. Selama masa pandemi Covid-19 pun, penjualan gogos tidak terlalu terpengaruh. Terbilang cukup tangguh.

Salah satu penjual gogos kambu, Mu’mina (60), mengatakan sudah lebih tujuh tahun menggeluti usaha gogos kambu di depan rumahnya.

Dari usaha tersebut, ia mendapatkan sekira Rp 600-Rp 700 ribu setiap hari. Selama pandemi Covid-19 yang kini menjelang dua tahun, ia mengatakan penjualannya tetap seperti biasa.

“Alhamdullilah, selama ada corona, kita tidak pernah berhenti menjual. Tetap lancar, sama sebelum corona,” jelas perempuan beranak tiga itu, Ahad 29 Agustus.

Memulai kegiatan sejak subuh sampai sore. “Biasa juga sampai malam. Tergantung kondisi,” katanya.
Setiap hari, Mu’mina dibantu beberapa orang menyiapkan berbagai kebutuhan, mulai mengolah bahan sampai menjual.

Bahan pembuatan gogos kambu, antara lain beras ketan yang merupakan kebutuhan utama, rata-rata 20-an liter untuk persiapan dua hari. Lalu, kelapa 20 butir, daun pisang, dan tali pengikat gogos.

Selain itu, ikan yang diolah untuk isian gogos. Kebutuhan lain adalah sabuk kelapa untuk memanggang gogos. Mu’mina menyebut nilai sampai Rp 1,5 Juta disiapkan setiap dua hari, untuk membeli beras ketan, kelapa, daun pisang dan tali pengikat gogos. Selain itu, untuk membayar empat orang yang membantunya Rp 80.000 setiap dua hari.

Lapak penjualan gogos yang berjejer di tepi jalan Katitting terlihat mulai rapi.

Di depan lapak mereka terpajang logo Kabupaten Polewali Mandar dan logo bank BRI. “Kita hanya dipasangkan begini,” ujarnya, menunjuk baliho yang melingkar di depan lapak penjualannya.

“Mungkin nanti akan ada bantuan diberikan. Karena kita memang butuh untuk nambah-nambah modal,” ujarnya.

Nah, yang kebetulan melintas di Katitting, silakan mampir menikmati gogos kambu. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *