Harga TBS Sawit Mencapai Rp 2.105

  • Whatsapp
FOTO: IDRUS IPENK
//// Kadis Perkebunan Abdul Waris Harga TBS MENJELASKAN. Kepala Dinas Perkebunan Sulbar, Abdul Waris Bestari di hotel pantai indah Mamuju, Kamis 12 Agustus 2021.

MAMUJU, SULBAREXPRESS.CO.ID – Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Sulawesi Barat (Sulbar) bulan ini mencapai Rp 2.105,55 per kilogram.

Itu setelah tim Dinas Perkebunan Sulbar, menetapkan harga TBS sawit di Sulawesi Barat dengan, indeks “K” sebesar 84.00 persen.

Penetapan berlangsung di hotel Pantai Indah Mamuju, Kamis 12 Agustus. Dipimpin Kepala Dinas Perkebunan Sulbar, Abdul Waris Bestari. Menghadirkan beberapa perusahaan dan perwakilan petani sawit.

Abdul Waris mengatakan harga TBS telah diputuskan senilai Rp 2.105,55 per kilogram. Mengalami kenaikan signifikan.

Menurutnya, keputusan tersebut telah diambil oleh tim dan berdasarkan kesepakatan dari pihak perusahaan yang hadir.

Selain itu, ia menekankan kepada semua perusahaan agar mengikuti aturan dan prosedur yang telah ditetapkan oleh kementerian.

“Harusnya perusahaan memasukkan CPO sesuai Permentan yang ada,” ujar Waris, Kamis 12 Agustus.
Waris juga, menyayangkan sikap beberapa perusahaan dalam beberapa kali pertemuan tidak hadir dan tidak memberikan harga crude palm oil (CPO) kepada tim penetapan.

“Dengan harapan datang lah, karena kita mau diskusi. Tiga perusahaan yaitu PT Toscano, PT Global dan PT. Wahana Karya Sejahtera Mandiri (WKSM),” ungkapnya.

Waris menambahkan bahwa perusahaan yang tidak memasukkan indeks “K” yaitu perusahaan PT Unggul dan PT Manakarra Unggul (Mul).

Sementara, sekretaris tim penetapan harga TBS, Kimoto Bado mengungkapkan kenaikan harga TBS bulan ini diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi para petani sawit.

“Kita harap selalu ada perbaikan-perbaikan agar harga terus naik,” ucap Kimoto.
Ia pun mengingatkan kepada perusahaan agar harga tersebut bisa terapkan di lapangan susai harga yang ditetapkan.

“Kalau ada perusahaan mau menaikan harganya bisa, tapi kasih turun tidak boleh,” imbuhnya.

Kimoto juga menjelaskan, dalam waktu dekat pihaknya akan mengunjungi beberapa perusahaan yang tidak memasukkan harga CPO maupun indeks “K”, sekaligus meminta tanggapan terkait ketidakhadirannya pada saat penetapan. (idr/chm)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *