Lansia Tangguh, Berkilometer Memikul Barung-Barung

  • Whatsapp
M DANIAL FOR SULBAR EXPRESS
/// Sida dan barung-barung bambu FINISHING. Si'da tengah menyempurnakan barung-barung bambu di rumah produksinya di daerah Samasundu, Polewali Mandar.

PERAWAKANNYA sederhana. Sudah lansia pula. Namun, pekerjaannya cukup berat untuk orang seusianya. Yang sudah senja.

Catatan: M Danial

Bacaan Lainnya

Hasilnya pun jauh dari cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari. “Memang tidak cukup, tapi disyukuri kalau masih ada,” ujarnya, pasrah.

Namanya Si’da. Dikenal sebagai pembuat bale-bale (bahasa Mandar: barung-barung yang terbuat dari bambu). Di KTP-nya tertulis tahun kelahiran 1950.

Pekerjaan membuat barung-barung ditekuni sejak masih usia muda. Ia bisa menghasilkan satu barung-barung dalam waktu tiga-empat hari. Dijual dengan harga Rp250 ribu ukuran standar. 1 x 1,5 atau 1 x 2 meter.

Satu barung-barung, membutuhkan tiga batang bambu yang sudah matang. Selain itu, rotan seharga Rp15.000 sampai Rp20.000 untuk pengikat dan anyaman lantai barang-barang.

Untuk kebutuhan bambu, Si’da harus mencari yang sudah matang. Dibeli seharga Rp10.000 – Rp15.000 perbatang. Yang harus dipikul dari ke kebun bambu ke rumahnya.

Memikul bambu yang melintang panjang 5-6 meter pada jarak yang tidak dekat, tidaklah mudah.

Apalagi, melalui lokasi yang ditumbuhi pepohonan. Kerap juga harus menaklukan pendakian. Atau menyeberang sungai.

Katanya, tidak mudah mendapatkan bambu yang cocok dibuat barung-barung. Harus diyakini bambunya sudah matang, supaya bertahan lama. Dicari juga bambu yang lurus.

“Dimana bambu yang bagus, ya, semampunya saya datangi (membeli),” ungkap lansia yang akrab disapa Kama’ Nu’ma oleh tetangganya.

Bahan lain yang dibutuhkan adalah rotan. Untuk pengikat dan menganyam lantai barung-barung. Anyaman yang baik harus rapi dan kuat. Makanya dibutuhkan keterampilan khusus. Seperti yang dimiliki Si’da. Ia mengatakan pekerjaan anyam-menganyam tidak terlalu sulit.

“Tapi, anyaman yang rapi, kuat, dan nyaman, harus orang yang terbiasa,” tukasnya. Ia lalu menunjukan barung-barung yang dihasilkan. Padat dan rapi.

“Ini akan dijemput orang yang pesan, dari Wonomulyo,” jelas pria beranak empat orang itu.
Setiap barung-barung yang bukan pesanan, diantar ke Pasar Tinambung untuk dijual. Pada hari pasar Rabu atau Sabtu.

Ia berjalan kaki sedikitnya empat kilometer sambil memikul barung-barung. Biasanya berangkat dari Samasundu selepas subuh. Atau pada sore sebelum hari pasar. Kalau tidak langsung terjual, barang jualannya itu dititip di pasar.

“Selalu kita lihat dia lewat sore atau subuh hari pasar Tinambung, memikul barung-barung,” ungkap Sadik, warga Camba-Camba, Limboro.

Ia mengagumi semangat dan keuletan Si’da, walau usianya sudah senja. “Kita yang usianya berjauhan, jujur tidak sanggup pikul barung-barung. Apalagi jarak jauh,” komentar Hasbi, warga lainnya.

Pekan lalu, Si’da yang sedang memikul barung-barang di jalanan ke arah Pambusuang, sempat dipotret warga dan diupload di facebook. “Saya mengantarkan burung-barung pesanan orang di Waitawar,” jelasnya. Waitawar adalah salah satu dusun di Desa Tamangalle, Kecamatan Balanipa.

Si’da tinggal sendiri di rumahnya. Empat anaknya sudah berumah tangga. Ia sudah punya beberapa cucu, bahkan cicit dari ke empat anaknya. Tapi, penglihatan dan pendengarannya masih normal.

Penglihatannya yang masih tajam, terbukti lincah mengerjakan semua proses pembuatan barang-barang tanpa bantuan orang lain. Selain memotong dan membelah bambu, juga meraut bambu dan rotan, menghaluskan sampai menganyam dengan rapi dan halus.

“Saya mau berlomba orang muda memasukan benang ke lubang jarum,” ujarnya, terkekeh.
Ia tidak banyak tahu juga soal pandemi Covid-19 sekarang. Kecuali hanya mendengar orang sering menyebut korona. “Biasa dengar orang bilang korona, korona. Saya tidak tahu apa itu (korona),” tukasnya.

Saat disodori masker untuk dipakai, ia mengaku punya masker juga. “Ada masker saya di atas rumah.”

Namun, diakui sudah beberapa lama produksinya sangat sedikit yang terjual. “Sudah agak lama ini sangat kurang yang membeli. Yang pesan juga cuma satu-dua,” ujarnya, setengah mengeluh.

Hasil dari membuat barung-barung diakui jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. “Bagaimanalah caranya dicukupkan,” katanya.

Diakui juga, mendapat bantuan dari kantor desa berupa beras dua karung. Diterima setiap dua bulan.

“Satu karung isi 10 kilogram. Bersamaan bantuan lain seperti telur, pernah juga ayam,” jelasnya. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *