RS Rujukan Covid Kewalahan, Perawatan Penuh, Kebutuhan Oksigen Meningkat

  • Whatsapp
RS Rujukan Covid Kewalahan, Perawatan Penuh, Kebutuhan Oksigen Meningkat

MAMUJU, SULBAREXPRESS.CO.ID – Pasien Covid-19 di Sulbar melonjak. RS rujukan kewalahan. Rumah sakit lain diharap berkontribusi.

Direktur RSUD Regional Sulbar, dr. Indahwati Nursyamsi menyatakan, RS Lapangan yang jadi pusat perawatan pasien korona di Ibu Kota Sulbar, kondisinya tidak memungkinkan lagi untuk menerima pasien covid.

RS Rujukan Covid Kewalahan, Perawatan Penuh, Kebutuhan Oksigen Meningkat

“RS Lapangan Covid-19 full. Semua bed penuh. UGD dan isolasi juga penuh. Sekarang itu bed untuk RS lapangan Covid ada 37 ditambah ruang isolasi ada dua, jadi 39. Ditambah lagi dua di UGD, jadi totalnya 41 orang,” jelasnya, Selasa 3 Agustus.

Dia mendorong agar rumah sakit daerah Mamuju dan RS lain yang beroperasi di Ibu Kota Sulbar ini, untuk turut membuka ruang perawatan pasien Covid-19.

Selain RSUD Mamuju, ia menyebut RS Bhayangkara, dan RS Mitra Manakarra. “Jangan semua ke regional karena tidak ada mi tempat. Tidak bisa dilayani untuk sementara pasien covid,” ujarnya.

“Pemkab Mamuju juga harus punya inisiatif untuk membuka rumah sakitnya karena saat ini RS rujukan sudah kewalahan. Jangan semua pasien dibawa ke RS provinsi tanpa ada bantuan,” imbuh dr. Indahwati.

Pihaknya kini hanya melayani pasien korona yang tengah menjalani perawatan. “Rata-rata 10 hari sampai dua minggu dilayani. Jadi itu saja yang kita tangani karena untuk saat ini overload,” tegasnya.

Apalagi saat ini, sejumlah perawat di RS rujukan telah terpapar virus asal Cina tersebut.

Pihak rumah sakit hanya bisa memaksimalkan, meroling perawat yang tersisa. Tercatat ada 13 perawat RS Covid-19 Sulbar yang dikonfirmasi positif korona.

Kondisi saat ini, kata dia, menuntut komitmen semua pihak dalam bersinergi menghadapi pandemi.

Khususnya penentu kebijakan di Mamuju, diharap turut memaksimalkan sumber daya yang ada.

Di lain sisi, kebutuhan oksigen pun terus meningkat. RS rujukan mengaku kewalahan akibat kurangnya pasokan.

“Oksigen juga kita kurang. Kemarin itu harus ada 50 (tabung). Saya khawatir besok-besok kebutuhan bertambah lagi menjadi 70. Dimana kita mau dapat oksigen? Nah rumah sakit saat ini rusak alat produksi oksigennya. Kita sekarang berburu ke Parepare. Kalau semua RS begitu, akan terjadi kelangkaan,” tandas dr. Indahwati.

RS RUJUKAN KORONA DI SULBAR
Kepala Dinas Kesehatan Sulbar, dr. Asran Masdy mengatakan bahwa sampai saat ini yang menjadi rujukan untuk pasien Covid-19 di Sulbar hanya ada dua, yakni; RS Polewali Mandar dan RS Lapangan di area Rumah Sakit Regional Sulbar.

Pihaknya mengaku belum menyiapkan RS alternatif, selain dua Rs tersebut.

Meski begitu, dr Asran menjelaskan bahwa semua rumah sakit di wilayah Sulbar bisa menyiapkan ruang isolasi. Itu bergantung kebijakan kepala daerah yang bersangkutan.

“Misalnya di RSUD Mamuju oleh menyiapkan isolasi jika sifatnya dibutuhkan dan mendapat persetujuan dari pemerintah daerahnya,” sebut dr. Asran.

Menurut dia, kondisi ini dimungkinkan juga terjadi di Polewali Mandar, mengingat tingginya angka positif di daerah tersebut.

“Untuk RS Polewali Mandar Belum saya tau pasti, tetapi saya kira disana juga akan kewalahan apabila tidak dibantu rumah sakit lain. Sama dengan posisi RS Regional di Mamuju, apabila tidak dibantu rumah sakit lain seperti menyiapkan ruang isolasi sendiri, pasti akan kewalahan,” ujarnya.

“Alternatifnya adalah mengimbau kepada rumah sakit lain yang ada di Mamuju agar menyiapkan ruang isolasi perawatan covid, seperti RS Bahayangkara, RSUD Mamuju dan RS Mitra Manakarra,” harap dr Asran, menambahkan.

Dia mengakau, kondisi ini telah dikomunikasikan bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Mamuju. Sisa menunggu hasil konfirmasi dari pihak Pemkab Mamuju.

Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Mamuju, Alamsyah Thamrin menjelaskan, hasil komunikasi yang dibangun bersama Dinkes, yaitu menyarankan untuk melakukan isolasi mandiri bagi pasien tanpa gejala.

“Isolasi mandiri kami sarankan bagi pasien tanpa gejala, dibawa pemantauan tenaga kesehatan Puskesmas,” terangnya.

Ia mengaku belum memiliki ruangan tersendiri untuk pasien Covid-19, tetapi sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi kemungkinan terburuk.

“Kan ada sekarang dibangun 29 kamar, ini belum dimanfaatkan karena belum selesai. Kita harapkan awal bulan sembilan bisa bermanfaat karena akan dipersiapakan alat dan para perawatnya,” tutup Alamsyah. (idr/chm)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *