Oktober: Bulan Pemuda dan Bulan Bahasa

  • Whatsapp
Oktober: Bulan Pemuda dan Bulan Bahasa

Oleh: Shafwan Nugraha, S.S., M.Hum. (Dosen Universitas Muhammadiyah Mamuju)

Perkuliahan di kampus saya baru masuk pekan ketiga. Sepekan lalu, di kelas Bahasa Indonesia saya membawakan materi tentang sejarah perkembangan bahasa Indonesia sejak masih bernama bahasa Melayu hingga menjadi bahasa Indonesia modern. Pertanyaan pertama yang saya ajukan ke mahasiswa di awal perkuliahan adalah “Adakah yang tahu, berapa tahun umur bahasa Indonesia?”

Setelah pertanyaan itu, tidak ada yang menjawab. Senyap sampai dua menit, tidak ada yang berani buka suara. Setelah saya pancing pancing dengan kalimat seperti, “Ayo, masa nggak ada yang tahu umurnya bahasa Indonesia?” Saya mengganti pertanyaan, “Okelah, kalau begitu ada yang tahu kapan atau tahun berapa bahasa Indonesia lahir?” Lagi-lagi dibalas dengan senyap. Namun tidak lama ada mahasiswa yang menjawab, “Tahun 1928, Pak.” Iseng saya tanya balik, “Menurut siapa itu?” Dijawabnya dengan tersipu, “Menurut Google Pak.” Kemudian di tertawa. Teman-temannya juga tertawa. Saya juga tertawa, bukan karena ada yang lucu, melainkan tertawa karena miris. Kemudian saya bertanya lagi, “Oke, bahasa Indonesia pada tahun 1928 itu lahir bertepatan dengan peristiwa bersejarah apa?” Lagi, senyap. Tidak ada yang menjawab. Ekspektasi saya, di tingkat perguruan tinggi, semestinya pengetahuan tentang asal-usul bahasa Indonesia sudah diketahui oleh para mahasiswa. Bayangkan, sejak SD sampai SMA, mereka belajar bahasa Indonesia. Masa sih, selama dua belas tahun itu tak pernah sekalipun mereka belajar atau diajariĀ  tentang sejarah bahasa Indonesia? Ironis kalau sampai memang betul mereka selama dua belas tahun diajari mata pelajaran yang sejarah objeknya tidak pernah diulas sekalipun.

Para mahasiswa yang saya ceritakan tadi adalah representasi dari generasi muda kita, generasi penerus bangsa kita di masa depan. Mereka suatu hari akan menjadi generasi yang dominan andilnya dalam perkembangan dan kelangsungan bangsa dan negara. Namun sayangnya, generasi yang di pundaknya kelak menanggung beban berat itu rupanya banyak yang sudah tidak kenal sejarah. Bahkan sejarah pergerakan bangsa dan sejarah kelahiran bahasanya sendiri. Padahal pemuda, sejarah, dan bahasa adalah tiga hal yang tidak dapat dipisahkan demi kemajuan dan perkembangan sebuah bangsa.

Sejarah pergerakan nasional yang mendorong kemerdekaan Indonesia sebagai sebuah bangsa dan sebagai sebuah negara kesatuan, berangkat dari pikiran, tekad, dan visi yang diikrarkan oleh para pemuda-pemuda bangsa di masa lalu. Tanpa adanya pemuda yang visioner dan peduli tentang bangsanya, tidak akan terjadi Kongres Pemuda. Pada 31 April sampai 2 Mei 1926, para perwakilan dari berbagai organisasi kepemudaan di Hindia-Belanda, dari Sumatra hingga Maluku bermusyawarah untuk menyamakan visi. Dasar pikiran mereka adalah bahwa agar bangsa ini bisa merdeka, diperlukan kesamaan visi dan misi, serta mind set sebagai sebuah bangsa yang bersatu. Kongres Pemuda dilaksanakan dua kali dan pada akhirnya kongres ini menghasilkan tiga kalimat ikrar yang kini dikenal sebagai Sumpah Pemuda.

Ikrar pertama mendeklarasikan adanya sebuah rasa persatuan di antara orang-orang yang tinggal di sebuah batas wilayah yang bernama Tanah Air Indonesia. Ikrar kedua mendeklarasikan adanya rasa persatuan di antara orang-orang yang memiliki persamaan identitas dan pandangan hidup, yaitu sebagai bangsa Indonesia. Ikrar ketiga mendeklarasikan adanya sebuah alat persatuan, yang mampu menghubungkan orang-orang yang berbeda latar belakang kultur dan bahasa di seluruh tanah air itu, yaitu bahasa Indonesia. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa sejarah peristiwa Sumpah Pemuda tidak sekadar tentang lahirnya suatu bangsa, tetapi juga lahirnya sebuah bahasa. Maka dari itulah, selain identik dengan Sumpah Pemuda, Oktober juga dikenal sebagai “bulan Bahasa”.

Akan tetapi, ada yang unik dari hari kelahiran bahasa Indonesia. Ada perbedaan pendapat tentang kapan sebenarnya bahasa Indonesia lahir? Sepanjang pengetahuan saya ada tiga pendapat kuat.

Pendapat pertama menyebutkan bahwa bahasa Indonesia lahir pada tanggal 2 Mei 1926. Ini bertepatan dengan hari kedua Kongres Pemuda I yang dilaksanakan di Jakarta (dulu Batavia). Di Kongres Pemuda I, Mohammad Tabrani yang ketika itu juga mengetuai kongres, menolak gagasan butir ketiga ikrar pemuda yang diajukan oleh Mohammad Yamin. Ketika itu Yamin menyebut bahasa persatuan bangsa Indonesia adalah bahasa Melayu. Tabrani bersikukuh bahwa tidak pantas suatu yang menyebut dirinya bangsa Indonesia dan menyatakan dirinya bertumpah darah Indonesia, tetapi berbahasa Melayu. Yamin berargumen bahwa pada kenyataannya, bahasa Indonesia itu tidak ada. Di Hindia Belanda, bahasa yang luas digunakan sebagai bahasa pergaulan, bahasa pengantar pendidikan, dan bahasa formal adalah bahasa Melayu. Lantas Tabrani membalas lagi dengan mengatakan bahwa kalau memang belum ada, ya diadakan. Toh, sebelum kongres pun belum ada namanya bangsa Indonesia dan belum ada yang namanya tanah air Indonesia. Yang ada adalah Hindia-Belanda. Maka dari itu Tabrani kekeuh, bahasa Indonesia juga bisa diadakan, sebagaimana bangsa Indonesia dan tanah air Indonesia itu bisa dinyatakan ada dan menjadi pegangan setiap orang yang merasa dirinya bagian dari Indonesia.

Dari peristiwa tersebut, dapat dipahami bahwa sejak Kongres Pemuda I, wacana tentang bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sudah diutarakan. Itulah sebabnya beberapa ahli bahasa Indonesia, termasuk salah satu begawan bahasa Indonesia Prof. Harimurti Kridalaksana, menyebut bahwa hari lahir bahasa Indonesia jatuh pada 2 Mei 1926.

Namun begitu, keputusan final memang baru terwujud pada Kongres Pemuda II yang dilaksanakan di Yogyakarta pada 27-28 Oktober 1928. Di akhir kongres kedua itulah dibacakan tiga butir ikrar yang kini dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Pada butir ketiganya disebutkan, “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.” Pada akhirnya, gagasan Tabrani menang. Para pemuda dari seluruh ikatan pemuda se-Hindia-Belanda menyepakati bahwa agar identitas kebangsaan, rasa nasionalisme, dan upaya persatuan itu lebih erat terjaga, diperlukan sebuah bahasa persatuan yang bernama bahasa Indonesia; bukan bahasa Melayu. Peristiwa bersejarah ini menjadi dasar pendapat kedua, bahwa hari kelahiran bahasa Indonesia jatuh pada tanggal 28 Oktober, bertepatan dengan lahirnya Sumpah Pemuda. Hal ini pula yang menyebabkan bulan Oktober dikenal sebagai “bulan bahasa”.

Selain dua pendapat itu, ada pula yang menyebutkan bahwa sejatinya bahasa Indonesia lahir secara resmi pada 18 Agustus 1945. Hal ini mengacu pada diresmikannya Undang-Undang Dasar 1945 pada tanggal tersebut. Di dalam UUD 1945, terdapat Pasal 36 yang menyebutkan bahwa bahasa Negara adalah bahasa Indonesia. Dengan begitu, secara yuridis bahasa Indonesia diakui eksistensinya.

Di antara tiga pendapat kuat itu, yang tampaknya cukup luas dikenal oleh orang-orang adalah pendapat bahwa hari kelahiran bahasa Indonesia jatuh pada tanggal 28 Oktober 1928, bertepatan dengan diikrarkannya Sumpah Pemuda. Penobatan Oktober sebagai “bulan bahasa” juga memperkuat hal ini. Jadi, bukan hanya bulannya pemuda, Oktober adalah bulannya bahasa. Oktober semestinya menjadi pengingat bahwa pemuda bukan saja dekat dengan idealisme, tetapi juga dekat dengan bahasa. Lagipula, salah satu cara untuk memupuk idealisme dan membangun pemikiran yang intelek adalah dengan keterampilan berbahasa yang baik. Maka jelas aneh dan miris, ketika pemuda tidak tahu sejarah bahasanya sendiri.

Oleh karena itu pula, semestinya kita juga bisa paham bahwa Sumpah Pemuda bukan sekadar mendorong munculnya sebuah bangsa besar, melainkan menjadi titik kelahiran sebuah bahasa persatuan yang memiliki peran dan misi besar dalam menjaga integritas bangsa. Bahasa persatuan ini semestinya dicintai dan dipelihara oleh kita para penuturnya. Karena hidup dan matinya bahasa, berkembang dan hancurnya bahasa, semua di tangan penuturnya. Dirgahayu bahasa Indonesia. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *