Penanganan Dampak Gempa Majene, Relokasi Kampung Belum Terealisasi

  • Whatsapp
FOTO: IDRUS IPENK
PENGUNGSI GEMPA. Sejumlah warga Mekatta Kabupaten Majene masih berada di lokasi pengungsian sejak gempa melanda daerah ini pada 15 Januari 2021.

MAMUJU, SULBAR EXPRESS – Relokasi kampung terdampak gempa di Kabupaten Majene tak kunjung terlaksana. Masih berkutat pada lahan.

Demikian hasil koordinasi antara Pemprov Sulbar dan Pemkab Majene terkait penanganan pascagempa. Sampai bulan ini, pemprov bersama pemkab masih mempersipakan lahan untuk relokasi.

Bacaan Lainnya

Hampir setahun sejak gempa melanda Mamuju dan Majene pada 15 Januari 2021, rencana relokasi sampai hari ini belum menemui titik terang. Sejumlah warga Majene tepatnya di Mekatta, Rui dan Aholeang kabupaten Majene masih berada di pengungsian.

Sejumlah bantuan stimulan telah disalurkan, namun kejelasan mengenai perbaikan rumah warga dan lahan warga masih juga menjadi pembahasan.

Penanganan Dampak Gempa Majene, Relokasi Kampung Belum Terealisasi
SEKPROV Sulbar, Muhammad Idris DP rapat bersama pihak Badan Penanggulangan Bencana Kabupaten Majene, di Rujab Sekprov pada Senin 25 Oktober 2021.

Sekprov Sulbar, Muhammad Idris DP mengaku telah melakukan pertemuan bersama pemerintah Majene membahas tindak lanjut relokasi kampung warga yang tertimbun material longsor karena gempa.

“Kita ketemu dengan Kepala Penanggulangan Bencana Majene. Intinya Majene sudah jalan dengan pemberian stimulus bantuan perumahan itu, kita bersyukur karena itu bisa berjalan dengan target waktu yang ada,” ucap Idris.

Hanya saja kata dia, wacana pembangunan rumah dan persiapan lahan oleh Pemprov bersama Pemkab Majene masih dalam proses perampungan.

Apabila proses lahan yang disiapkan telah rampung maka pembangunan bisa segera dimulai.

“Di Ulumanda, juga masih mengenai lahan walaupun sudah dibebaskan sebagian, karena ada juga masyarakat yang mau relokasi mandiri,” imbuh Idris.

Sekprov menambahkan, jumlah hunian yang akan dibangun disesuaikan kondisi lahan. “Karena lahan yang dibebaskan itu, sebagian besar tidak layak untuk ditempati perumahan,” beber Sekprov.

Sebelumnya, Pemkab Majene telah mendata kampung warga yang tidak layak lagi dihuni setelah tertimbun longsor akibat gempa. Tercatat sebanyak 15 dusun yang minta direlokasi di Kecamatan Ulumanda dan Malunda, Majene. Di Kecamatan

Ulumanda yakni di Desa Kabiraan yang terdiri dari Dusun Kabiraan 74 KK, Dusun Babbasondong 48 KK, Dusun Tammerimbi 45 KK, Dusun Tammerimbi Barat 44 KK, Dusun Tammerimbi Utara 37.

Sementara di Desa Tandeallo, ada Dusun Lombe dengan 38 KK, Dusun Paku 33 KK, Dusun Bette Betteng 32 KK, Dusun Pangngadaang 37 KK dan Desa Popenga serta Dusun Pullao 33 KK. (idr/chm)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *