Dorong Pengembangan Loka Pere

  • Whatsapp
Dorong Pengembangan Loka Pere
RAPAT. Kepala Balitbangda Sulbar, Safaruddin Sanusi saat menggelar rapat bersama pihak BPTP Sulbar di kantor Balitbangda Sulbar, Senin 22 November 2021. (IDRUS IPENK)

MAMUJU, SULBAR EXPRESS – Balitbangda bersama Balai Pengkajian Tekhnologi Pertanian (BPTP) Sulbar membidik pengembangan Loka Pere.

 

Berbagai jenis tanaman buah-buahan memiliki potensi yang bernilai tinggi apabila dapat dikelola dengan baik. Salah satunya Pisang atau Loka Pere di Majene.

Selama ini petani dinilai tidak begitu memperhatikan sistem budidayanya. Padahal konsumen cenderung mencari pisang jenis tersebut.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Sulbar, Safaruddin Sanusi DM mengatakan, jika dikelola secara baik maka potensi akan mendongrak perekononian daerah.

Karena itu menurutnya perlu dilakukan rencana tindak lanjut terkait pengembangan Loka Pere sesuai hasil penelitian awal yang dilakukan pihak BPTP.

Apabila seluruh hasil penelitian telah rampung, maka Balitbangda bersama BPTP akan segera melakukan seminar sekaligus sosialisasi kepada masyarakat. Potensi ini dinilai mampu meningkatkan perekonomian lokal.

“Ini akan meningkatkan nilai ekonomi sebagai tanaman lokal endemik yang menjadi ciri khas Sulbar,” tegas Safaruddin.

Peneliti Utama Budidaya Tanaman Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Barat, Marthen Pasang Sirappa mengatakan, jenis pisang pere ditemukan di Desa Adolang, kecamatan Pamboang, kabupaten Majene.

Pada umumnya petani membudidayakan secara tradisional. Sudah ada sejak nenek moyang yang dimanfaatkan penduduk sebagai sebagai makanan pokok dalam bentuk loka anjoroi (pisang direbus kemudian diberi santan).

Dijelasjan, penamaan Loka Pere karena berdasarkan bentuknya yang rata-rata bengkok (bahasa mandar “pere”).

Kelebihan jenis pisang ini adalah buah rasanya enak, manis, tetap keras meskipun telah masak dan tahan disimpan lama.

“Pisang muda dapat direbus dan digoreng. Buah pisang baik yang masih mentah maupun yang sudah masak, juga bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan ringan,” paparnya.

Ditambahkan, karakter tanaman ini berbeda dengan pisang pada umumnya. Loka pere memiliki tinggi tanaman mencapai 2-3 meter, batang tegak, bentuk batang bulat berwarna hijau, warna pangkal batang hijau, lingkar batang 46-68 cm, jumlah anakan 3-8 anakan.

Keunggulan lain yang dimiliki adalah, Dapat beradaptasi pada kondisi lahan kering yang solumnya rendah sampai pada ketinggian 500 mdp. Tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Daya tahan periode masak buahnya lama.

“Potensi pengembangan pisang loka pere di Kabupaten Majene sangat besar. Diperlukan kerjasama berbagai pihak agar tanaman ini dapat dilestarikan baik,” kata Marthen.

Peneliti Pertama Teknologi Pengolahan Pangan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulbar, Nurhafsah menjelaskan bahwa pisang pere itu memiliki kandungan dan komponen gizi tinggi.

Asisten Administrasi Umum Gubernur Sulbar Jamil Barambangi, mengungkapkan bahwa pengembangan budidaya pisang pare harus dilakukan secara massif dan didukung melalui keberpihakan anggaran.

“Ini harus dikerjakan secara massif, juga perlu ratusan hektar untuk melakukan budidaya kemudian dibutuhkan dukungan anggaran,” tandasnya. (idr/chm)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *