Kita Satu, Berasal dari Leluhur yang Sama

  • Whatsapp
Kita Satu, Berasal dari Leluhur yang Sama
JEJAK SEJARAH. Pertemuam tokoh seni budaya, adat dan masyarakat Sulbar terkait kesepakatan Taman Budaya dan Museum ditempatkan di Balanipa. Gedung PKK, Mamuju, 24 November 2008. (Dok Pemprov Sulbar)

BERGURU kepada masa lalu dan peninggalan warisan serta pamor kearifan adalah laku arif manusia kini untuk merespon perubahan dan masa depan.

Laporan: M. Syariat Tajuddin

Begitu benang merah diskusi dalam talk show pamor kearifan sebagai rangkaian dari festival budaya Sulawesi Barat yang dilaksanakan di Taman Budaya dan Museum Provinsi Sulawesi Barat di Buttu Ciping Tinambung Polewali Mandar, Kamis 11 November 2021.

Dalam diskusi yang menghadirkan sejumlah narasumber mulai dari Farid Wajdi Kepala Dinas Pariwasata Provinsi Sulawesi Barat, Syamsul Samad Ketua Komisi I DPRD Provinsi Sulawesi Barat, Ridwan Alimuddin periset seni budaya Mandar Sulawesi Barat, Muhaimin Faisal Ketua Dewan Kebudayaan Mandar Sulawesi Barat itu terungkap betapa pentingnya untuk memahami sejarah dan kearifan serta merespon dinamika perkembangan teknologi dan perubahan pada semua unsur kebudayaan.

Terungkap betapa pentingnya pembangunan karakter yang nilai dasarnya adalah kearifan dari nilai-nilai kebudayaan yang untuk itu pemerintah telah menjadikannya sebagai agenda prioritas nasional dan telah diterjemahkan hingga ke level daerah.

“kalau kita bicara tentang pembangunan kebudayaan. Maka hari ini, itu sudah menjadi agenda prioritas nasional. termasuk bagaimana kebijakan anggaran yang fokus pada kebudayaan. Misi pembangunan daerah Sulawesi Barat itu, membangunan sumber daya manusia yang berkepribadian”, ujar Syamsul Samad.

Dikatakan terdapat dua sektoral organisasi perangkat daerah di Pemrov Sulbar yang mengurusi kebudayaan itu, yakni dinas pendidikan dan dinas pariwisata. Jika dibandingkan tahun 2020, anggaran untuk dua sektor ini di tahun 2021 menunjukkan peningkatan cukup signifikan.

“Yakni Rp. 5.592.746.645 di sektor kebudayaan, serta Rp.9.314.077.559 untuk sektor pariwisata. Bandingkan dukungan anggaran untuk dua sektor itu di tahun 2020 yakni Rp.3.747.636.650 untuk sektor kebudayaan dan Rp. 2.723.648.175 pada sektor pariwisata”.

Pada kesempatan yang sama, Farid Wajdi menyebutkan dalam platform pariwasata ada tiga entrinya, alam budaya dan buatan manusia inilah yang dijadikan dasar dalam pengembangan kepariwisataan di Sulawesi Barat.

“Nah, mengapa budaya penting, karena disitulah mengukur apa kearifan yang kita miliki di sejumlah daerah di Sulawesi Barat. Terdapat banyak kearifan dalam produk kebudayaan kita, mulai dari besi dan pamor pusaka kita hingga kepada kesenian yang ada dikita,” beber Farid Wajdi.

Sementara itu, Muhaimin Faisal lebih banyak membincang diseputar perubahan dalam dinamika perubahan yang ada hari ini. Termasuk dengan perkembangan teknologi.

“Saya memberikan tajuk pembicara hari ini, Mandar Reborn. Sebuah upaya untuk membumikan warisan kebudayaan kita dalam dimensi kekinian kita, untuk mengantar kita pada perspektif masa depan. Karena generasi muda kita sekarang sudah terkoneksi. Sehingga benda pusaka, benar-benar kita perlebar tafsirnya sebagai ketajaman pikiran”, urai Muhaimin Faisal pada acara yang dimoderatori Abdul Muttalib itu.

Senada dengan Muhaimin, M. Ridwan Alimuddin dalam pemaparannya lebih banyak membedah hasil risetnya terkait dengan migrasi austronesia.

“ada hubungan yang erat antara kita yang di pedalaman dengan kita yang ada di pesisir. Kita sangat erat dipersatukan termasuk melalui jalur migrasi sungai, sehingga kita akrab dengan istilah dan penamaan sungai seperti salu dan binanga. Saya tertarik pada pembicaraan yang mengatakan bahwa, jika kita tarik lebih ke belakang. Kita ini adalah satu leluhur”, beber Ridwan Alimuddin.

ZIARAH MAKAM,
PAMERAN DANH
PERTUNJUKAN SENI

Patut dicatat, pada kegiatan yang dihelat selama dua hari, Rabu 10 – Kamis 11 November 2021 di Taman Budaya Sulawesi Barat itu, terdapat sejumlah kegiatan yang menjadi rangkaian dari festival budaya.

Mulai dari Ziarah Makam Todilaling, Peresmian Taman Budaya dan Museum Sulawesi Barat, Seminar I Baso Boroa To Kape, Pemeran Pusaka dan Pameran Ekonomi Kreatif dan Terakhir Talk Show Pamor Kearifan.

Diawali ziarah ke makam Todilaling di Desa Napo oleh forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopimda) Sulbar dan dihadiri Raja Gowa ke 38 Andi Kumala Idjo Daeng Sila Karaeng Lambang Batara Gowa III dan mengaku mengapresiasi baik upaya pemerintah provinsi Sulbar dalam pembangunan di bidang kebudayaan lokal.

Rabu 10 November, juga digelar peresmian Taman Budaya dan Museum Sulawesi Barat yang terletak di Buttu Ciping Kecamatan Tinambung.

Sore harinya dilanjutkan seminar I Baso Boraa To Kape di ruang utama pertemuan di Taman Budaya dan Museum tersebut.

Menariknya, pada seminar yang selain menghadirkan sejumlah pembicara lokal, hadir pula Mukhlis Paena selaku pembicara utama.

Nyaris bersamaan dengan seminar pada sore hari itu juga, diselenggarakan temu museum berupa pameran benda pusaka di ruang utama Taman Budaya dan Meseum Sulawesi Barat.

Sedang di lantai satu dari ruang utama Taman Budaya dan Museum Sulawesi Barat itu juga dihelat pameran hasil produk seni budaya dan ekonomi kreatif.

Pada malam harinya, dilanjutkan pertunjukan seni budaya dari sejumlah komunitas yang mengangkat sejumlah tema dan berbagai gendre kesenian. Mulai dari tari, musik, monolog, puisi hingga deklamasi pasang pattorioloang.

Hardinata Djamal selaku penyelenggara Talk Show dan Pameran Pusaka mengutarakan apresiasi kepada sejumlah pihak yang telah ikut berperan dalam penyelenggaraan kegiatan itu.

“Kami bangga karena begitu banyak khasanah seni budaya kita yang telah ikut ambil bagian dalam kegiatan ini. Ini pertanda bahwa identitas seni budaya kita akan tetap lestari. Tugas kita hari ini adalah merawat dan memajukannya. Terima kasih kepada semua pihak baik perorangan maupun kelembagaan yang telah berperan serta dan menujukkan komitmennya dalam kegiatan yang kita selenggarakan ini”, urai Hardinata.

Muhammad Adil Tambono juga penyelengara pertunjukan seni budaya dan ziarah ke makam Todilaling mengaku bangga karena bertepatan dengan hari pahlawan 10 November 2021, pemerintah dan Taman Budaya dan Museum Sulawesi Barat telah menunjukkan keberpihakannya kepada seni budaya.

“Baik Pemprov dan Pemkab juga khususnya UPTD Taman Budaya dan Museum Sulawesi Barat telah menunjukkan komitmen besarnya pada penciptaan ekosistem yang akan menjadi ruang hidup bersama dalam melakukan pemetaan, eskprementasi dan eskpose hasil cipta dan karya kreatif seni budaya kita yang sungguh adiluhung ini”, kunci Adil. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *