Melihat Laboratorium Hutan Bambu Alu

  • Whatsapp
Melihat Laboratorium Hutan Bambu Alu
LABORATORIUM BAMBU. sejumlah anggota komunitas perajin bambu di Desa Alu, Kecamatan Alu, Kabupaten Polewali Mandar tengah mempersiapkan materi produk kerajinan berbahan bambu. (foto: M Danial)

BEBERAPA pemuda terlihat sibuk dengan bambu. Ada yang memilah lalu memotong-motong bambu menggunakan gergaji.

Melihat Laboratorium Hutan Bambu Alu

Catatan; M Danial

 

Yang lain menggunakan parang yang sudah diasah tajam. Ada juga yang membelah batangan berongga itu, lalu menghaluskan menggunakan pisau.

Para pemuda itu merupakan anggota komunitas perajin bambu Desa Alu, Kecamatan Alu, Kabupaten Polewali Mandar.

Aktifitas itu dilakukan di sebuah “bangunan” sederhana dalam kawasan wisata alam yang dikenal dengan sebutan hutan bambu. Berukuran sekira 3 x 4 meter, terbuat dari bambu juga.

Kecuali atap dari daun rumbia. Mereka menyebutnya laboratorium bambu. Ya, laboratorium bambu di kawasan hutan bambu.

Di tempat tersebut, para pemuda perajin menghabiskan waktu membuat berbagai macam produk kerajinan berbahan bambu. Seperti bingkai cermin yang berbentuk unik, wadah minuman, tempat kue, hingga sisir bambu.

Produksinya dijual dengan harga bervariasi, sesuai jenis dan ukurannya. Mulai Rp40 ribuan sampai Rp120 ribu per unit.

Sepintas terlihat sederhana, tapi sesungguhnya pekerjaan yang mereka tekuni tidak mudah. Harus dilakukan dengan sangat teliti.

Mulai dari memilah bambu pilihan yang sesuai kebutuhan untuk sebuah produk, memotong, membelah, sampai memasang atau menyambung satu dengan yang lain, semua dilakukan dengan sangat hati-hati.

Ketua Komunitas Perajin Desa Alu, Basuki mengatakan, pembuatan hasil kerajinan bambu oleh pemuda setempat mulai sejak dua tahun lalu.

Diinisiasi oleh Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) melalui Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM). “Idenya dari pihak Unsulbar melalui PPDM di desa kami, sebagai desa binaan,” jelas Basuki.

Hutan bambu Alu yang luasnya sekira 22 hektar, dikenal sebagai lokasi wisata alam sejak beberapa tahun lalu. Telah digunakan untuk berbagai kegiatan oleh beberapa pihak sambil berwisata di alam terbuka di tengah hutan bambu.

Sebelumnya, telah berdiri beberapa bangunan sederhana dari bambu, seperti tempat pertemuan dan gazebo. Namun, sebagian besar sudah rusak, bahkan hilang disapu banjir.

“Beberapa bangunan bambu yang ada, hampir semua habis tersapu banjir. Yang masih tersisa, kebanyakan sudah rusak. Ada juga yang sudah lapuk,” tutur Basuki.

Namun, kawasan itu sebagai lokasi ekowisata cukup menarik. Apalagi, berada di sisi sungai Mandar yang bermuara ke Tinambung. Menjangkaunya relatif mudah juga.

Tidak jauh dari lapangan sepakbola Desa Alu. Jalanan ke sana melalui jalan rabat beton, meski mulai banyak yang rusak.

Dosen Unsulbar yang menjadi Pembina PPDM, Hadijah menjelaskan, pembinaan pemuda perajin bambu di desa Alu merupakan skin pengabdian masyarakat melalui pengembangan desa mitra.

“Dimulai dari tahun 2019-2021, fokus pada kampung Alu sebagai ekowisata plus kerajinan bambu,” jelas Hadijah, beberapa waktu lalu.

Meski dilakukan sejak 2019, proses produksi kerajinan di laboratorium bambu mulai aktif pada 2020. Pembinaan tidak hanya sebatas kepada pemuda perajin setempat. Tapi juga kepada pemuda dan mahasiswa yang terdampak pandemi Covid-19.

Salah satu perajin, Ronaldi menyatakan bersyukur menjadi binaan laboratorium bambu tersebut, karena menjadi wadah baginya menyalurkan kreatifitas.
Selain itu, menjadi lapangan kerja bagi warga setempat. Ronaldi dan kawan-kawan, mengaku bergabung sejak kurang lebih tiga bulan. Namun, merasakan manfaatnya karena bisa fokus untuk berkreasi.

Di depan lapangan sepakbola Alu, di samping gerbang terdapat bangunan galeri produk kerajinan yang dihasilkan pemuda perajin di laboratorium hutan bambu.
Nah, yang berminat silakan ke hutan bambu Alu. Menikmati panorama alam yang indah sambil menambah koleksi hasil kerajinan bambu. (*)

Melihat Laboratorium Hutan Bambu Alu
ASRI. Suasana salah satu sudut laboratorium hutan bambu di Desa
Alu, Kecamatan Alu, Polewali Mandar. (FOTO: M DANIAL)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *