Sawit Memacu Perekonomian Sulbar

  • Whatsapp
Sawit Memacu Perekonomian Sulbar
HERMANTO, Kepala Perwakilan BI Sulbar

MAMUJU, SULBAR EXPRESS – Perekonomian Indonesia terus mengalami pertumbuhan di triwulan III 2021 sebesar 3,5 persen secara year over year (yoy). Demikian pula untuk Sulbar.

Kepala Perwakilan BI Sulbar, Hermanto menjelaskan Perekonomian Sulawesi Barat juga mengalami pertumbuhan positif sebesar 2,54 persen tahun ini dibanding periode sama di tahun sebelumnya (yoy). Triwulan sebelumnya dengan nilai sebesar 5,07 persen.

“Ekonomi Sulawesi Barat pada triwulan ini sedikit tertahan. Pertumbuhan positif ekonomi terjadi pada hampir di seluruh sektor Lapangan Usaha (LU),” tulis Hermanto dalam keterangannya, Selasa 9 November.

Sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah konstruksi sebesar 15,73 persen, industri pengolahan 14,24 persen, pertambangan dan penggalian 11,53 persen.

“Namun ada beberapa sektor yang mengalami kontraksi dengan yang terbesar dialami oleh administrasi pemerintahan sebesar -21,08 persen diikuti jasa perusahaan -0.81 persen dan jasa pendidikan -0,52 persen,” beber Hermanto.

Itu berdasarkan urutan proporsi kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi menurut Lapangan Usaha (LU) dalam struktur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 3 (tiga) teratas yakni LU pertanian dan LU Perdagangan masing-masing tumbuh sebesar 3,01 persen (yoy) serta LU Industri Pengolahan tumbuh sebesar 14,24 persen (yoy).

Sementara menurutnya, faktor pendorong pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran adalah Konsumsi Rumah Tangga sebesar 1,42 persen (yoy), Ekspor sebesar 3,98 persen (yoy), dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 9,62 persen (yoy).

“Pertumbuhan lapangan usaha pertanian didorong oleh peningkatan produksi kelapa sawit dan produksi ikan tangkap,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, meski dibeberapa produksi pertanian mengalami penurunan seperti produksi padi, jagung, dan hasil peternakan mengalami penurunan, namun karena ada adanya peningkatan pada produksi hasil olahan kelapa sawit, yakni Crude Palm Oil (CPO) sejalan dengan peningkatan produksi kelapa sawit sebagai bahan baku sehingga mampu menopang pertanian Sulbar.

Menurutnya, selain pada sektor pertanian, peningkatan juga terjadi pada industri lain seperti industri percetakan, bahan kimia, furnitur, dan industri barang logam.

“Namun di sisi lain, industri makanan dan minuman sebagai kelompok industri dengan pangsa terbesar pada perekonomian Sulawesi Barat justru mengalami penurunan produksi,” ujarnya.

Hermantor menambahkan, kenaikan output pada LU Pertanian maupun LU Industri Pengolahan telah turut mendorong peningkatan pertumbuhan pada LU Perdagangan.

Disamping itu, pertumbuhan LU Perdagangan ditopang penjualan kendaraan bermotor sebagai respon kebijakan pembebasan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPBM). Kemudian, akselerasi pembangunan infrastruktur pascagempa dan realisasi proyek pemerintah pada triwulan III memiliki dampak positif terhadap pertumbuhan LU Konstruksi.

Dari sisi pengeluaran, terjadi peningkatan konsumsi Rumah Tangga seiring momentum HBKN Idul Adha dan tahun baru Islam.

Selanjutnya, peningkatan investasi diakibatkan oleh pembangunan kembali pascagempa dan realisasi belanja modal pemerintah.

Sementara peningkatan Ekspor didorong oleh peningkatan produksi CPO dan produk turunan yang mendorong ekspor di Sulbar.

Pihak BI Sulbar memperkirakan, pertumbuhan ekonomi Sulbar secara keseluruhan di tahun ini akan mengalami kemajuan jika dibanding 2020. (idr/chm)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *