Diguncang Dua Kali Gempa Swarm, Masyarakat Mamasa Jadi Tanggap Mitigasi

  • Whatsapp

Oleh:
Abraham F. Mustamu, S.Si., M.M.

PMG Madya BBMKG Wilayah IV Makassar

 

Mamasa adalah nama sebuah kecamatan, kota, dan juga nama sebuah kabupaten yang wilayahnya merupakan bagian dari wilayah pemerintahan Provinsi Sulawesi Barat. Mamasa yang dimaksudkan disini adalah Kabupaten Mamasa dimana wilayahnya memiliki formasi daratan yang terbentuk dalam variasi topografi berupa perbukitan, lembah, dan dataran. Struktur geologi Mamasa umumnya tersusun dari batuan heterogen yang berarti secara fisis memiliki jenis batuan yang beragam. Kemudian keberadaan tektonik Mamasa telah diketahui terdapat sesar mendatar yang mengiri dan yang dikenal dengan nama Sesar Saddang. Dinamika Sesar Saddang inilah yang menjadi faktor utama penyebab terjadinya peristiwa-peristiwa gempa bumi di wilayah Mamasa.

Alam Mamasa yang memiliki bentuk topografi berliku dan penuh tantangan, maka untuk melakukan aktivitas sosial dan ekonomi haruslah bersesuaian dengan keberadaan lingkungan alamnya. Masyarakat Mamasa yang berkultur aneka-ragam, umumnya melakukan aktivitas sebagai mata pencaharian sehari-hari dengan bertani, berkebun, mengelola hasil hutan, dan berdagang. Pola dan gaya kerja yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat Mamasa berlangsung lama bahkan menjadi budaya lokal yang berarti secara langsung dan tak langsung telah beradaptasi juga dengan alam Mamasa.

Wilayah kota Mamasa dan sekitarnya pada hari Minggu tanggal 4 November 2018 pukul 06.14.24 wita pagi hari, tiba-tiba dikagetkan dengan adanya guncangan akibat suatu peristiwa gempa bumi yang tercatat berintensitas III – IV MMI. Masyarakat Mamasa yang belum pernah mengalami langsung kejadian suatu gempa bumi yang dapat dirasakan, merespon dengan kepanikan dan ketakutan yang serius. Apalagi dua hari berikutnya diguncang lagi pada dini hari pukul 02.35.53 wita dengan intensitas yang sedikit lebih kuat yakni IV MMI, dan masih berlanjut beberapa getaran yang dapat dirasakan dengan nilai intensitas yang bervariasi namun tidak lebih dari IV MMI.

Guncangan awal yang diikuti beberapa guncangan getaran gempa, sebenarnya merupakan fenomena peristiwa gempa swarm yang karakteristik kejadiannya terjadi secara beruntun. Gempa swarm Mamasa ini adalah rentetan kejadian gempa yang dimulai sejak awal November 2018 hingga awal Januari 2019 yang jumlah kejadiannya dapat teranalisis parameter gempanya oleh PGR IV di Balai Besar BMKG Wilayah IV Makassar berjumlah 1100-an gempa. Kemudian gempa-gempa swarm Mamasa yang dapat dirasakan getarannya oleh masyarakat lokal Mamasa sebanyak 300-an gempa dengan intensitas dikisaran II MMI hingga IV MMI.

Akibat guncangan yang terjadi hampir setiap hari, pemerintahan Kabupaten Mamasa sangat kesulitan mengatasi warganya yang sudah hanyut dalam suasana kepanikan dan ketakutan yang luar biasa sehingga cukup membingungkan untuk bisa dikendalikan. Meskipun sudah ada informasi resmi dari BMKG namun masyarakat tetap pada pendiriannya yang pada prinsipnya berupaya agar tetap selamat, misalnya secara spontanitas mengungsi ke tempat-tempat yang relatif lebih aman. Situasi ini tentunya membuat aktivitas sosial dan ekonomi lokal Mamasa menjadi lumpuh total. Setelah beberapa minggu tidak lagi dirasakan getaran atau guncangan gempa, maka pemerintah bersama rakyat Mamasa mulai melakukan upaya pembenahan dan pemulihan paska gempa swarm Mamasa yang sudah terjadi pada bulan-bulan di akhir tahun 2018.

Berikutnya, pada tahun 2021 di bulan Juli tepatnya hari Rabu pagi tanggal 21 Juli 2021 masyarakat Mamasa kembali merasakan getaran gempa dengan intensitas III MMI. Guncangan ini tidak lagi membuat masyarakat panik dan menimbulkan rasa takut secara berlebihan dalam merespon fenomena yang sudah tidak asing lagi. Akan tetapi masyarakat juga tetap waspada dan tenang dalam bersikap terhadap masih terdapatnya beberapa gempa yang dapat dirasakan. Berakhirnya gempa swarm ini diketahui sesuai pantauan dan informasi dari BMKG Wilayah IV Makassar yang mengatakan bahwa pada 19 Agustus 2021 sudah tidak terdeteksi lagi sinyal getaran gempa Mamasa. Dengan demikian gempa swarm Mamasa periode Juli-Agustus 2021 tidak signifikan mengganggu kelancaran aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat Mamasa. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat lokal sudah lebih memahami bagaimana harus bersikap atas adanya gempa-gempa yang dapat dirasakan yang tidak potensi merusak bangunan rumah dan infrastruktur secara langsung atau efek primer gempa. Sebenarnya yang terpenting dalam edukasi kepada masyarakat Mamasa adalah efek sekunder gempa seperti terjadi longsor yang rawan dan bisa terjadi akibat guncangan gempa di wilayah Mamasa.

Dari sisi tektonik, sebaran pusat-pusat gempa swarm Mamasa yang berkekuatan M > 5,0 untuk peristiwa tahun 2018 dan tahun 2019 segmen-segmen sesar berada pada posisi arah tenggara dari Kota Mamasa. Hal ini mengidentifikasi bahwa segmen sesar dari Sesar Saddang yang signifikan dimensinya terletak di areal beberapa kilometer dari arah Tenggara Kota Mamasa.

Sisi positif dari gempa swarm Mamasa bagi masyarakat lokal adalah pengalaman atas guncangan-guncangan gempa bumi yang pernah dialami membuahkan pemahaman teknik praktis untuk beradaptasi efektif pada peristiwa gempa bumi. Kemudian sebagai pengetahuan bagi masyarakat bahwa kegempaan di Mamasa dapat tetap terjadi karena adanya aktivitas tektonik lokal yang aktif sebagai pemicu. Hal lain tentang gempa bumi yang harus diketahui, bahwa kejadian gempa bumi hingga saat ini belum dapat diprediksi, sehingga sewaktu-waktu dapat berulang kembali mengguncang Kota Mamasa dan sekitarnya. Pemahaman dan pengetahuan yang lebih lagi bagi masyarakat agar lebih efektif dan tepat dalam bertindak mitigasi terhadap risiko gempa bumi. Sarana edukasi masyarakat dapat diperoleh langsung secara mandiri melalui on-line dan terkadang ada penyelenggaraan pelatihan off-line oleh suatu institusi resmi seperti BMKG atau BPBD lokal dengan protokol kesehatan yang ketat.(*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *