Hadapi Cuaca Ekstrem, Koordinasi Harus Diperkuat

  • Whatsapp
Hadapi Cuaca Ekstrem, Koordinasi Harus Diperkuat
Pengendara harus meningkatkan kewaspadaan saat melintasi Trans Sulawesi, tepatnya poros Majene-Mamuju yang belakangan ini kerap dilanda longsor, utamanya daerah Tubo Sendana Majene dan Takandeang Mamuju. Gambar direkam belum lama ini. (DOK SULBAR EXPRESS.)

MAMUJU, SULBAR EXPRESS – Menghadapi kondisi cuaca buruk di akhir tahun ini, Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar mengimbau seluruh masyarakat selalu waspada.

Itu berdasarkan peringatan dini yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatlogi dan Geofisika (BMKG) terkait cuaca ekstrem pada Desember ini sampai Februari 2022.

Cuaca ekstrem akhir tahun 2021 berupa La Nina berpotensi mengakibatkan curah hujan di atas normal. Bisa memicu berbagai bencana, seperti; banjir, tanah longsor, angin kencang berkorelasi juga terhadap adanya gelombang tinggi.

Gubernur meminta instansi terkait selalu siaga dan mempersiapkan kebutuhan untuk memberi pertolongan kepada masyarakat yang tertimpa bencana.

Hadapi Cuaca Ekstrem, Koordinasi Harus Diperkuat
Gubernur Sulbar, Ali Baal Masdar saat bertemu Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sulbar, Amri Ekasakti di kantor merah Putih Pemrpov Sulbar Rabu 15 Desember 2021. (IST)

“Saya mengimbau seluruh masyarakat selalu waspada menghadapi kondisi cuaca sekarang, untuk mencegah terjadinya korban. Saya berharap juga kepada instansi yang bertugas untuk penyelamatan dari bencana, supaya selalu siaga dengan mempersiapkan kebutuhan untuk memberi pertolongan kepada masyarakat,” kata Ali Baal, Rabu 15 Desember.

Ia mengimbau kepada para nelayan, agar lebih berhati-hati dengan cuaca ekstrem dan gelombang tinggi. “Jangan memaksakan diri melaut dengan kondisi cuaca seperti sekarang,” ucapnya.

Termasuk kepada masyarakat yang berdomisili di pesisir pantai agar selalu waspada terhadap fenomena ombak tinggi.

Sedangkan yang berada di sekitar lereng gunung waspada terhadap longsor termasuk yang berada di sekitar aliran sungai, perlu waspada dengan luapan sungai.

“Mari selalu berdoa kepada Allah SWT supaya kita dijauhkan dari musibah. Mudah-mudahkan cuaca segera kembali normal, masyarakat bisa kembali bekerja dengan tenang, dan kita bisa meminimalkan dampak cuaca ekstrem,” imbuh gubernur.

Gubernur juga menekankan kepada Kepala BPBD Sulbar Amri Ekasaksi agar selalu siaga dan segera memberi perhatian terhadap kondisi akibat cuaca ekstrem.

“Segera koordinasi dengan Basarnas dan (BPBD) kabupaten memberi perhatian terhadap dampak cuaca ekstrem,” jelasnya.

Ia pun menegaskan, pentingnya peranan semua pihak bersungguh-sungguh menjaga keamanan hutan dan memelihara lingkungan dari kerusakan yang makin parah.

Amri Ekasakti mengaku akan menindaklanjuti hasil pertemuan bersama gubernur sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi cuaca buruk.

Sebelumnya, BMKG memprediksi sejumlah daerah berpotensi hujan lebat disertai kilat atau petir dan angin kencang pada 18-22 Januari ini. Masyarakat perlu waspada.

Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono Rahadi Prabowo mengungkapkan, kondisi itu sebenarnya bukanlah puncak musim hujan. “Dibilang kemungkinan puncak belum, karena kami juga masih terus memonitor perkembangannya,” ujarnya seperti diberitakan JawaPos.com, akhir pekan kemarin.

Mulyono menjelaskan, potensi adanya curah hujan tinggi memang terjadi pada akhir Januari dan awal Februari. Apalagi, di Indonesia sedang memasuki musim penghujan. “Diprediksi memang sampai akhir Februari atau awal Maretlah paling tidak,” tambah Mulyono.

Merujuk data BMKG, sejumlah daerah yang berpotensi mengalami curah hujan tinggi, ada di wilayah Sumatera, daerah yang diprediksi memiliki curah hujan tinggi adalah Aceh, Sumatera Utara, Bengkulu, Sumatera Selatan, dan Lampung.

Sedangkan di Pulau Jawa, curah hujan merata di seluruh provinsi dari Banten hingga Jawa Timur. Kondisi serupa juga berlangsung di Bali, NTB, NTT, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, Papua.

Karena itu BMKG mengimbai masyarakat untuk waspada dan berhati-hati akan dampak peningkatan potensi hujan mulai pertengahan Januari 2018. Sebab, curah hujan tinggi juga dibarengi meningkatnya potensi bencana alam seperti banjir, longsor, genangan, banjir bandang dan pohon tumbang.

BMKG juga mencatat adanya kenaikan tinggi gelombang laut. Di wilayah Perairan Pulau Enggano, Perairan Barat Lampung, Selat Sunda bagian Selatan, Periaran Banten, hingga Perairan Selatan Jawa Timur, Bali dan Nusa Tenggara Barat diperkirakan ketinggian gelombang antara 2 sampai 4 meter. (idr/chm)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *