Komitmen Memacu Produktifitas Pertanian Sulbar

  • Whatsapp
Komitmen Memacu Produktifitas Pertanian Sulbar
Anggota DPR RI Dapil Sulbar, Suhardi Duka meresmikan unit penggilingan padi di Desa Katumbangan Lemo, Polman, Rabu 22 Desember. SDK didampingi Legislator Sulbar, Syamsul Samad. (IST)

POLMAN, SULBAR EXPRESS — Komoditas sarang walet di Sulbar sangat potensial jadi produk ekspor unggulan, selain kakao dan sawit.

Olehnya, Anggota DPR RI, Suhardi Duka mendorong agar para pengusaha walet tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tapi juga mengutamakan kualitas.

“Kalau kualitas bagus maka tentu harganya akan naik, pastinya pendapatan warga juga akan meningkat,” jelas pria yang akrab disapa SDK saat menjadi pembicara pada bimtek ekspor Sarang Burung Walet (SBW) di Polewali, Rabu 22 Desember 2021.

Agenda ini diharap meningkatkan pemahaman puluhan pengusaha burung walet di Kabupaten Polman, sebagai upaya mendukung program unggulan pemerintah melalui Kementerian Pertanian, yaitu Gerakan Tiga Kali Lipat Ekspor (Gratieks).

Pihak Karantina Pertanian Sulawesi Barat sebagai Koordinator Gratieks di Sulbar diharap terus berupaya memberikan pendampingan dan memfasilitasi pelaku SBW untuk meningkatkan produktifitas hasil pertanian yang berorientasi ekspor.

Termasuk komoditas SBW dengan melakukan sinergitas berbagai pemangku kebijakan, baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, pelaku usaha dan petani.

Sinergi dan kolaborasi untuk pengembangan komoditi lokal juga menjadi penekanan Kepala Karantina Pertanian Sulbar, Agus Karyono usai kegiatan, kemarin.

Menurut Agus, salah satu upaya yang dilakukan adalah berkolaborasi dengan Anggota Komisi IV DPR RI Daerah Pemilihan Sulbar, Suhardi Duka, untuk menyelenggarakan bimbingan bagi petani, sebagai bagian dari upaya peningkatan produktifitas SBW berorientasi ekspor.

“Diharapkan mampu meningkatkan pemahaman bagi peternak walet terkait budidaya, peningkatan produksi, serta prosedur ekspor dari negara tujuan,” paparnya.

“Kemudian mencari solusi terhadap permasalahan-ekspor komoditas SBW yang berasal dari Kabupaten Polman,” imbuh Agus.

Dijelaskan, Sistem Automatisasi Badan Karantina Pertanian (IQ-Fast) menjunjukkan bahwa lalu lintas SBW yang keluar dari Sulbar dalam tiga tahun terakhir, mencapai 5,42 ton.

“Dari semua kabupaten di Sulawesi Barat. Terutama Polewali Mandar sebagai sentra SBW dengan jumlah rumah walet sekitar 1.200 unit,” jelasnya.

Agus melanjutkan, harga SBW dalam kondisi kotor hanya mampu memenuhi pasar dalam negeri dengan nilai ekonomis mencapai Rp 11,5 Juta dan nilai jual akan melonjak apabila SBW mampu memenuhi kriteria pasar internasional karena nilai ekonomisnya mencapai Rp 20 juta hingga Rp 30 juta.

SDK RESMIKAN
PENGGILINGAN PADI

Rabu 22 Desember, Suhardi Duka juga menyempatkan diri meresmikan mesin penggilingan padi atau Rice Milling Unit (RMU) di Desa Katumbangan Lemo, Polman.

RMU di Desa Katumbangan Lemo, Kecamatan Camalagian, Polman, punya kapasitas besar. Mampu bekerja hingga 1,5 Ton per jam.

SDK yang memfasilitasi pengadaan MRU, menyebut beberapa keuntungan yang dapat diperoleh petani dengan beroperasinya fasilitas penggilingan tersebut.

“Misalnya kita beli gabah lalu dipabrik di sini, terus kita jual beras. Atau misalnya kalau masyarakat ingin bawa ke sini, saya kira ada hitungan pembagiannya. Misalnya gabahnya masyarakat tidak perlu dibeli, sisa digilingkan di sini lalu diatur sesuai dengan aturan yang berlaku di masyarakat,” urainya.

Ketua Demokrat Sulbar itu berharap fasilitas tersebut bisa dimanfaatkan dengan baik sehingga betul-betul membantu para petani setempat.

SDK menekankan, sudah menjadi kewajiban bagi seorang wakil rakyat untuk berkontribusi pada pertumbuhan perekonomian masyarakat di daerahnya.

“Tahun ini, sudah ada sejumlah hand tracktor, RMU, combine, serta beberapa bantuan lainnya yang sudah kami salurkan. Itu semua sudah kita bagikan ke beberapa wilayah kabupaten di Sulbar ini,” imbuhnya.

Di tempat sama, Anggota DPRD Sulbar Dapil Polman, Syamsul Samad turut bersyukur dengan adanya fasilitas penunjang produktifitas pertanian di Campalagian, Polman.

“Beliau datang bukan hanya untuk omong kosong. Ini adalah perjuangan beliau. Ini aspirasinya pak SDK,” beber Syamsul.

Kepada masyarakat Polman, Ketua Komisi I DPRD Sulbar ini berharap kontribusi dari wakil rakyat Sulbar tersebut tak ditafsir secara serampangan. Apalagi jika mengait-ngaitkannya dengan warna politik. Tak relevan untuk diributkan.

“Tidak ada lagi itu perseteruan politik. Yang ada adalah sama-sama kita bangun daerah ini. Tugas kita adalah membangun daerah,” tandas Syamsul yang juga aktif dalam pembinaan sepak bola daerah. (ali/chm)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *